Okt 26, 2020 17:19 Asia/Jakarta
  • Ketika AS Kehabisan Amunisi untuk Menekan Iran

Pemerintah AS menerapkan kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran setelah Washington secara sepihak keluar dari perjanjian nuklir JCPOA pada 8 Mei 2018.

AS kemudian menerapkan sanksi yang paling berat terhadap Iran dan mengumumkan sanksi-sanksi baru dari waktu ke waktu. Namun, kini Washington mengakui bahwa hanya tersisa sedikit ruang untuk menerapkan sanksi baru terhadap Tehran.

Penasihat Keamanan Nasional AS, Robert C. O'Brien kembali menuding Iran dan Rusia telah mencampuri urusan pemilu Amerika.

“Salah satu masalah yang kami hadapi dengan Iran dan Rusia adalah bahwa kami sekarang menjatuhkan begitu banyak sanksi terhadap mereka sehingga kami hanya memiliki peluang yang sangat kecil untuk mengumumkan sanksi baru,” kata O'Brien ketika ditanya bagaimana Washington akan merespons Tehran dan Moskow yang dituduh mempengaruhi pemilu AS.

Namun, lanjutnya, kami sedang mengkaji semua langkah-langkah potensial yang dapat kami terapkan terhadap Iran, Rusia, dan Cina.

Pernyataan O'Brien sebenarnya merupakan sebuah pengakuan bahwa pemerintahan Trump telah mengerahkan segala daya untuk melawan Iran dalam 2,5 tahun terakhir, dan sekarang mereka tidak memiliki alat dan sarana baru untuk meningkatkan tekanan terhadap Tehran.

Presiden Donald Trump percaya bahwa dengan keluar dari JCPOA dan menerapkan kebijakan tekanan maskimun, ia dapat memaksa Iran duduk di meja perundingan untuk mencapai apa yang disebutnya sebagai kesepakatan yang lebih baik.

Ilustrasi Presiden Donald Trump dan Bendera Amerika-Iran.

Namun setelah lebih dari dua tahun berlalu, Washington gagal mewujudkan ambisinya tersebut, dan Trump mendapat kritikan luas dari berbagai faksi dan kubu di AS menjelang pemilu presiden. Para kritikus Trump menudingnya tidak memiliki strategi terhadap Iran, meningkatkan ketegangan yang tak perlu dengan Tehran, dan memisahkan AS dari sekutunya.

Jika melihat sejarah konfrontasi Iran-AS selama 40 tahun terakhir, maka akan diketahui bahwa Republik Islam tidak pernah tunduk pada tekanan sanksi dari Negeri Paman Sam.

Putaran terbaru sanksi AS dijatuhkan pada 8 Oktober 2020 yang menargetkan 18 bank dan lembaga keuangan Iran dengan tujuan mempersulit Iran untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan dasar dan kemanusiaan. Langkah ini merupakan contoh nyata dari kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dalam kerangka strategi perlawanan maksimum, Iran mengadopsi berbagai langkah untuk menetralisir dampak sanksi AS yang tidak manusiawi. AS secara praktis telah terkucil dan sekarang tidak hanya di tengah negara-negara rivalnya, tetapi para sekutu AS di Eropa juga menentang sanksi sepihak dan kebijakan unilateral Trump.

Menurut Philip Gordon, mantan penasihat Obama, evaluasi atas tindakan pemerintahan Trump membawa kita pada kesimpulan bahwa Trump telah bertaruh dalam mewujudkan mimpi untuk membawa Iran ke meja perundingan demi apa yang disebutnya sebuah "kesepakatan yang lebih baik."

“Dengan cara ini mereka mengira dapat memperkeruh situasi di Iran, tetapi tidak satu pun dari prediksi ini menjadi kenyataan,” ujarnya. (RM)

Tags

Komentar