Nov 10, 2020 08:53 Asia/Jakarta

Diskriminasi rasial dan kekerasan yang meluas dan sistematis terhadap kulit berwarna, terutama kulit hitam menjadi masalah bagi Amerika sejak awal berdiri hingga kini.

Terlepas dari perjuangan luas orang-orang kulit hitam menuntut hak-haknya, mereka tetap menjadi korban dari berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan di AS.

Sekelompok dari mereka baru-baru ini menulis sepucuk surat kepada Presiden terpilih AS, Joe Biden dan wakilnya Kamala Harris yang menekankan bahwa keluarnya Donald Trump dari Gedung Putih tidak menjamin berakhirnya kondisi diskriminatif terhadap warga kulit hitam, dan meminta Biden memprioritaskan permintaannya.

Mereka ingin suaranya didengar dan tuntutannya diprioritaskan bukan hanya karena orang kulit hitam adalah pemilih yang dapat diandalkan untuk Partai Demokrat, tetapi juga karena mereka tinggal di negara dalam situasi yang benar-benar kritis dari sisi diskriminasi rasial.

 

Joe Biden dan Kamala Harris

 

Surat penting dari warga kulit hitam AS kepada Biden sebenarnya menunjukkan suara sekitar 12 persen dari populasi negara ini supaya mengambil langkah serius untuk memenuhi janji kampanyenya dalam mengakhiri diskriminasi terhadap warga kulit berwarna dan mengambil tindakan demi mengurangi kekerasan polisi AS terhadap mereka.

Biden secara khususdalam pidato kemenangannya pada Sabtu malam, 7 November 2020 kembali menegaskan pemberantasan rasisme sistematis. Selama kampanyenya pada Juli 2020, Joe Biden dalam cuitan memperingati Hari Kemerdekaan AS mengakui bahwa rasisme sistematis di negara itu memiliki sejarah lebih dari dua abad. Biden dalam pesannya menulis, "Rasisme sistematis telah ada di Amerika Serikat selama lebih dari 200 tahun dan terus memberikan dampak yang menghancurkan terhadap masyarakat Amerika,".

Amerika Serikat tidak pernah memenuhi prinsip dasarnya "semua orang diciptakan setara", bahkan presiden baru Amerika Serikat sendiri sangat menyadari tirani rasial yang terjadi di negaranya. Namun, karena rasisme yang mengakar dalam masyarakat Amerika, serta kecenderungan struktur dan institusi Amerika mengabadikan situasi abnormal saat ini, hanya ada sedikit harapan untuk perubahan mendasar yang berpihak pada warga kulit berwarna, dan diakhirinya diskriminasi dan kekerasan terhadap mereka.

 

 

Faktanya, diskriminasi rasial, pendidikan, pekerjaan, dan ketimpangan sosial, serta kekerasan terhadap warga kulit hitam menjadi fenomena lumrah di AS. Terlepas dari kenyataan bahwa gerakan hak-hak sipil kulit hitam di tahun 1950-an menciptakan gelombang memperjuangkan hak-hak mereka dan penghapusan diskriminasi, tapi realitas masyarakat Amerika saat ini menunjukkan berlanjutnya diskriminasi rasial dalam berbagai dimensi. Tidak heran, jika mantan Presiden AS Barack Obama menyebut rasisme berada dalam "DNA" orang Amerika.

Data statistik menunjukkan bahwa korban utama kekerasan polisi AS adalah orang kulit berwarna, terutama kulit hitam. Masalah ini menjadi salah satu alasan utama protes dan kerusuhan terbaru yang terjadi di AS. Pemicu utama kekerasan ini kembali ke lapisan rasisme yang dalam di tengah masyarakat Amerika. Contoh paling jelas kasus pembunuhan George Floyd oleh seorang perwira polisi kulit putih Amerika Serikat. 

Gerakan "Black Lives Matter" menjadi tanggapan atas berlanjutnya rasisme dan diskriminasi, serta kekerasan yang merajalela terhadap orang kulit hitam, terutama yang dilakukan oleh polisi AS.

"Bukan hanya George Floyd yang tidak bisa bernapas, tapi banyak orang yang merasa tercekik dan tidak bisa bernapas," kata presenter dan komentator CNN, Van Jones menyinggung kematian tragis George Floyd. Naiknya, Biden mengusung pekerjaan rumah besar untuk mengatasi masalah rasialisme struktural yang terjadi di AS.(PH)

Tags