Aug 08, 2020 11:54 Asia/Jakarta
  • Presiden Donald Trump dan Brian Hook.
    Presiden Donald Trump dan Brian Hook.

Pemerintahan Trump menerapkan sanksi yang paling keras terhadap Republik Islam Iran sebagai bagian dari kampanye tekanan maksimum. Namun sinyal kegagalan dari kebijakan ini semakin tampak nyata dari waktu ke waktu.

Seorang pejabat kunci yang bertugas menjalankan kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran baru-baru ini mengundurkan diri. Brian Hook, Ketua Kelompok Aksi Iran di Departemen Luar Negeri AS memutuskan mundur. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo secara resmi mengonfirmasi berita pengunduran diri Hook melalui pesan Twitter pada Kamis lalu.

“Saya berterima kasih kepada Perwakilan Khusus Brian Hook atas pengabdiannya selama lebih dari tiga tahun di Departemen Luar Negeri dan pemerinahan Trump. Ia sedang pindah ke sektor swasta. Dia adalah seorang anggota tim yang bernilai dalam kepemimpinan saya,” tulis Pompeo.

Pompeo telah menunjuk Wakil Khusus AS untuk Urusan Venezuela, Elliott Abrams untuk menggantikan Hook.

Keputusan tiba-tiba yang dibuat oleh Hook telah mengejutkan banyak pihak. Meskipun kasus pengunduran diri atau pemecatan pejabat selama masa pemerintahan Trump sudah menjadi hal biasa, tetapi selama ini tidak ada desas-desus bahwa Hook akan mundur. Oleh sebab itu, keputusannya mengundang tanda tanya dari banyak pihak.

Ada berbagai alasan yang diduga menjadi penyebab pengunduran diri Hook. Menlu AS berkilah bahwa Hook akan bekerja di sektor swasta, tetapi ini hanyalah sebuah alasan yang dibuat-buat dan untuk menjustifikasi opini publik Amerika.

Beberapa analis percaya bahwa Hook memutuskan mundur karena gagal mencapai tujuan yang ditetapkan Presiden Donald Trump dalam kebijakan kampanye tekanan maksimum terhadap Tehran. Hook tampaknya telah diminta dengan hormat untuk mundur sebelum ia dipecat.

Menjelang pilpres AS pada November 2020, Trump tidak memiliki prestasi yang bisa dibanggakan dalam kebijakan luar negeri, terutama kebijakannya terhadap Iran yang bertujuan memaksa Tehran agar memenuhi tuntutan-tuntutan ilegal Washington. Kebijakan tekanan maksimum telah gagal, dan pada saat yang sama Iran tampil semakin kuat dari waktu ke waktu dan kekuatan nasionalnya juga meningkat.

“Selama bertahun-tahun kita menyaksikan bahwa kampanye tekanan maksimum tidak hanya gagal membendung Iran, tetapi ini justru membuat mereka menjadi pemerintah yang lebih nekad dan provokatif,” kata Daniel L. Davis, anggota senior di Pusat Prioritas Pertahanan AS.

Tentu saja, Trump berusaha menghindari kritik dan menyalahkan pejabat lain di pemerintahannya atas kegagalan kebijakan tekanan maksimum. “Hook diminta mengundurkan diri untuk bertanggung jawab atas kegagalan strategi Washington melawan Tehran,” tulis The Washington Post pada hari Jumat (7/8/2020) mengutip seorang mantan pejabat senior pemerintah AS.

Pejabat yang berbicara secara anonim itu menjelaskan bahwa Iran telah melangkahi batasan pengayaan dan penyimpanan uranium serta pengembangan sistem pasokan.

“Situasi saat ini lebih buruk dari masa sebelum AS keluar dari perjanjian nuklir JCPOA dan Iran secara luas meningkatkan tindakan buruknya. Jika menurut Anda strategi tekanan maksimum berhasil, saya tidak tahu mengapa Hook harus dipecat,” ujarnya kepada The Washington Post.

“Bahkan kubu ekstrem kanan Amerika belum mengatakan bahwa strategi ini efektif melawan Iran. Terlebih, Iran telah mengurangi komitmen perjanjian nuklir dalam lima tahap setelah Eropa tidak memenuhi janji-janjinya,” kata pejabat tersebut.

Pada dasarnya, perlawanan luar biasa rakyat Iran terhadap sanksi-sanksi AS telah menyebabkan keputusasaan pemerintahan Trump dan kegagalan kampanye tekanan maksimum. Pengunduran diri Brian Hook merupakan bukti lain atas kegagalan kebijakan ini. (RM)

Tags

Komentar