Okt 24, 2020 12:47 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump
    Presiden AS Donald Trump

Dinamika di dalam negeri Amerika Serikat pekan ini diwarnai sejumlah isu penting terkait statemen dan sikap presiden Donald Trump.

Juga ada isu lainnya seperti upaya kubu Republik lengserkan ketua DPR, statemen Fauci mengenai penolakan Trump memakai masker, pendapat pakar AS mengenai senjata Iran, F-18 AS jatuh di California, AS kembali ulang klaim tak berdasar terkait Iran, statemen menhan AS mengenai normalisasi negara Arab dengan Israel, dan berbagai isu lainnya.

Trump: Jika Saya Menang, Iran Negara Pertama Kontak Dirinya

Presiden Amerika Serikat Donald Trump seraya mengulang klaim dan halusinasinya menyatakan, kontak telepon pertama dirinya setelah kemenangan pemilu presiden mendatang adalah dari Iran.

Donald Trump

Seperti dilaporkan FNA, Donald Trump Ahad (18/10/2020) malam waktu setempat di sebuah kampanye pemilu di negara bagian Nevada seraya mengkritik sikap rivalnya dari Demokrat, Joe Biden mengklaim, "Negara pertama yang akan menghubungi Saya setelah kemenangan pemilu adalah Iran."

Presiden Amerika dan petingig senior pemerintahannya termasuk Menlu Mike Pompeo selama beberapa bulan terakhir berulang kali di pidotnya atau cuitan Twitternya secara langsung atau tersirat menuntut perundingan dengan Iran.

Trump dan pemerintahannya ketika terus berbicara mengenai perundingan dengan Iran, Washington tahun 2018 secara sepihak dan ilegal keluar dari JCPOA dan memulihkan sanksi nuklir terhadap Iran.

Langkah Trump ini menuai kecaman luas baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.

Trump juga mengatakan dirinya tidak lagi sakit dan meminta pendukungnya memberi suara kepadanya di pilpres November sehingga Biden gagal menjadi presiden Amerika.

Kemudian Trump mengisyaratkan aksi protes rasis di negaranya dan menyebut demonstran pemiku kekacauan serta kubu demokrat pendukung kerusuhan dan sayap kiri ekstrim.

Presiden Amerika ini juga mendukung kesepakatan kompromi Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan rezim Zionis Israel.  

Atasi COVID-19, Trump Usulkan Paket Stimulus Baru

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mengusulkan paket stimulus ekonomi baru ke parlemen dengan nilai lebih dari US$1,5 triliun pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Paket stimulus pertama sebesar US$25 miliar telah habis digunakan hingga akhir September 2020.

Pembicaraan antara Gedung Putih dan DPR, yang dikuasai Partai Demokrat, mengalami kebuntuan mengenai besaran paket stimulus yang ingin digelontorkan. Demokrat ingin mengesahkan paket stimulus ekonomi sekitar US$2,2 triliun. Namun, Gedung Putih berkukuh pada angka US$1,5 triliun.

Tak lama setelah itu, pemerintahn Trump mengajukan anggaran sebesar $ 1,8 triliun pada hari Jumat, 9 Oktober  2020 sebagai stimulus Virus Corona, COVID-19 (Covid-19). Anggaran ini akan dinegosiasikan dengan Partai Demokrat, sebagai upaya kedua belah pihak mencapai kesepakatan sebelum pemilu 2020.

Jumlah stimulus ini naik dari dari US$ 1,6 triliun yang diusulkan pemeritahan Trump sebelumnya. Parlemen dari kubu Demokrat mengesahkan tagihan $ 2,2 triliun awal bulan ini, dan kedua belah pihak telah berjuang untuk menemukan konsensus di antara angka-angka itu.

Menurut juru bicara Demokrat California Drew Hammill, Ketua DPR Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin telah berbicara selama lebih dari 30 menit Jumat sore, 9 Oktober 2020. Mnuchin menawarkan proposal yang berusaha untuk mengatasi beberapa kekhawatiran yang dimiliki Demokrat.

