Okt 28, 2020 17:13 Asia/Jakarta
  • Warga Palestina mengecam penghinaan terhadap Rasulullah Saw yang dilakukan Prancis.
    Warga Palestina mengecam penghinaan terhadap Rasulullah Saw yang dilakukan Prancis.

Umat Islam di seluruh dunia menunjukkan kemarahannya atas penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad Saw di Prancis dan pembelaan Presiden Emmanuel Macron atas langkah tercela ini dengan dalih kebebasan berekspresi.

Masyarakat Muslim juga mulai memboikot barang-barang produksi Prancis. Hal ini menimbulkan kekhawatiran pemerintah Prancis, tetapi mereka tetap mengadopsi kebijakan standar ganda dalam kasus ini.

Di satu sisi, para pejabat Paris menepis risiko konflik antara Prancis dan Dunia Islam, dan di sisi lain, mereka mengancam negara-negara Muslim seperti Turki yang telah mengambil sikap tegas terhadap pernyataan Macron.

Duta Besar Prancis untuk Swedia, Etienne de Gonneville menganggap konflik apapun antara negaranya dan Dunia Islam tidak mungkin terjadi karena pernyataan anti-Islam yang dikeluarkan Macron.

“Pertama, Prancis adalah negara Muslim,” kata de Gonneville. Dia mencatat bahwa Islam adalah agama terbesar kedua di Prancis. Kami memiliki antara 4 hingga 8 juta warga Prancis yang memiliki warisan Muslim.

Namun, Macron dalam sebuah pernyataan tak berdasar baru-baru ini menyebut Islam sedang mengalami krisis di seluruh dunia, dan menekankan bahwa pemerintah Prancis akan memperkuat sekularisme.

Macron belum lama ini juga menekankan bahwa Prancis akan terus menerbitkan kartun-kartun yang menghina Rasulullah. Menyusul statemen ini, tagar boikot produk-produk Prancis menjadi trending topik di negara-negara Arab dan barang buatan Prancis mulai ditarik dari gerai toko-toko mereka.

Jelas bahwa sikap Macron tentang Islam secara prinsip berbeda dengan pandangan duta besar. Sebenarnya, kebijakan pemerintah Prancis tentang Islam dan Muslim adalah apa yang disampaikan Macron.

Prancis dengan sengaja membiarkan propaganda anti-Islam dan secara khusus menyebarkan aksi-aksi penistaan terhadap Nabi Muhammad Saw dengan alasan kebebasan berekspresi. Negara itu dengan sengaja telah menyerang Islam dan kaum Muslim.

Aksi protes warga Bangladesh mengecam Presiden Macron.

Mufti Agung Lebanon, Syeikh Abdul Latif Derian menganggap penghinaan terhadap Rasulullah Saw di Prancis sebagai bentuk permusuhan terhadap seluruh Muslim di dunia.

“Kebebasan berekspresi dan berkeyakinan tidak berarti menghina keyakinan orang lain dan konsep 'kebebasan mutlak' harus ditinjau ulang,” imbuhnya.

Pada saat yang sama, statistik menunjukkan bahwa ketertarikan pada Islam terus meningkat di negara besar Eropa ini. Jadi, propaganda dan sikap anti-Islam Macron justru mendorong warga Prancis untuk menyelidiki tentang Islam dan sosok Rasulullah Saw.

Namun di sisi lain, pemerintah Prancis tidak menerima jika ada orang-orang yang mengkritik sikap anti-Islam yang adopsi negara itu. Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin memperingatkan Turki tentang apa yang disebutnya "intervensi dalam urusan internal negaranya" dan mengatakan bahwa campur tangan kekuatan asing terhadap apa yang terjadi di Prancis, mengejutkan.

Prancis sebelum ini telah menarik duta besarnya dari Turki menyusul komentar yang dibuat Presiden Recep Tayyip Erdogan. Dia mengecam serangan terhadap Islam yang dilakukan Prancis dan meminta Macron untuk menjalani tes kesehatan mental.

Anehnya, pemerintah Prancis mengizinkan dirinya untuk mencampuri urusan negara lain secara terbuka, seperti yang dilakukan Macron dalam kunjungannya ke Beirut, di mana ia mengeluarkan perintah dan larangan untuk Lebanon.

Perlu dicatat bahwa Islamofobia dan penghinaan terhadap Nabi Muhammad bukanlah sebuah masalah internal, dan dampaknya juga tidak terbatas di Prancis saja. Oleh karena itu, Prancis sekarang menghadapi banjir kecaman dari kaum Muslim dan negara-negara Islam di seluruh dunia yang diikuti oleh seruan boikot produk-produk Prancis. (RM)

Tags

Komentar