Aug 09, 2020 08:13 Asia/Jakarta

Petinggi Amerika Serikat setiap tahun menjual senjata dan peralatan militer ke Arab Saudi senilai miliaran dolar. Sementara itu, eskalasi senjata militer Arab Saudi telah membuat banyak senator Amerika khawatir, bahkan mendorong sejumlah senator baik dari kubu Republik maupun Demokrat menggulirkan RUU yang menuntut pencegahan penjualan senjata ke sejumlah negara kawasan.

Chris Murphy, senator dari negara bagian Connecticut terkait hal ini mengatakan, Washington menenggelamkan sekutunya di Teluk Persia dengan senjata di mana hasilnya adalah munculnya perlombaan senjata di kawasan ini.

Senator Amerika di RUU yang diajukannya menuntut larangan penjualan drone yang dilengkapi senjata modern ke negara-negara yang tidak termasuk sekutu dekat Amerika. Israel, Selandia Baru, Korea Selatan dan Jepang bersama sekutu Amerika di NATO mendapat pengecualian dari draf ini.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejak berkuasa senantiasa menjual senjata dan peralatan militer kepada Arab Saudi, dan sekaitan dengan ini, ia menandatangani kontrak militer besar dengan Arab Saudi. Di sisi lain, Riyadh sendiri menjadikan pengobaran perang di kawasan sebagai kebijakannya. Agresi militer negara ini ke Yaman sampai kini masi terus berlanjut, agresi yang telah menewaskan dan menciderai ribuan orang.

Di sisi lain banyak organisasi internasional seperti Oxfam, Amnesty Internasional dan organisasi lainnya terus mendesak Amerika dan sekutunya untuk menghentikan penjualan senjata kepada Arab Saudi dan pihak-pihak yang menyerang Yaman. Faktanya mereka menuntut sanksi senjata kepada Arab Saudi.

Direktur eksekutif interim Oxfam, José María Vera meminta masyarakat dunia menghentikan penjualan senjata kepada Arab Saudi dan pihak-pihak yang terlibat konfrontasi di Yaman.

Namun begitu, Donald Trump senantiasa menganggap Arab Saudi sebagai sapi perah yang dapat diperah kapan saja demi kepentingan Washington. Sama seperti yang diungkapkan presiden Amerika ini bahwa ia tidak akan menghentikan penjualan senjata ke Riyadh karena kepentingan ekonomi.

Menurut laporan Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI), impor senjata Arab Saudi di tahun 2019 mencapai 3,67 miliar dolar dan mengalamai kenaikan sebesar 8,7 persen bila di banding dengan 3,38 miliar dolar di tahun 2015. Arab Saudi dengan anggaran militer sebesar 61,9 miliar dolar di tahun 2019 menempati posisi kelima.

Sekaitan dengan ini, Trump dengan mengobarkan perpecahan di antara negara kawasan masih tetap mengejar pendekatan Iranophobia dan memperkuat penjualan senjata kepada Riyadh.

Kebijakan Trump telah meningkatkan protes di dalam negeri. Banyak senator dan petinggi Amerika yang menentang pendekatan Trump terkait penjualan sanjata. Awal bulan Mei, Steve Linick, inspektur jenderal Kemenlu AS saat itu mengundurkan diri dari posisinya atas desakan Donald Trump. Hal ini terjadi atas permintaan Menlu Mike Pompeo dan kemudian terbongkar bahwa Linick tengah berada di fase terakhir penyidikan terkait isu apakah pemerintahan Donald Trump dengan mengumumkan pentingnya penjualan senjata ke Arab Saudi dengan menjustifikasi kondisi Iran, bertindak legal atau tidak.

Ryton, perusahaan senjata terbesar Amerika menekan DPR Amerika setelah anggota DPR berencana menghentikan penjualan senjata Amerika kepada Arab Saudi. Berdasarkan dokumen pemerintah AS, perusahaan Ryton setelah meletusnya perang di Yaman menjual senjata kepada Arab Saudi senilai tiga miliar dolar. Sejak dimulainya perang Yaman hingga kini, Ryton menandatangani 12 kontrak penjualan senjata senilai lima miliar dolar dengan Arab Saudi dan mitranya.

Sejumlah laporan terkait hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Amerika mengambil langkah-langkah untuk menghindari hukum dan larangan penjualan drone militer ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Donald Trump beberapa waktu lalu  menandatangani instruksi yang melonggarkan pembatasan ekspor drone militer ke negara lain. Berdasarkan keputusan ini, penjualan drone militer kepada pemerintah yang sebelumnya dilarang berdasarkan Rezim Kontrol Teknologi Rudal (MCTR) mulai terbuka lebar. Banyak yang menilai kebijakan ini demi upaya Trump untuk menjual lebih banyak senjata.

Kini meski senator Amerika dengan mengajukan RUU untuk mencegah penjualan senjata ke sejumlah negara kawasan Teluk Persia, termasuk Arab Saudi, namun sepertinya draf ini tidak akan mampu menghentikan penjualan senjata ke Riyadh. Pasalnya dari satu sisi, Arab Saudi adalah pembeli kontan senjata Amerika dan penjamin kepentingan perusahaan Amerika serta dari sisi lain, budak paling taat dan pelaksana kebijakan Amerika di kawasan Teluk Persia. (MF)

 

Tags

Komentar