Sep 20, 2020 18:53 Asia/Jakarta

Amerika Serikat hingga hari ini menjalankan beragam skenario busuk untuk menekan Republik Islam Iran dan menyebarkan Iranophobia. Washington tidak pernah berhenti menebarkan fitnah dan kebencian tentang Iran.

Untuk mencapai tujuan-tujuan kotornya, AS menggelontorkan berbagai isu seperti tuduhan campur tangan Iran di negara-negara kawasan, ancaman kekuatan militer, dan rudal Iran, serta tuduhan bahwa pemerintah Tehran mendukung terorisme dan melanggar Hak Asasi Manusia. AS juga menciptakan kekhawatiran terkait aktivitas nuklir damai Iran.

Skenario serupa sekarang terulang kembali, sebuah skenario media baru yang melemparkan tuduhan-tuduhan tak berdasar terhadap Iran, dan dimuat dalam laporan fiktif majalah Amerika Serikat, Politico.

Dalam edisi terbarunya, Politico mengutip sumber intelijen Amerika, dan pejabat yang dekat dengan pemerintah negara ini, bahwa Iran berencana melancarkan aksi teror terhadap duta besar Amerika di Afrika Selatan.

Biasanya skenario semacam ini adalah produk kelompok think tank Amerika-Israel.

Pada 11 Oktober 2011 seorang pejabat tinggi Amerika tanpa menunjukkan bukti, menuduh Iran berusaha meneror dubes Arab Saudi di Washington, melalui orang suruhan. Tuduhan itu memicu protes keras, dan dalam suratnya untuk PBB, Iran mendesak langkah hukum atas tuduhan tak berdasar tersebut.

Sekarang bentuk lain tuduhan terhadap Iran dikemas dalam sebuah laporan media Amerika, yang menuduh Iran merancang teror.

Klaim ini dimunculkan padahal bukti-bukti menunjukkan bahwa Amerika sendiri yang membidani kelahiran kelompok-kelompok teroris dunia.

Menurut pengakuan sejumlah pejabat Amerika, Al Qaeda dan banyak kelompok teroris lain dibentuk oleh dinas intelijen Amerika, dan Israel untuk melancarkan intervensi mereka.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh terkait hal ini mengatakan, Amerika dan rezim berkuasa Gedung Putihlah terutama dalam beberapa tahun terakhir banyak melakukan intervensi asing dengan cara-cara yang ditentang dunia internasional seperti mendesain, dan melancarkan puluhan aksi teror, dan invasi militer serta intelijen, keluar dari banyak kesepakatan internasional, melanggar integritas teritorial negara-negara, dan teror pengecut terhadap Letjend Qassem Soleimani, Komandan perang menumpas terorisme, mengabaikan prinsip dasar diplomasi, dan berubah menjadi sebuah rezim penipu di arena internasional.

Republik Islam Iran sebagaimana sudah disampaikan berulangkali, akan terus melanjutkan langkah hukum di level internasional untuk mengusut teror terhadap Jenderal Qassem Soleimani di berbagai tingkatan, dan Iran tidak akan memaafkan atau melupakan aksi teror ini.

Laporan tendensius, dan politis media Amerika dapat dianalisa dari sisi lain. Pengalaman menunjukkan bahwa Amerika, dan beberapa negara Eropa sejak lama terlibat dalam berbagai skenario perang psikologis di dunia di banyak fase politik sensitif, dengan menggunakan media untuk menciptakan krisis buatan.

Saat ini dengan memperhatikan perkembangan regional, dan penentangan luas terhadap unilateralisme Amerika, ditambah situasi panas, dan kekerasan polisi dalam menumpas unjuk rasa di Amerika, menjelang pemilu presiden negara ini, skenario media untuk mengubah situasi politik, bukan sesuatu yang tidak mungkin.

Hal ini khususnya mungkin terjadi dengan memperhatikan rivalitas pemilu Amerika yang selalu dijadikan alat kontestasi pemilu, dan media untuk mempengaruhi opini publik oleh partai berkuasa.

Sebagaimana yang ditulis Jubir Kemenlu Iran di akun Twitternya, mesin perang Amerika di pemerintahan George Bush mantan presiden negara itu, memanfaatkan wartawan-wartawan yang mudah percaya untuk menjual perang berbiaya 7 triliun dolar di Irak kepada warga Amerika, dan sekarang skenario yang sama sedang diulang, dan Politico dijadikan alat untuk menyebarkan propaganda-propaganda bohong mereka. Media-media Amerika harus waspada jangan sampai ditunggangi oleh para politisi. (RA)

Tags

Komentar