Hammill dalam pernyataannya seperti dikutip CNBC International, Sabtu (10/10/20), mengatakan, yang menjadi perhatian khusus, adalah tidak adanya kesepakatan tentang rencana strategis untuk membasmi virus. Untuk ini dan ketentuan lainnya, kami masih menunggu pernyataan dari administrasi karena negosiasi tentang jumlah dana keseluruhan terus berlanjut.

Trump Umumkan Normalisasi Hubungan Israel-Sudan

Presiden Amerika Serikat, Jumat (23/10/2020) secara resmi mengumumkan kesediaan Sudan untuk menormalisasi hubungannya dengan rezim Zionis Israel.

Fars News (23/10) melaporkan, pemerintah Gedung Putih, Jumat (23/10) mengumumkan, Presiden Donald Trump secara resmi mengabarkan kesepakatan Israel dan Sudan untuk menormalisasi hubungannya.

 Gedung Putih menganggap bergabungnya negara Arab lain dalam “Kesepakatan Ibrahim” sebagai langkah besar dan penting menuju perdamaian di Timur Tengah.

Trump juga yakin Arab Saudi akan segera menyusul, dan lima negara Arab lainnya sudah mengajukan permohonan untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.

Kantor berita Reuters mengabarkan, hari Jumat (23/10) Presiden Amerika, Perdana Menteri Israel, Perdana Menteri Sudan, dan Ketua Dewan Militer Sudan, melakukan pembicaraan segiempat terkait normalisasi hubungan Khartoum dan Tel Aviv.

Dalam pernyataan bersama, ketiganya menyepakati dijalinnya hubungan ekonomi, dan perdagangan antara Sudan dan Israel, yang untuk sementara dipusatkan pada sektor pertanian.

Di sisi lain Amerika akan melakukan sejumlah langkah untuk mengakui kedaulatan Sudan, dan menjalin kerja sama dengan sekutu Washington lainnya untuk mengurangi utang Sudan.

Pakar Militer AS: Senjata Iran Lebih Canggih dari Produk Asing

Salah seorang pakar militer Amerika Serikat mengakui bahwa Iran dapat memproduksi persenjataan, dan peralatan militer yang lebih canggih dari produk luar negeri.

Des Roches

Fars News (20/10/2020) melaporkan, bersamaan dengan habisnya masa berlaku embargo senjata Iran, banyak kalangan yang menganalisa masalah ini, salah satunya pakar militer sekaligus dosen di Universitas Pertahanan Nasional Amerika, David Des Roches.

Seperti dikutip situs stasiun televisi CNBC, Des Roches menuturkan, Iran telah membuktikan, sekalipun hanya diperbolehkan membeli peralatan militer dalam jumlah kecil, dalam 20 tahun mendatang ia akan mampu meluncurkan produk-produk yang dalam beberapa kasus bahkan lebih baik dari yang dibelinya. 

Ia menambahkan, Iran juga mampu melakukan perbaikan bertahap dengan rekayasa teknologi terbaru, dan menambah mesin-mesin baru, sehingga ia bisa mencapai kemampuan-kemampuan operasi lebih besar, lebih mematikan, sekaligus melakukan reproduksi.

Embargo senjata Iran secara resmi berakhir pada hari Minggu (18/10/2020) dinihari, sehingga negara ini bisa kembali melakukan ekspor-impor persenjataan berdasarkan resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB.

Jet Tempur F-18 AS Jatuh di California

Sebuah jet tempur F-18 Super Hornet AS jatuh pada Selasa (20/10/2020) pagi waktu setempat di dekat Pangkalan Angkatan Udara China Lake di selatan California.

Dikutip dari Tasnimnews, media-media Amerika melaporkan bahwa pilot jet tempur tersebut selamat dari kecelakaan itu.

Sejauh ini belum ada laporan yang dirilis tentang penyebab kecelakaan tersebut

Lagi, AS Ulangi Klaim-klaim tak Berdasar terhadap Iran

Duta Besar AS untuk PBB, Kelly Craft dalam sebuah pernyataan anti-Iran, mengklaim bahwa Tehran tidak mematuhi resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB.

