Aug 11, 2020 09:39 Asia/Jakarta
  • Kerusuhan di Amerika
    Kerusuhan di Amerika

Seiring dengan meningkatnya bentrokan di Amerika Serikat antara aparat keamanan dan demonstran, jaksa agung negara ini mengkonfirmasi bahwa Amerika tengah dililit perang gerilya.

William Barr saat diwawancarai televisi Fox News mengatakan, AS menghadapi bentuk baru perang gerilya kota yang diarahkan oleh kubu sayap kiri yang haus kekuasaan.

Jaksa agung AS seraya menuding oposisi pemerintah menambahkan, “Mereka sejak awal berusaha memakzulkan presiden, mereka melakukan apa saja untuk melucuti Donald Trump atau melumpuhkan pemerintahannya.”

Jaksa Agung AS William Barr

Ini untuk pertama kalinya seorang petinggi senior Amerika mengakui adanya perang saudara di negara ini.

Saat ini lebih dari 70 hari dari bentrokan keras rasial di Amerika menyusul pembunuhan mengerikan George Floyd, warga kulit hitam oleh polisi kulit putih negara ini di kota Minneapolis.

Selama waktu tersebut, aksi protes semakin meningkat bahkan pejabat lokal untuk menanggulangi kerusuhan malam hari di kota Porland, negara bagian Oregon telah mengumumkan kondisi pemberontakan. Kebijakan keras Presiden Donald Trump dan pemerintah Federal Amerika bukannya berhasil meredam demonstrasi, tapi sebaliknya malah menjadi bahan bakar bagi kemarahan publik dan berujung pada kian kerasnya protes warga. Hal ini bahkan memaksa jaksa agung Amerika mengkonfirmasi adanya perang gerilya jalanan di negara ini.

Di sisi lain, petinggi pemerintah Amerika berusaha mencari kambing hitam dari kerusuhan jalanan dan menuding para perusuh adalah teroris dan sayap kiri. Padahal meluasnya aksi protes dan keragaman peserta demonstrasi menunjukkan kemarahan publik di Amerika atas kondisi yang ada.

Kemarahan ini pada awalnya sebuah protes atas perilaku rasis aparat keamanan, namun dengan cepat merembet ke isu lain seperti ketimpangan sosial, ekonomi dan protes atas kerusakan administrasi dan politik sistematis di negara ini.

Protes seperti ini telah ada di tengah masyarakat Amerika sejak beberapa dekade lalu dan terkadang meletus. Namun seiring dengan kondisi politik dan sosial di Amerika yang kian parah akibat berkuasanya presiden kontroversial serta pengobar tensi, Donald Trump, protes ini telah melampaui level rakyat dan meningkat menjadi gerakan radikal.

Dengan kata lain, seiring dengan munculnya indikasi kebuntuan politik untuk menyelesaikan tensi sosial, aparat keamanan dan demonstran memiliki sikap ekstrim di mana sejumlah kota di Amerika menjadi ajang perang jalanan.

Senator Ron Wyden dari negara bagian Oregon mengatakan, “Trump mengirim perwira federal ke Oregon untuk membuat gambar kekacauan dan kekerasan sehingga dia dapat mengeksploitasi dirinya secara politik dan memberikan dasar untuk membahas pelanggaran dan pengkhianatan kepercayaan."

Meski demikian diprediksikan bahwa hasil pemilu presiden bulan November 2020 akan meningkatkan perang jalanan ini. Beberapa waktu lalu, Trump memperingatkan bahwa jika kubu Demokrat menang di pemilu mendatang, Amerika akan bergerak ke arah keruntuhan dan pertumpahan darah. Peristiwa ini di sebuah negara yang warganya memiliki senjata akan menjadi sebuah tragedi. Tragedi yang oleh sebagian pihak disebut sebagai perang saudara kedua di AS. (MF)

 

Tags

Komentar