Nov 06, 2020 16:42 Asia/Jakarta
  • Joe Biden (kiri) dan Donald Trump (kanan).
    Joe Biden (kiri) dan Donald Trump (kanan).

Pemilu presiden AS 2020 – seperti yang diperkirakan – berubah menjadi salah satu pemilu yang paling kontroversial dalam sejarah negara itu dan dampaknya akan bertahan lama di kancah politik AS.

Sekarang banyak pihak mempertanyakan demokrasi AS yang dipromosikan oleh Washington di dunia.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro, menyinggung pemilu AS yang belum jelas hasilnya sampai sekarang dan statemen Presiden Donald Trump tentang kecurangan yang terjadi.

"Kami benci Amerika Serikat karena mencoba mengajari kami pelajaran tentang demokrasi," kata Maduro. Dia menekankan bahwa tidak seperti Amerika, Venezuela memiliki sistem pemilu yang transparan dan stabil.

Maduro mengatakan bahwa di Venezuela, hasil pemilu diumumkan pada malam yang sama secara akurat.

AS menuding bahwa pemerintahan Maduro telah merusak proses demokrasi di Venezuela dan harus mundur.

Maduro menyoroti proses pemilu presiden AS yang kontroversial, rumit, dan sekarang ditambah lagi oleh tuduhan capres dari Partai Republik, Donald Trump yang tidak mengakui kekalahannya, meskipun data pemilu menunjukkan bahwa rivalnya, Joe Biden telah unggul. Trump secara tidak langsung mempertanyakan seluruh sistem politik Amerika dan memandangnya sebagai sistem yang korup.

Presiden Nicolas Maduro.

Tiga hari setelah pemilu, AS belum mengetahui siapa yang akan memimpin negara itu untuk empat tahun ke depan, karena kertas suara yang dikirim via pos belum selesai dihitung. Namun, Trump berulang kali mempertanyakan proses pemilu di negaranya termasuk masalah kecurangan.

Trump mengatakan bahwa ada surat suara siluman yang dihitung sehingga membuat perolehan suaranya hilang secara ajaib.

Namun, ketika sistem yang sama membuatnya menang pada pemilu presiden 2016, Trump tidak mempertanyakannya, dan sekarang ketika ia merasa dirinya akan kalah, dia mulai mempertanyakan prinsip dan sistem pemilu di AS.

Menurut Kepala Misi di Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama Eropa (OSCE), Michael Georg, tudingan Presiden Donald Trump tentang adanya kecurangan dalam pemilu presiden 2020 telah merusak kepercayaan warga Amerika pada demokrasi. Trump terang-terangan sedang menyalahgunakan kekuasaannya sebagai presiden.

Tudingan seperti ini masih wajar jika datang dari Joe Biden, karena Trump sebagai presiden, memiliki kendali atas semua lembaga federal di AS.

AS selalu berbicara tentang demokrasi dan menginvasi negara-negara lain seperti, Irak dan Afghanistan dengan dalih menegakkan demokrasi, padahal demokrasi di wilayahnya sendiri masih carut-marut.

Salah satu pilar demokrasi adalah peran rakyat dalam memilih penguasa, ia dipilih melalui proses pemilu yang menjadi ciri khas sistem demokratik.

Sekarang Trump tidak hanya menyebut sistem politik Amerika korup, tetapi secara prinsip mempertanyakan sistem pemungutan suara di negaranya dan menekankan terjadinya kecurangan besar-besaran dalam pemilu. Dia bahkan menuding Demokrat telah mencuri suaranya.

Jika klaim ini benar dan suara rakyat dapat dengan mudah dihilangkan atau dialihkan ke calon lain, maka harus diakui bahwa pilar demokrasi Amerika goyah dan hampa. (RM)

Tags