Aug 30, 2020 12:18 Asia/Jakarta

Eskalasi ketegangan antara Yunani dan Turki di Mediterania telah mendorong Uni Eropa mendukung Athena, dan mengambil tindakan pencegahan untuk memberikan sanksi kepada Ankara.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell dalam konferensi pers dengan Menlu Jerman, Heiko Maas mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan daftar sanksi terhadap Turki. Ia menegaskan, "Sanksi ini mungkin termasuk individu, kapal, atau penggunaan pelabuhan Eropa oleh Turki dan sanksi terhadap ekonomi negara yang berfokus pada kegiatan yang dianggap ilegal,". Kanselir Jerman Angela Merkel juga mengatakan bahwa negara anggota Uni Eropa berkomitmen untuk mendukung Yunani melawan Turki.

Tekanan Uni Eropa terhadap Turki telah ditanggapi dengan reaksi keras dari Ankara.  Kementerian Luar Negeri Turki dalam sebuah pernyataan yang mengkritik sanksi Eropa atas ketegangan dengan Yunani mengenai eksplorasi dan ekstraksi gas di Mediterania, mengatakan, "Uni Eropa tidak berhak mengkritik upaya Turki untuk menemukan sumber daya energi dan menuntut agar menghentikannya."

Turki dan Yunani berselisih mengenai cadangan gas alam di Mediterania timur, dan upaya Siprus, yang memiliki hubungan dekat dengan Yunani untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi cadangan gas di kawasan itu.

Ketegangan yang terjadi saat ini antara Turki dan Yunani telah meningkat dengan dimulainya eksplorasi gas oleh Turki di lepas pantai Yunani di Mediterania timur. Dalam misi ini, kapal penelitian Oruc Reis Turki yang didukung kapal perangnya sedang mencari kemungkinan ladang gas di lepas pantai selatan Turki dan dekat pulau-pulau Yunani, yang sangat dekat dengan pantai Turki di Laut Aegean. Setelah beberapa tahun absen, Ankara melanjutkan operasi eksplorasi dan pengeboran di daerah tersebut, sambil menegaskan kembali hak Turki untuk melakukannya.

 

Uni Eropa

 

Langkah baru Turki tersebut menyulut reaksi tajam dari para pejabat Yunani. Menurut Athena, wilayah tempat Turki melakukan operasi eksplorasi berada di zona teritorial Yunani. Menanggapi latihan perang bersama Yunani, Siprus, Italia dan Prancis yang berlangsung Rabu hingga Jumat di dekat lokasi eksplorasi gas di Mediterania timur, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan negaranya tidak akan mundur dari eksplorasi minyak dan gas di Mediterania.

Meskipun demikian, Mehmet Ali Guler, seorang pakar politik Turki memandang kemungkinan konflik atau perang antara Turki dan Yunani rendah, karena terlepas dari pandangan nasionalisnya yang kuat, kedua negara sangat menyadari bahwa konfrontasi militer akan merugikan kedua pemerintah. Yunani tidak akan menang jika terjadi konflik. Sementara itu, Turki tidak akan memenangkan konflik karena situasi internasional, dan di sisi lain kedua negara merupakan anggota NATO.

Tapi konsekuensi potensial munculnya perang antara Turki dan Yunani bisa keluar dari prediksi saat ini yang menegasikannya. Pasalnya, meningkatnya ketegangan antara Turki dan beberapa anggota Uni Eropa terkait sumber daya gas di Mediterania Timur telah mendorong Ankara menjauh dari Uni Eropa dan meningkatkan ketegangan bilateral. Menurut Joseph Hincks, seorang analis politik Amerika, Uni Eropa berdiri kokoh di belakang Yunani ... dan telah memperingatkan Ankara agar tidak memperluas operasi penjelajahannya.

Hubungan antara Uni Eropa dan Turki tegang sejak kudeta yang gagal pada Juli 2016. Ketegangan terbaru menambah daftar panjang sengketa antara kedua pihak yang mengarah pada ancaman dalam bentuk latihan perang bersama Yunani, Siprus, Italia dan Prancis. Oleh karena itu, Brussels bersikeras untuk mendukung Yunani dan Siprus. Uni Eropa sebelumnya menyebut eksplorasi gas yang dilakukan Turki ilegal, dan memperingatkan Ankara bahwa mereka siap untuk menanggapi dengan tepat jika tidak berhenti.(PH)

 

Tags