Okt 18, 2020 08:30 Asia/Jakarta

Selama pemerintahan Trump, Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir JCPOA pada Mei 2018, dan mengikuti jalur intensifikasi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran dalam konteks kampanye tekanan maksimum. Meskipun klaim awal pemerintah Trump adalah revisi dari JCPOA, Washington sekarang telah secara terbuka menyatakan tujuan anti-Iran yang nyata dan meluas.

Penasihat Keamanan Nasional AS Robert O'Brien menguraikan visi untuk pemerintahan kedua Donald Trump dalam konferensi video virtual dengan Institut Spine pada hari Jumat (17/10/2020). Poin penting yang dikemukakan O'Brien secara terbuka adalah untuk menjelaskan tujuan sebenarnya Amerika Serikat dalam setiap negosiasi dengan Iran.

Dia mengklaim bahwa jika Donald Trump menang lagi, tekanan ekonomi akan sangat besar sehingga Iran pada akhirnya akan datang ke meja perundingan dan Amerika Serikat akan menyerukan pembongkaran total program nuklir Iran, karena menurutnya, ini dalam kerangka kesepakatan JCPOA tidak terwujud. Dia mengakui bahwa program nuklir Iran meningkat sejak AS keluar dari JCPOA.

Donald Trump dan Robert O'brien

Sejatinya, Washington ingin Iran meninggalkan semua kemampuan nuklir aslinya dan menerima program nuklir minimal di bawah pengawasan ketat. O'Brien mengatakan program nuklir sipil dengan pengawasan penuh mungkin bisa dinegosiasikan, tetapi program nuklir dengan fasilitas bawah tanah yang dapat segera dilanjutkan oleh Iran jika tidak puas dengan Barat bukanlah pilihan sama sekali.

Pada faktanya, tujuan Washington adalah untuk mencegah Iran memiliki teknologi nuklir damai yang dapat menjadi landasan bagi pembangunan ekonomi Iran di berbagai bidang mulai dari pembangkit listrik hingga penggunaan teknologi nuklir di sektor industri, kedokteran dan kesehatan, pertanian, dan lain-lain. Apa yang dibolehkan adalah program nuklir yang sangat dibatasi dan diawasi yang tidak ada artinya.

Tetapi poin lain yang dibuat oleh Penasihat Keamanan Nasional AS adalah perlunya menghilangkan alat penting pencegahan pertahanan Iran, yaitu kemampuan rudal. Mengacu pada program rudal Iran, pejabat senior AS ini menggambarkannya sebagai ancaman bagi Eropa dan Amerika Serikat, seraya mengatakan, "Program rudal adalah ancaman bagi Eropa serta Amerika Serikat dan harus dihapus dari meja perundingan." Sementara itu, persenjataan misil Iran memiliki sifat defensif dan penangkal serta sejauh ini berkinerja baik dalam kerangka ini.

Dia juga menyatakan bahwa kelanjutan (yang disebut) aktivitas teroris Iran tidak bisa ditawar. Tentu saja, maksud O'Brien dari aktivitas teroris Iran adalah kebijakan regional Iran, yang diwujudkan dalam mendukung gerakan anti arogansi dan anti Zionis di kawasan, seperti gerakan Hizbullah Lebanon, Hamas dan gerakan Jihad Islam di Palestina, dan gerakan Ansarullah di Yaman.

Dengan demikian, jelas bahwa alasan Trump dan pemerintahannya dalam konteks kesepakatan nuklir JCPOA tidak terbatas pada program nuklir damai Iran, tetapi sebenarnya Washington sedang mengejar rencana besar untuk melemahkan kekuatan nasional Iran di berbagai bidang, yang memiliki tiga komponen. Intinya adalah kemampuan nuklir Iran, kemampuan rudal, dan kebijakan regional.

JCPOA

Pada dasarnya, pernyataan baru-baru ini dari Penasihat Keamanan Nasional AS adalah pengulangan dari 12 tuntutan yang sama yang diumumkan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada Mei 2018 menyusul penarikan AS dari JCPOA sebagai tuntutan Washington dari Tehran. Tuntutan irasional dan ilegal, penerimaan yang berarti penyerahan tanpa syarat Tehran ke Washington.

Sementara itu, Iran telah bersikeras untuk melakukan perlawanan maksimum terhadap tekanan maksimum AS, dan telah mampu menghadapi pemerintahan Trump yang mengalami kegagalan, termasuk kegagalan untuk memperpanjang embargo senjata terhadap Iran. Menurut Paul Pilar, pakar politik Amerika, upaya pemerintahan Trump untuk meningkatkan tekanan pada Iran agar menyerah telah gagal.

Tags