Okt 20, 2020 08:43 Asia/Jakarta

Tren anti-Islami dan ejekan terhadap kepercayaan Muslim di Perancis telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan pada saat yang sama, tekanan terhadap Muslim dengan dalih memerangi terorisme dan ekstremisme telah meningkat secara signifikan.

Dalam langkah terbarunya, pemerintah Perancis bermaksud mendeportasi 231 warga negara asing atas tuduhan "kegiatan ekstremis". Menyusul pembunuhan seorang guru sejarah di Perancis oleh seorang warga negara Chechnya, pemerintah Perancis bermaksud mendeportasi mereka dengan dalih "kegiatan ekstremis".

Presiden Perancis Emmanuel Macron

Mengingat negara itu memiliki populasi Muslim terbesar di Eropa, Perancis secara alami telah menjadi situs serangan propaganda anti-Islam dalam konteks Islamofobia dan upaya untuk merusak wajah Nabi Muhammad Saw, yang secara alami memicu reaksi di kalangan Muslim di negara ini.

Contoh terbaru adalah pembunuhan seorang guru bahasa Perancis bernama Samuel Pati, yang menunjukkan kepada murid-muridnya kartun Nabi Muhammad Saw yang baru-baru ini diterbitkan ulang di majalah Charlie Hebdo di ruang kelas.

Presiden Perancis Emmanuel Macron menggambarkan insiden itu sebagai "serangan teroris oleh kelompok Islam" dan mengklaim bahwa guru berusia 47 tahun itu dibunuh karena "mengajarkan kebebasan berekspresi" kepada murid-muridnya.

Presiden Perancis menyebut penghinaan terhadap agama dan kesucian sebagai ukuran kebebasan berekspresi, salah satu dari beberapa negara Barat yang mengkriminalisasi penolakan atas dugaan Holocaust.

Seruan Macron terhadap masalah "kebebasan berekspresi" untuk membenarkan tindakan Charlie Hebdo datang pada saat berdasarkan hukum internasional dan dengan memperhatikan definisi kebebasan berekspresi dan pembatasannya, sama sekali tidak menyinggung keyakinan agama dan etnis lain.

Macron dan pemerintah Perancis, alih-alih mengambil langkah-langkah untuk mengurangi serangan propaganda terhadap Islam dan Muslim, dan terutama Nabi Muhammad Saw dalam bentuk penghinaan dan ejekan terhadap sosok yang tercerahkan dan suci ini, justru secara nyata dengan pendekatannya sekarang memprovokasi dan mendorong anti-Islam dan penyebaran anti-Islam, yang mau tidak mau menimbulkan reaksi seperti insiden baru-baru ini di pinggiran kota Paris.

Selain itu, dengan mengusir warga Muslim dari negara ini, Perancis berusaha membenarkan dirinya dalam penyebaran ekstremisme dan terorisme Takfiri dalam sebuah tindakan yang bisa disebut melarikan diri ke depan.

Perancis bersama beberapa negara Eropa seperti Inggris yang dipimpin oleh Amerika Serikat, berperan penting dalam menyebarkan terorisme dan ekstrimisme di Asia Barat serta membentuk kelompok teroris takfiri seperti Daesh (ISIS).

Menurut Frederic Poisson, pakar Asia Barat, Amerika Serikat dan Perancis bersama-sama bertanggung jawab atas kemunculan ISIS.

Tujuan Barat dari menciptakan kelompok teroris untuk melawan dan menggulingkan pemerintah Suriah, dan akhirnya menghancurkan poros perlawanan di mana Suriah memainkan peran kunci. Namun, kelompok teroris yang sama, terutama ISIS, dalam beberapa tahun terakhir mengalihkan serangan mereka terhadap pendukung Barat mereka, termasuk beberapa serangan teroris di Perancis.

Muslim Perancis

Alih-alih menerima tanggung jawabnya dalam hal ini, Paris hanya bermaksud menghapus gambaran masalah, yaitu mengusir warga yang dicurigai melakukan kegiatan ekstremis, sehingga diharapkan dapat mencegah aksi-aksi ekstremis di tanah airnya. Padahal, ini adalah benih yang ditanam sendiri oleh Perancis dan kini harus menuai buah dari perbuatannya.

Pada saat yang sama, pemerintah Perancis harus melakukan upaya serius untuk mencegah terulangnya peristiwa seperti insiden baru-baru ini di pinggiran kota Paris, terutama terkait penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw.

Tags

Komentar