Sep 18, 2020 19:39 Asia/Jakarta
  • Kapal China.
    Kapal China.

China menggelar manuver militer di dekat Taiwan pada hari Jumat (18/9/2020) di tengah ketegangan antara Beijing dan Taipei. Latihan perang ini berlangsung bersamaan dengan kunjungan pejabat AS ke Taiwan.

Wakil Menteri Luar Negeri AS Keith Krach dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen pada hari Jumat. Dia adalah pejabat departemen luar negeri paling senior AS yang mengunjungi pulau itu dalam 41 tahun terakhir.

Krach adalah pejabat tinggi kedua AS yang mengunjungi Taiwan tahun ini. Awal bulan lalu, Menteri Kesehatan Alex Azar menjadi pejabat Amerika berpangkat tinggi yang mengunjungi pulau itu sejak 1979.

Pertanyaan utamanya adalah apa tujuan China mengadakan latihan militer di dekat Taiwan? Mengapa ketegangan antara Beijing dan Taipei meningkat dalam beberapa pekan terakhir? Dan seberapa efektif kunjungan pejabat AS ke Taiwan?

Angkatan Bersenjata China menggelar latihan perang pada Jumat di dekat Selat Taiwan sebagai peringatan baru kepada AS dan pasukan pro-kemerdekaan di Taiwan. Manuver militer ini bertepatan dengan kunjungan diplomat senior AS ke pulau yang telah memerintah sendiri tersebut.

Menurut The South China Morning Post, juru bicara Kementerian Pertahanan China Ren Guoqiang pada Jumat pagi mengatakan bahwa manuver militer itu digelar oleh Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China.

Dia menambahkan, ini adalah tindakan yang sah dan perlu diambil dalam menanggapi situasi saat ini di Selat Taiwan dan menjaga kedaulatan nasional dan integritas teritorial.

"Baru-baru ini, AS dan otoritas Partai Progresif Demokratik (DPP) telah meningkatkan hubungan mereka dan sering menimbulkan insiden. Tidak peduli apakah tujuannya untuk melawan China atau menaikkan status DPP, itu adalah angan-angan dan ditakdirkan menjadi jalan buntu," ujarnya.

Jubir Kemenhan China menjelaskan, Tentara Pembebasan Rakyat China memiliki kemauan yang kuat, kepercayaan penuh, dan kemampuan yang memadai untuk menggagalkan semua campur tangan eksternal dan tindakan separatis 'kemerdekaan Taiwan' dan dengan tegas mempertahankan kedaulatan nasional dan integritas wilayah.

Manuver militer China digelar di dekat Taiwan setelah AS memulai manuver militer selama 12 hari sejak hari Senin di sekitar Pulau Guam. Guam adalah pulau kecil di Pasifik yang jadi basis pesawat-pesawat pembom nuklir Amerika. Latihan perang AS telah dimulai 14 September dan akan berlangsung hingga 25 September 2020.

Manuver militer besar-besaran yang diberi nama "Valiant Shield" ini juga melibatkan 100 pesawat dan sekitar 11.000 tentara. Armada Pasifik AS dalam sebuah pernyataan mengatakan latihan perang Valiant Shield mencakup operasi darat, laut dan udara yang terkoordinasi di sekitar pulau Pasifik tengah dan meluas melalui rantai Pulau Marianas.

Sementara itu, militer Taiwan menggelar Game Perang Komputer yang mensimulasikan invasi oleh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Latihan dengan bantuan komputer selama lima hari digelar setelah mengungkapkan kemarahan atas peningkatan manuver militer China.

Menurut pejabat Kemenhan Taiwan, latihan itu dirancang untuk menguji kemampuan komandan dalam mengadopsi strategi yang tepat dan mengoordinasikan kekuatan yang berbeda saat diserang.

Latihan tersebut adalah bagian dari latihan Han Kuang, latihan perang tahunan terbesar di Taiwan. Fase awal latihan di bulan Juli termasuk latihan tembak langsung. Pejabat dari American Institute di Taiwan, kedutaan de facto AS di pulau itu, juga diundang untuk mengamati latihan tersebut.

Menurut sumber militer Taiwan, sebelumnya, Komando Indo-Pasifik AS mengirim perwira dan pakar militer untuk mengamati latihan berbantuan komputer dan menawarkan saran mereka setelah simulasi berbagai skenario serangan PLA. Namun tahun ini, karena pandemi virus corona, AS tidak dapat mengirim mereka.

Pada dasarnya, intervensi AS di Taiwan bertentangan dengan prinsip pernyataan bersama yang ditandatangai pada 1972,1988 dan 1982. Dasar dari perjanjian dengan Amerika ini adalah penentangan terhadap setiap langkah kemerdekaan Taiwan dari China.

Yang pasti, China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan menganggap perpindahan dan penjualan senjata AS ke Taipei sebagai pelanggaran kedaulatannya. Dengan kata lain, Taiwan adalah garis merah Beijing, dan China tidak mentolerir campur tangan negara lain, termasuk AS, dalam urusan internal Beijing.

Menurut pakar militer China, manuver militer China tidak hanya sebagai peringatan kepada separatis Taiwan dan intervensi AS, tetapi juga meningkatkan kemampuan tempur China untuk menyatukan Taiwan.

Manuver militer secara bersamaan China, AS dan Taiwan menunjukkan peningkatan ketegangan di Laut China Selatan dan Samudera Pasifik dan meningkatnya bahaya konfrontasi di antara mereka. Namun yang pasti, Washington meningkatkan tekanannya terhadap Beijing kerena khawatir China akan berubah menjadi  negara adikuasa di masa depan. (RA)

Tags

Komentar