Aug 14, 2020 11:45 Asia/Jakarta
  • Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri AS
    Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri AS

Sejak menjabat pada Januari 2017, Presiden AS Donald Trump telah menerapkan kebijakan yang keras dan bermusuhan terhadap Cina dan menghadapi Beijing dalam berbagai dimensi perdagangan, politik, dan keamanan. Para pejabat tingginya telah mengambil pendekatan serupa dalam sikap mereka dengan mencoba menggambarkan Cina sebagai ancaman serius bagi Barat.

Dalam pidatonya di depan Senat Republik Ceko pada hari Rabu (12/08/2020), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo berpendapat bahwa ancaman Cina terhadap Barat jauh melebihi ancaman Uni Soviet selama Perang Dingin. "Yang terjadi bukanlah Perang Dingin Jilid 2. Tantangan melawan Partai Komunis Cina jauh lebih sulit," ungkap Pompeo. Menlu AS menekankan bahwa Partai Komunis China telah menyusup ke ekonomi kami, urusan politik kami dan masyarakat kami dengan cara yang tidak pernah bisa dilakukan oleh Uni Soviet.

Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri AS

Menteri Luar Negeri AS merujuk pada upaya Cina yang ekstensif dan gigih dalam beberapa tahun terakhir untuk mengembangkan hubungan dan meningkatkan investasi serta kerja sama dengan negara-negara Eropa, yang tidak hanya menerima tanggapan positif dari Uni Eropa, tetapi Beijing sekarang berusaha memasukkan negara-negara Eropa, khususnya Eropa Timur, untuk melakukan interaksi bilateral di berbagai bidang, sehingga dapat memperkuat pijakannya di Eropa. Kunjungan pejabat senior Cina serta diadakannya pertemuan puncak dengan para pejabat senior Eropa sejalan dengan hal tersebut.

Salah satu yang menarik dari pendekatan Cina adalah tawaran Huawei untuk meluncurkan Internet generasi kelima yang dikenal dengan G5 di berbagai negara Eropa. Ini telah membunyikan alarm bagi Washington, dan sekarang pemerintahan Trump memberikan banyak tekanan pada para pejabat senior Eropa untuk melawan pengaruh Cina dan memotong atau mengurangi hubungan perdagangan, ekonomi dan teknologi Beijing dengan negara-negara Eropa. Dan dia mengancam mereka bahwa jika tren ini terus berlanjut, mereka akan menghadapi respon negatif AS berupa pengurangan hubungan atau bahkan pengenaan sanksi.

Sejatinya, salah satu tujuan Mike Pompeo, sebagai juru mudi kebijakan luar negeri Amerika selama perjalanannya di Eropa adalah untuk memperingatkan negara-negara ini dan melakukan upaya serius untuk mencegah perkembangan hubungan Cina-Eropa. Dia mengklaim bahwa meskipun beberapa negara Eropa mungkin menyadari ancaman ini nanti, tetapi situasinya sekarang positif. Sekalipun demikian, pernyataan Pompeo tampaknya tidak mendapatkan pembeli di Eropa, dengan pengecualian beberapa negara, seperti Inggris, yang telah menarik diri dari kerja sama dengan Cina, terutama terkait Internet generasi kelima, karena tekanan dari Washington dan hubungan AS yang superior.

Namun sikap Uni Eropa dan banyak negara Eropa melanjutkan dan mengembangkan hubungan dengan Cina. Charles Michel, Presiden Dewan Eropa, "Hubungan UE-Cina telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir dan ketergantungan ekonomi kami kuat. Kita harus bekerja sama dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan atau mengatasi virus Corona."

Pada saat yang sama, mengingat kesenjangan yang semakin besar antara kedua sisi Atlantik, Uni Eropa sekarang ingin mencari alternatif dalam perdagangan dan hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat, dan mengingat komponen seperti kekuatan ekonomi, pasar Cina yang besar dan penting, kemampuan investasi dan beberapa faktor lainnya di mata para pemimpin Eropa, Cina adalah pilihan yang baik.

Selain itu, sehubungan dengan rencana "Satu Sabuk Satu Jalan", para pemimpin Cina sedang mempertimbangkan upaya berskala besar, meskipun mahal, untuk membangun jaringan perdagangan dan ekonomi antara Cina dan Eropa, yang jika terwujud sepenuhnya, akan meningkatkan perdagangan bilateral dan hubungan ekonomi akan berkembang ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Faktanya, hubungan yang berkembang antara Eropa dan Cina merupakan reaksi terhadap tren penurunan hubungan bilateral antara kedua sisi Atlantik dan perang psikologis Washington terhadap Cina yang didasarkan pada rasa bahaya AS dari perluasan hubungan Cina-Barat.

Cina Vs Amerika Serikat

Sekalipun demikian, latar belakang pemerintahan Trump menunjukkan bahwa Washington tidak hanya menggunakan alat dan metode politik dan diplomatik untuk mencegah proses semacam itu berlanjut, tetapi juga bersedia menggunakan alat dan metode lain jika negara-negara Eropa tidak mengikuti tuntutan Amerika Serikat dengan menerapkan sanksi dan mengurangi tingkat hubungan. Menurut Aleksandr Venediktov, Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Rusia, "Washington tidak ragu-ragu untuk mengedepankan tujuan dan kepentingannya dalam membungkam Eropa."

Tags

Komentar