Aug 02, 2020 21:44 Asia/Jakarta
  • dolar
    dolar

Langkah AS menggunakan dolar sebagai alat menekan negara lain saat ini memicu reaksi internasional untuk mengurangi ketergantungannya terhadap dolar, sebagaimana dilakukan Rusia dan Cina, dua rival internasional Amerika Serikat.

Setelah beberapa tahun negosiasi antara Rusia dan Cina untuk menyisihkan dolar AS dalam alat tukar perdagangannya, kedua negara sepakat untuk mengurangi penggunaan dolar pada kuartal pertama tahun 2020 menjadi kurang dari 50 persen untuk pertama kalinya. 

Sebelumnya, pada tahun 2016, dolar menyumbang lebih dari 90 persen alat tukar perdagangan Rusia dan Cina. Berdasarkan data statistik, 54 persen perdagangan non-dolar kedua negara saat ini dalam mata uang yuan, euro, dan ruble dengan proporsi 17 persen yuan, 30 persen euro dan 7 persen ruble.

 

Yuan

 

Amerika Serikat mengeksploitasi ketergantungan perusahaan dan bank dan sistem moneter internasional terhadap dolar demi memaksa negara lain supaya memenuhi tuntutannya atau mencegah tindakan yang tidak sesuai dengan keinginan Washington.

Kontra skema perang dagang yang dipimpin AS dengan Cina terhadap langkah Washington sejak 2018 untuk melawan instrumen keuangan AS, terutama dolar, serta pengenaan sanksi yang luas terhadap Rusia berdasarkan Undang-Undang CAATSA, serta sanksi lainnya.

 

ruble

 

Beijing dan Moskow memutuskan untuk mengambil langkah-langkah efektif demi mengurangi ketergantungan ekonomi dan sektor keuangan terhadap dolar AS. Pada Januari 2020, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengumumkan bahwa Moskow sedang mengejar kebijakan pengurangan peran dolar secara bertahap dan menggantikannya dengan mata uang lokal.

Moskow dan Beijing meyakini penggunaan dolar oleh AS untuk menyerang negara lain, meskipun dapat mencapai tujuan Washington dalam jangka pendek, tapi penerapannya dalam jangka panjang akan merugikan Amerika Serikat.

Tampaknya, langkah koalisi Rusia dan Cina sebagai dua kekuatan politik dan ekonomi paling penting di dunia akan mendorong negara-negara lain mengikuti pola yang sama, sehingga secara signifikan menekan peran dolar dalam sistem moneter global. Pada Oktober 2018, Presiden Rusia Vladimir Putin secara tegas mengumumkan rencana dedolarisasi, dan memperkuat peran rublr dalam transaksi internasional.

Menurut pendekatan AS, kita sekarang secara bertahap menyaksikan pembentukan resistensi global terhadap kebijakan dan tindakan Washington, serta upaya berkelanjutan untuk menghilangkan dolar sebagai mata uang internasional yang dominan. Indikasi ini diakui sendiri oleh para pejabat ekonomi negara-negara Barat.

Gubernur Bank Sentral Inggris, Mark Carney baru-baru mengatakan, dominasi dolar terhadap sistem moneter global telah meningkatkan kerentanan negara-negara dunia terhadap suku bunga rendah dan pertumbuhan AS yang melemah.

Sejatinya, cepat atau lambat, dolar akan ditinggalkan sebagai mata uang dominan sistem moneter global karena terbukti merugikan banyak negara dunia.(PH)

 

Tags

Komentar