Sep 28, 2020 17:52 Asia/Jakarta

Ribuan pendukung tokoh oposisi Belarus (Belarusia) menggelar unjuk rasa menentang pelantikan Presiden Alexander Lukashenko di Minsk, Belarus, 23 September 2020.

Ribuan pendukung tokoh oposisi Belarus menggelar unjuk rasa menentang pelantikan Presiden Alexander Lukashenko di Minsk, Belarus, 23 September 2020.

Mereka berunjuk rasa pada Rabu , 23 September 2020 untuk mengecam pelantikan Presiden Lukashenko yang dilakukan tanpa pengumuman sebelumnya.

Menurut kantor berita Belta, demonstrasi tersebut berakhir ricuh setelah pasukan keamanan menembakkan meriam air ke arah pengunjuk rasa. Lebih dari 360 orang dilaporkan ditangkap dalam unjuk rasa tersebut.

Berdasarkan laporan media independen, jalan-jalan ditutup ketika iring-iringan mobil Lukashenko melaju di ibu kota Minsk. Ini memicu spekulasi bahwa pelantikan akan dilakukan, sementara tidak ada konfirmasi resmi dari pemerintah.

Situs resmi Lukashenko tidak membuat pengumuman apa pun dan pelantikan itu tidak ditayangkan langsung di televisi pemerintah. Hal ini tampaknya untuk menghindari bentrokan dengan pengunjuk rasa.

Lukashenko, 66 tahun, dilantik untuk masa jabatan keenam. Sementara para pendemo menuntut diakhirinya pemerintahan Lukashenko selama 26 tahun setelah pemilu kontroversial bulan lalu.

Lukashenko menegaskan bahwa dia memenangkan pemilu 9 Agustus dengan telak yaitu mendapat 80 persen suara. Lawan terkuatnya adalah Sviatlana Tsikhanouskaya, yang berdasarkan penghitungan dari Komisi Pemilihan Umum hanya mendapat 10 persen suara.

Tsikhanouskaya, yang kini berada di pengasingan di negara tetangga, Lithuania, setelah dipaksa meninggalkan Belarus, mengatakan bahwa hasil perhitungan suara tersebut tidak sah. Dia pun turut mengomentari pelantikan Lukhasenko.

Lukhasenko mengucapkan sumpah jabatan dengan tangan kanan memegang kitab konstitusi di Istana Kemerdekaan. Kepala Komisi Pemilihan Umum Pusat menyerahkan kartu identitas resmi presiden Belarus kepadanya.

"Hari pelantikan presiden adalah hari kemenangan kami, meyakinkan dan ditakdirkan. Kami tidak hanya memilih presiden negara - kami membela nilai-nilai kami, kehidupan damai, kedaulatan, dan kemerdekaan kami," kata Kepala Komisi Pemilihan Umum Belarus.

Aparat keamanan memblokir beberapa bagian kota dan aktivitas transportasi umum dihentikan selama upacara.

Lukashenko kembali dilantik menjadi Presiden Belarus, meski hasil pemilihan presiden itu digugat oleh kelompok oposisi. Lukashenko berkuasa di Belarus sejak 1994.

Lukasehnko telah mencari dukungan dari Presiden Rusia Vladimir Putin, yang telah menjanjikan bantuan penegakan hukum jika diperlukan, serta pinjaman US$ 1,5 miliar.

Seorang pemimpin oposisi menyebut upacara pelantikan diam-diam itu sebagai lelucon. Beberapa negara Eropa bahkan menyatakan mereka tidak mengakui hasil pemilu, dan menolak untuk menganggap Lukashenko sebagai presiden Belarus yang sah.

Menurut lawan politik Lukhasenko dan pejabat Eropa, nihilnya keterlibatan masyarakat adalah bentuk bahwa dia tidak memiliki mandat yang sah untuk memimpin negara.

Belarus merupakan negara pecahan Uni Soviet yang berpenduduk sekitar 9,5 juta orang. (RA)

Tags

Komentar