Sep 29, 2020 18:07 Asia/Jakarta

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengadakan sidang ke-75 di tengah meningkatnya perpecahan di antara negara-negara dunia. Para pemimpin dunia telah berpidato di depan PBB untuk menyampaikan gagasan mereka.

Pertemuan tahunan pada hari Selasa, 22 September 2020 di New York dilakukan melalui konferensi video karena Virus Corona, di mana masalah pandemi COVID-19 ini juga masuk dalam agenda utama, di antara masalah-masalah lain yang menjadi perhatian global.

Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani dalam pidatonya melalui video konferensi dalam sidang tersebut menolak unilateralisme Amerika Serikat. Para pemimpin dunia lainnya juga mengkritik AS karena mengabaikan hukum internasional.

Sidang Majelis Umum PBB tahun ini  menjadi kesempatan untuk mengungkapkan keprihatinan tentang isu-isu global.

Presiden Iran menyatakan bahwa AS tidak dapat memaksakan negosiasi atau perang terhadap negara lain, dan kini sudah saatnya dunia menolak segala bentuk pemaksaan dan penindasan.

"Era dominasi dan hegemoni telah berakhir," tegasnya.

Dia menjelaskan, dua kali penolakan Dewan Keamanan terhadap AS yang berupaya menggunakan instrumen ilegalnya terhadap institusi internasional ini dan resolusi 2231, menunjukkan kemenangan bukan hanya bagi Iran, tetapi juga bagi transisi sistem internasional di dunia pasca-Barat, ketika rezim hegemonik (AS) tenggelam dalam isolasi yang dibuatnya sendiri.

"Hidup sulit dengan sanksi, tapi lebih sulit lagi hidup tanpa kemerdekaan," tegasnya.

Di bagian lain pidatonya, Rouhani menyinggung dampak kebijakan tekanan maksimum AS terhadap Iran yang menargetkan mata pencaharian, kesehatan, bahkan hak hidup rakyat Iran.

"Mereka sendiri dengan kaki tangannya menyulut berbagai perang, pendudukan dan agresi di Palestina, Afghanistan dan Yaman, juga Suriah, Irak, Lebanon, Libya, Sudan dan Somalia. Tetapi ironisnya mengklaim Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap  kekalahan  fatalnya," papar Rouhani.

Rouhani dalam pertemuan tingkat tinggi Majelis Umum PBB Selasa malam juga menjelaskan rekam jejak brilian Iran Islam sebagai poros perdamaian dan stabilitas di kawasan, terutama dalam perang melawan terorisme.

Terkait dengan AS, Presiden Iran mengatakan, kami bukan alat tawar-menawar dalam pemilihan umum AS dan kebijakan domestik. Setiap pemerintahan AS setelah pemilu yang akan datang, lanjutnya, tidak akan memiliki pilihan selain menyerah pada ketahanan bangsa Iran.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya sebagai negara tuan rumah, menuduh Beijing menyebarkan apa yang disebutnya "virus China" dan menuntut PBB agar bertanggung jawab.

Tump membela penanganan COVID-19 di AS di mana jumlah kematian telah melampaui 200.000. Dia mengatakan, kami telah melakukan pertempuran sengit melawan musuh tak terlihat yang telah merenggut nyawa yang tak terhitung jumlahnya di 188 negara.

Trump mengatakan, saat kita mengejar masa depan cerah ini, kita harus meminta pertanggungjawaban bangsa yang melepaskan wabah ini ke dunia: China.

Sebaliknya, Presiden China Xi Jinping memberikan nada damai dan menyerukan peningkatan kerja sama atas pandemi serta menekankan bahwa China tidak berniat berperang "baik Perang Dingin atau Panas" dengan negara lain.

Xi mengatakan, upaya untuk mempolitisasi pandemi harus ditolak, dan China adalah negara berkembang terbesar di dunia, negara yang berkomitmen untuk pembangunan yang damai, terbuka, kooperatif dan bersama.

Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin menyerukan perjanjian internasional untuk melarang senjata di luar angkasa dan menawarkan vaksin Virus Corona Rusia kepada staf PBB secara gratis.

"Rusia siap memberikan PBB semua bantuan yang memenuhi syarat yang diperlukan. Secara khusus, kami menawarkan untuk menyediakan vaksin kami secara gratis untuk vaksinasi sukarela bagi staf PBB dan kantornya," kata Putin.

Dia juga mengatakan bahwa penurunan ekonomi global yang disebabkan oleh pandemi memperbaharui kebutuhan untuk menghapus sanksi perdagangan. (RA)

Tags

Komentar