Aug 18, 2020 02:01 Asia/Jakarta

Pemerintahan Trump telah memulai proses penarikan diri dari Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (INF) dan Perjanjian Open Skies, tapi kini secara tiba-tiba mengambil langkah berbalik arah untuk memperpanjang perjanjian New START dengan Rusia.

Marshall Billingslea, Utusan Khusus Presiden AS Urusan Pengendalian Senjata, yang menghadiri pertemuan bilateral dengan Deputi Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov di Wina pada Senin mengatakan Washington telah gagal mencapai perjanjian tripartit. Dia menekankan bahwa Washington akan mengadakan pembicaraan senjata dengan Rusia supaya bisa menekan Cina untuk memasuki pembicaraan baru.

Billingsley mengklaim, meskipun Amerika Serikat menginginkan perjanjian trilateral dengan Cina dan Rusia, tapi kini Amerika Serikat bersedia mencapai kesepakatan bilateral dengan Rusia.

"Saya pikir ini akan menjadi pendekatan yang sangat rasional, terutama karena kami mungkin dapat mencapai kesepakatan dengan Rusia yang juga akan menjadi kerangka kerja bagi Cina untuk bergabung," kata Billingslea.

AS mundur dari posisi sebelumnya tentang perlunya Cina bergabung dalam pembicaraan pengendalian senjata, karena sikap keras Beijing terhadap masalah ini, ditambah semakin terisolasinya AS di kancah internasional menjelang pemilu presiden.

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian menyebut upaya AS untuk melibatkan Beijing dalam pembicaraan senjata nuklir sebagai taktik politik Washington, dan mengatakan bahwa Amerika Serikat harus menerima tawaran Rusia untuk memperpanjang perjanjian New START.

Cina yang memandang persenjataan nuklirnya masih jauh dari AS dan Rusia, melihat tidak ada alasan untuk berpartisipasi dalam pembicaraan pengendalian senjata, dan saat ini bukan waktu yang tepat bagi Beijing untuk berpartisipasi dalam pembicaraan perlucutan senjata.

Pada saat yang sama, Cina dengan cerdik telah menetapkan semua persyaratan untuk bergabung dalam pembicaraan kontrol senjata nuklir, yang tampaknya tidak mungkin diterapkan oleh Amerika Serikat.

Fu Kong, Direktur Jenderal Pengendalian Senjata Kementerian Luar Negeri China mengatakan negaranya siap untuk bergabung dalam pembicaraan perlucutan senjata, jika Amerika Serikat mengurangi senjatanya ke level Cina. Saat ini jumlah hulu ledak nuklir AS sekitar  20 kali lipat dari persenjataan nuklir Cina.

 

Presiden AS, Donald Trump

 

Tampaknya, Presiden AS yang kontroversial Donald Trump ingin mencapai kesepakatan dengan Rusia menjelang pemilu presiden AS.

"Ada kemungkinan untuk memperpanjang perjanjian New START dengan Rusia. Tentu saja, Washington ingin perjanjian dengan Moskow disusun sedemikian rupa sehingga Beijing dapat bergabung di masa depan," papar Billingslea.

Analis persenjataan AS, Thomas Contryman mengungkapkan bahwa gagasan untuk memperpanjang perjanjian New START secara luas didukung oleh Kongres AS dan lembaga terkait. Menurutnya, dalam konteks hubungan Rusia-AS saat ini menjadi satu-satunya langkah kebijakan luar negeri utama yang dapat dilakukan Trump di lapangan, sekaligus mendapatkan persetujuan dari Partai Republik dan Demokrat AS.

Washington sejauh ini mengambil sikap tegas terhadap perjanjian New START, dan menyerukan Rusia untuk meninggalkan pengembangan dan penyebaran senjata supersonik, sambil menyerukan Cina bergabung dalam pembicaraan trilateral. Tapi, dua syarat ini ditentang keras oleh Beijing dan Moskow.

Kini, AS yang berada dalam posisi lemah telah mengumumkan kesiapannya untuk  memperpanjang perjanjian New START dengan mengesampingkan kondisi pertama dan pengabaian sementara dari kondisi kedua. Namun, Rusia sangat pesimis menyikapinya.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengesampingkan pertemuan Cina dengan Marshall Billingslea, dan mengatakan tidak ada perubahan dari pertemuan itu, karena posisi kedua belah pihak sangat berbeda dalam beberapa hal. Menurutnya, tidak ada bukti bahwa Washington telah mengubah posisinya dalam memperpanjang perjanjian New START. 

Dari sudut pandang Rusia, perjanjian New START sangat penting. Pakar politik Rusia Gregory Arbatov memandang perjanjian New START bisa menjamin tingkat prediktabilitas, transparansi, dan interaksi kerja yang tinggi dalam hubungan strategis antara kedua kekuatan adidaya tersebut.(PH)

 

 

 

 

Tags