Aug 04, 2020 18:29 Asia/Jakarta
  • Uni Eropa
    Uni Eropa

Negara-negara anggota Uni Eropa selama hari-hari ini mengalami kesulitan ekonomi dan sosial. Sekaitan dengan ini, beberapa waktu lalu di sebuah sidang panjang dan berlangsung selama beberapa hari, akhirnya dicapai kesepakatan terkait alokasi bantuan 750 miliar Euro kepada negara anggota.

Kini setelah beberapa pekan diratifikasinya alokasi bujet ini, Menteri urusan Eropa Prancis Clément Beaune memperingatkan bahwa pemerintah anggota Uni Eropa yang melemahkan hak-hak mendasar seperti kesetaraan dan kebebasan media harus siap menghadapi sanksi finansial dan pembatasan dari bujet 750 miliar Euro yang dialokasikan untuk membebaskan diri dari dampak destruktif wabah Corona.

Petinggi Eropa ketika sibuk menetapkan syarat untuk bantuan Uni Eropa kepada negara anggota khususnya negara-negara lemah, selama beberapa tahun terakhir kondisi ekonomi dan politik di mayoritas negara anggota organisasi ini telah mengalami perubahan dan kesenjangan antara negara kaya dan miskin semakin lebar.

Munculnya gerakan protes seperti rompi kuning di Prancis sebagai salah satu negara kaya anggota Uni Eropa merupakan alasan paling nyata untuk klaim ini. Sementara di negara-negara Eropa timur, termasuk Rumania dan Hongaria, kondisi ekonominya juga mengalami krisis.

Keluarnya Inggris dari Uni Eropa dan dampak finansialnya, perubahan politik di berbagai negara Eropa, perubahan global dan regional, perubahan hukum dan ketentuan sosial, asuransi kesehatan serta pensiunan mendorong banyak negara Eropa mengalami banyak kesulitan ekonomi termasuk kemiskinan dan pengangguran. Krisis Corona dan kerugian ekonomi akibat pendemi ini selama beberapa bulan lalu juga membuat kondisi semakin parah.

Komisaris Ekonomi Uni Eropa Paolo Gentiloni mengatakan, Uni Eropa mengalami resesi eknomi paling dalam sepanjang sejarah dan dengan adanya pandemi Corona, aktivitas ekonomi di negara anggota mendadak turun sepertiga.

Sejatinya tidak adanya dukungan yang tepat terhadap negara lemah dan miskin di puncak pandemi Corona, tidak adanya akses terhadap sumber finansial yang cukup, kondisi sebagian negara Eropa yang sendirian di isu penerimaan imigran, sebagian undang-undang yang mengikat dan keras terhadap seluruh negara anggota, berkuasanya kubu sayap kanan di Eropa serta keluarnya Inggris dari Uni Eropa membuat sebagian negara anggota tidak mendapat dukungan yang cukup. Kondisi ini membuat sebagian anggota mulai berbicara mengenai keluar dari organisasi ini. Hal tersebut jelas mengancam persatuan Uni Eropa.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron seraya memperingatkan pemimpin Eropa terkait terancamnya sejumlah penting sendi Uni Eropa termasuk perjanjian Schengen menjelaskan, ketika negara-negara Eropa tidak menunjukkan solidaritas yang diperlukan, maka sendi-sendi utama Uni Eropa seperti zona tanpa batas Schengen akan hancur.

Di kondisi ini, paket insentif kepada negara anggota mulai digulirkan, paket yang diratifikasi setelah pembahasan panjang di sidang petinggi organisasi ini serta terjadi pertentangan yang cukup banyak. Namun kini negara kaya masih memberi garis dan persyaratan kepada negara miskin untuk menerima paket ini.

Sejatinya negara-negara kaya Eropa menjadikan paket insentif ini sebagai kesempatan untuk menentukan syarat bagi negara lemah Uni Eropa dan menjadikan mereka berada di bawah kendalinya yang selain menjaga persatuan organisasi ini juga mencegah mereka memberontak terhadap Uni Eropa. Sekaitan dengan ini, isu sosial dan HAM serta demokrasi menjadi alasan.

Clément Beaune mengatakan, pemerintahannya menginginkan mekanisme kuat supremasi hukum di mana penerimaan dana miliaran Euro organisasi ini dengan syarat penghormatan terhadap nilai-nilai mendasar.

Meski petinggi Eropa menjadikan persatuan dan menjaga kebijakan multilateral sebagai acuan utamanya, namun sepertinya dampak potensial penerapan ketentuan keras seperti ini dapat menambah ketidakpuasan, munculnya protes dan pada akhirnya friksi dan perpecahan lebih besar di tubuh Uni Eropa. Masalah ini untuk jangka panjang selain dapat menimbulkan jurang lebih lebar antara negara miskin dan kaya di Eropa, juga membuat Uni Eropa menghadapi ancaman serius. (MF)

 

Tags