Klaim itu disampaikan dalam pertemuan virtual Dewan Keamanan untuk membahas situasi di Teluk Persia, seperti dikutip IRNA, Selasa (20/10/2020).

Kelly Craft

"Iran tidak berkomitmen pada isi dan spirit resolusi Dewan Keamanan," kata Kelly Craft tanpa menyinggung pelanggaran nyata AS terhadap resolusi 2231 Dewan Keamanan.

Dia menambahkan bahwa bagian penting dari upaya AS adalah mengambil strategi yang jelas mengenai Iran.

AS, kata Kelly Craft, mengakui bahwa Iran adalah satu-satunya ancaman terbesar bagi perdamaian dan keamanan di Asia Barat dan kita menghadapi kegiatan destabilisasi secara luas yang dilakukan negara itu.

Padahal, sekutu regional Amerika melakukan kejahatan besar-besaran di kawasan dengan dukungan finansial dan persenjataan dari Washington. Sejak Donald Trump berkuasa, AS memilih keluar dari sejumlah perjanjian internasional dan mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Langkah AS untuk memperpanjang embargo senjata Iran tidak mendapat dukungan di PBB dan embargo ini secara otomatis berakhir pada 18 Oktober lalu.

Esper: Normalisasi dengan Israel untuk Hadapi Iran

Dalam sebuah klaim, Menteri Pertahanan AS menyebut normalisasi hubungan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan rezim Zionis untuk menciptakan semacam struktur keamanan untuk menghadapi Iran.

Menurut laporan FNA, berbicara di Dewan Atlantik di Washington pada hari Selasa (20/10/2020), Menteri Pertahanan AS Mark Esper menyebut normalisasi hubungan antara UEA dan Bahrain dengan Israel sebagai "pencapaian besar" bagi presiden AS dan timnya di Gedung Putih, dan mengklaim bahwa negara-negara Arab akan melihat bahwa ketika melakukan normalisasi, akan menciptakan potensi besar untuk pertumbuhan ekonomi.

Untuk membenarkan klaimnya, pejabat militer AS ini menyebut Iran sebagai ancaman bersama dan berkata, "Visi dari perjanjian tersebut adalah untuk menciptakan semacam struktur keamanan di mana negara-negara di kawasan itu bekerja sama dengan rezim Zionis untuk mencegah konflik dengan Iran."

Menhan AS Mark Esper

Sebelumnya, perwakilan AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kelly Craft, secara tersirat menggambarkan proses tersebut sebagai langkah melawan Iran, yang menyatakan bahwa dalam beberapa hari ke depan ada kemungkinan mengumumkan kesepakatan kompromi negara-negara lain dengan.

UEA dan Bahrain menandatangani perjanjian normalisasi di Gedung Putih pada 15 September di hadapan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah mengumumkan kesepakatan kompromi dengan rezim pendudukan al-Quds.

Fauci: Penolakan Trump Memakai Masker, tak masuk Akal

Anthony Fauci, ketua Institut Alergi dan Penyakit Berjangkit Nasional AS menilai sikap Presiden AS Donald Trump yang menolak memakai masker sebagai langkah tak masuk akal.

Dalam wawancaranya dengan televisi CBS, Anthony Fauci kembali merespon penolakan Trump memakai masker dan mengatakan, Trump menilai memakai masker sebagai tanda kelemahan dan langkah presiden Amerika ini tak masuk akal.

"Mengenakan masker akan mencegah terpapar virus Corona," ungkap Fauci.

Di awal pandemi Corona di Amerika, Trump menolak memakai masker dan mengatakan tak perlu memakai masker.

Presiden Amerika usai debat presiden pertama dengan Joe Biden dirawat beberapa hari di rumah sakit karena terinfeksi virus Corona.

Trump saat ini meski hasil tesnya dinyatakan positif, tapi tetap mengabaikan protol kesehatan dan berpartisipais di kampanye pemilu.

 

 

Tags

Komentar