Okt 31, 2020 10:00 Asia/Jakarta
  • Aksi protes terhadap Macron
    Aksi protes terhadap Macron

Penghinaan media Prancis terhadap Nabi Muhammad Saw dan dukungan Presidennya terhadap aksi tersebut memicu reaksi luas di dunia Islam.

Tabloid Prancis Charlie Hebdo kembali menghina Nabi Muhammad Saw dengan dukungan dari Presiden Prancis Emmanuel Macron. Penghinaan yang menyinggung umat Islam tersebut bukan pertama kalinya dilakukan Barat.

Sekitar 30 tahun yang lalu, Salman Rushdie, seorang penulis Inggris-India, menulis buku anti-Islam berjudul "Satanic Verses" yang menghina Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya. Tidak hanya itu, seorang sutradara Belanda Theo van Gogh membuat film yang mendeskreditkan Islam dan menempatkannya sebagai penyebab utama penindasan terhadap perempuan.

Pada tahun 2005, media Denmark untuk pertama kalinya menerbitkan kartun-kartun yang menghina Nabi Muhammad Saw. Setahun kemudian, seorang sutradara Belanda menjadikan kartun provokatif ini sebagai fokus  konten filmnya.

Pada 2015, majalah Prancis Charlie Hebdo menghina Nabi Muhammad Saw dan melukai perasaan umat Islam sedunia dengan menerbitkan kartun-kartun yang menghina Rasulullah. Kini, Charlie Hebdo kembali menghina Nabi Muhammad Saw, dan kali ini didukung Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan dalih kebebasan berekspresi. Macron mengambil langkah ini demi mendongkrak popularitasnya yang semakin tergerus.

 

Charli Hebdo

 

Masalahnya, kebebasan berekspresi ala Macron diterapkan dengan standar ganda demi mengusung agenda politik populisme. Tujuan utama dari penyebaran Islamofobia demi membendung peningkatan Islam di Eropa. Sekitar 10 persen dari populasi Perancis adalah Muslim dan kecenderungan terhadap Islam semakin meningkat di negara ini.

Langkah provokatif media Prancis dan pernyataan dukungan Macron ditujukan untuk menekan Muslim di Prancis, sekaligus menjadi tanda ketidakmampuan Barat dalam menyikapi penyebaran Islamisme. Tampaknya salah satu tujuan utama penghinaan terhadap sosok mulia seperti Nabi, dan dukungan pejabat Barat demi menormalkan penghinaan tersebut sebagai bagian dari konflik Barat dengan Islam.

Langkah anti-Islam yang dilancarkan Prancis memicu reaksi beragam di seluruh penujuru dunia Islam. Aktivis dunia Islam meluncurkan kampanye boikot besar-besaran terhadap produk Prancis di dunia maya. Tagar "Nabi kami adalah garis merah kami", "Macron menghina Nabi" dan "Boikot produk-produk Prancis" menjadi populer di sebagian besar negara Muslim.

Beberapa kelompok dan sejumlah besar Muslim di berbagai negara menuntut pengusiran duta besar Prancis dari negaranya dan pemutusan hubungan dengan Paris. Para elit dunia Islam juga menekankan perlunya tindakan tegas melawan gerakan anti-Islam yang dilakukan Prancis, sebagaimana disoroti pada Konferensi Persatuan Islam yang sedang berlangsung di Tehran.

Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran memilih pendekatan yang berbeda dengan mengirim sebuah surat kepada pemuda Prancis berisi pertanyaan tentang tanggapan mereka mengenai langkah presidennya yang mendukung penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw. Rahbar mengajukan pertanyaan menohok, "Apakah  kebebasan berbicara berarti penghinaan dan permusuhan?"

Reaksi ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap Nabi Muhammad Saw menjadi poros persatuan dan kohesi di negara-negara Muslim. Namun, menghadapi tindakan dan pernyataan menghina dari Barat terhadap Nabi Muhammad Saw dan agama Islam masih membutuhkan tindakan operasional yang lebih kuat.(PH)

Tags