Nov 14, 2020 15:55 Asia/Jakarta
  • Seruan Dunia kepada AS untuk Mengakhiri Sanksi Iran

Amerika Serikat – setelah meninggalkan perjanjian nuklir JCPOA pada Mei 2018 – memberlakukan sanksi besar-besaran terhadap Iran dalam konteks kebijakan tekanan maksimum. Washington terus mengumumkan sanksi tidak manusiawi ini di tengah perjuangan Tehran mengalahkan pandemi virus Corona.

Di sisi lain, dunia internasional tak henti-hentinya menyerukan pencabutan sanksi sepihak AS terhadap Republik Islam.

Para menteri luar negeri anggota G77 dan Cina dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan di New York pada hari Kamis (12/11/2020), menekankan pencabutan segera sanksi sepihak AS terhadap Iran.

Kelompok 77 plus Cina menolak sanksi ekonomi sepihak terhadap Republik Islam Iran dan menyerukan pencabutan segera sanksi tersebut. Mereka mencatat bahwa sanksi sepihak ini berdampak negatif terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Iran.

Mengingat pentingnya G77 dan Cina karena banyaknya jumlah negara anggota kelompok ini, maka pernyataan mereka dapat dianggap sebagai sebuah seruan global untuk mencabut sanksi kejam AS terhadap Iran. Sejauh ini sejumlah negara telah mengajukan tuntutan serupa dalam berbagai kesempatan.

Pada Maret 2020, delapan negara - Rusia, Cina, Suriah, Kuba, Nikaragua, Korea Utara, Venezuela, dan Iran - mengirim surat bersama kepada Sekjen PBB Antonio Guterres dan memintanya untuk mencabut sanksi sepihak Washington terhadap Tehran, karena ini menghambat upaya melawan virus Corona di Iran.

Tuntutan serupa bahkan disuarakan di Amerika sendiri. Lebih dari 30 anggota Kongres menyerukan pengurangan sanksi terhadap Tehran setelah para pejabat Iran dan internasional mengkritik dampak negatif sanksi AS terhadap kemampuan pemerintah Iran dalam menangani wabah Covid-19.

Presiden AS Donald Trump dan Iran.

Para anggota Kongres AS dalam suratnya, meminta penangguhan sanksi terhadap Iran karena mewabahnya virus Corona dan mencatat bahwa meningkatnya krisis Corona di Iran tidak hanya mengancam rakyat Iran, tetapi juga rakyat Amerika dan dunia.

Mereka menyerukan pelonggaran sanksi pada sektor-sektor makro ekonomi Iran, termasuk sektor penting industri sipil, sistem perbankan Iran, dan ekspor minyak selama krisis Corona masih berlanjut.

25 lembaga Amerika dalam sebuah surat kepada Presiden Donald Trump serta menteri luar negeri dan menteri keuangan AS, meminta Gedung Putih untuk mempertimbangkan kembali kebijakannya terhadap Iran sehubungan dengan wabah Covid-19.

Namun, pemerintahan Trump bersikeras untuk melanjutkan perang ekonomi besar-besaran dengan memberlakukan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah terhadap Iran. Pemerintah AS – melalui sanksi sekunder – juga memaksa negara dan perusahaan asing agar mematuhi sanksi anti-Iran.

Kebijakan tekanan maksimum AS secara praktis telah menargetkan sistem kesehatan Iran. Hal ini ditandai dengan aksi tidak manusiawi Washington yang mencegah akses Tehran terhadap peralatan penting untuk memerangi Corona.

Pengamat politik, Simon Tisdall dalam sebuah artikel di surat kabar The Guardian Inggris menulis, “Meskipun tekanan sanksi terhadap negara-negara seperti Iran dan Venezuela akan menimbulkan kesulitan besar bagi mereka, tetapi AS pasti tidak akan mencapai tujuannya.”

“Pada dasarnya, penerapan sanksi di tengah penyebaran wabah virus Corona akan menimbulkan risiko strategis, politik, moral, dan tentu saja kekacauan,” ungkapnya. (RM)

Tags