Sep 25, 2020 13:38 Asia/Jakarta

Presiden AS, Donald Trump selama empat tahun terakhir meningkatkan kebijakan konfrontatifnya terhadap dua negara sayap kiri Amerika Latin; Venezuela dan Kuba.

Trump berupaya melemahkan pemerintah Kuba dan Venezuela dengan melancarkan putaran baru sanksi AS terhadap kedua negara ini yang memicu reaksi keras dari Havana dan Caracas.

Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez di akun Twitternya menanggapi sanksi baru AS terhadap negaranya dengan mengatakan, "Larangan kunjungan wisata bagi para turis untuk menginap di hotel, dan larangan impor cerutu dari Kuba ke Amerika Serikat jelas membatasi hak-hak warga negara Amerika dan memengaruhi hubungan kedua bangsa. Musuh Kuba keliru dengan mengira kampanye Trump dan tindakan oportunistiknya akan bisa mematahkan tekad baja rakyat Kuba".

Donald Trump pada hari Rabu mengumumkan serangkaian sanksi baru paling parah terhadap Kuba selama hampir enam dekade terakhir dengan dalih palsu.

 

Miguel Diaz-Canel

 

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengecam langkah pemerintahan Trump terhadap negaranya yang bertujuan mengakhiri revolusi Kuba. Sikap konfrontatif Washington terhadap Havana juga memicu kritik lembaga internasional.

Tujuan sebenarnya Amerika Serikat melancarkan ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tekanan ekonomi yang meningkat terhadap Havana demi melemahkan dan akhirnya mengakhiri pemerintahan kiri Kuba.

Analis politik Amerika Latin, Esteban Morales menilai peningkatan ketegangan antara Amerika Serikat dan Kuba hanya memiliki satu alasan. Menurutnya, Trump ingin memutuskan hubungan secara total dengan Kuba. Faktanya, hubungan diplomatik kedua negara selama beberapa waktu tidak pernah terjalin.

Di sisi lain, peningkatan sanksi yang dilancarkan pemerintahan Trump terhadap sejumlah negara dunia memicu reaksi keras dari Venezuela, negara kiri Amerika Latin lainnya.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat pada hari Senin atas kesepakatan senjata dengan Iran. Selain Kuba, Rusia, Cina, dan Turki dimasukkan oleh AS sebagai negara pendukung internasional pemerintah Tehran.

 

Nicolas Maduro

 

Sebagai tanggapan terhadap langkah unilateral Washington tersebut, Maduro dalam pidato virtual KTT ke-75 Majelis Umum PBB menggambarkan sanksi AS bertujuan untuk menyulut instabilitas di negaranya, dan menyerukan penghentian tindakan yang diambil Gedung Putih terhadap Caracas dan sekutu internasionalnya.

Dia menyerukan pencabutan semua sanksi AS terhadap negara lain yang melanggar Piagam PBB dan mengancam stabilitas Amerika Latin dan Karibia. Venezuela dilanda kondisi politik dan ekonomi paling sulit dalam beberapa dekade.

Trump berulangkali menuding pemerintah sayap kiri Venezuela otoriter serta menyia-nyiakan kekayaan nasional dan hak-hak rakyat. Dengan dalih tersebut, Gedung Putih menjatuhkan sanksi minyak dan ekonomi demi menekan Caracas.

Meskipun Washington terus melancarkan tekanan maksimum terhadap Caracas, tapi Venezuela mampu menahan tekanan tersebut selama dua tahun terakhir dengan bantuan dan dukungan dari sekutunya, terutama Rusia dan Iran. Dalam kerangka Doktrin Monroe yang menempatkan Amerika Latin sebagai wilayah pengaruh eksklusifnya, Amerika Serikat selalu mencampuri urusan dalam negeri negara-negara di kawasan itu dan terus berupaya untuk menggulingkan pemerintah sayap kiri Amerika Latin.

Trump secara khusus melancarkan pendekatan permusuhan demi menggulingkan para pemimpin pemerintah kiri di Amerika Latin, terutama Kuba dan Venezuela yang dipandang bertentangan dengan keinginan dan kepentingan Washington di kawasan tersebut.(PH)

Tags

Komentar