Nov 21, 2020 10:12 Asia/Jakarta

Amerika Serikat telah menunjuk duta besar pertamanya untuk Venezuela setelah 10 tahun, meskipun kebijakan AS memberikan tekanan maksimum pada Venezuela dan pemutusan hubungan diplomatik antara Washington dan Caracas.

Dalam pemungutan suara lisan, Senat AS menyetujui pencalonan James Story sebagai Duta Besar AS yang baru untuk Venezuela. Story menjadi Duta Besar AS Venezuela, tapi akan berkantor di Bogota, ibukota Kolombia.

Meskipun Venezuela telah berada di bawah tekanan langsung dan tidak langsung dari Amerika Serikat dalam beberapa dekade terakhir, tapi hubungan antara kedua negara telah semakin memburuk selama empat tahun terakhir di bawah Presiden Donald Trump.

Gedung Putih

Trump mengejar kebijakan tekanan maksimum terhadap Venezuela dengan tujuan menggulingkan pemerintahan sayap kiri Presiden Nicolas Maduro. Dalam hal ini, telah dilakukan penerapan sanksi luas di sektor perminyakan, moneter, dan perbankan, bantuan untuk melakukan kudeta dan ancaman militer Washington terhadap Venezuela. Tapi puncak ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela adalah dukungan dan pengakuan Washington terhadap pemimpin oposisi Juan Gauido sebagai "Presiden Venezuela".

"Presiden AS sendiri yang menciptakan Juan Guaido sendiri dan kelompoknya benar-benar membuat monster itu, dan selama dua tahun, AS  menghabiskan $ 800 juta untuk Guaido," ungkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Para pejabat Gedung Putih, terutama selama dua tahun terakhir, telah mencoba memberikan tekanan ekstra pada Maduro untuk mundur dari kekuasaan dengan mendukung Guaido secara finansial dan politik dan dengan mengajak para sekutunya untuk mendukung Juan Guaido yang memproklamirkan dirinya sendiri sebagai presiden negara ini. Tapi Guaido bukan hanya gagal merebut kekuasaan di Venezuela, tapi juga gagal menerapkan kebijakan Washington, dan bahkan menciptakan keretakan di front oposisi.

Ketika Guaido tidak lagi menjadi ketua Parlemen Venezuela, pada dasarnya itu telah menjadi akhir dari karir politiknya di Venezuela dan kemunduran besar bagi pemerintahan Trump, yang telah berinvestasi besar-besaran untuk meraih kekuasaan dan membayangkan ia mampu menggulingkan Presiden Maduro.

"Saya tidak mempercayai pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido. Dia gagal meski mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan negara lain," kata Trump dalam pernyataan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun, dukungan AS untuk lawan-lawan Maduro dan penerapan tekanan, khususnya instrumen sanksi terus berlanjut.

"Amerika Serikat telah menjadi raksasa pemarah selama kepresidenan Donald Trump. Washington mengeluarkan perintahnya ke dunia hampir setiap hari. Tapi putusan Amerika sering diabaikan. Situasi ini telah menyebabkan tuntutan yang lebih banyak dan semakin ketat yang menyebabkan lebih banyak perlawanan," kata Douglas Bandow, pakar senior dan analis di Institut CATO Amerika.

Meskipun negara-negara Amerika Latin telah menjadi sangat penting bagi Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir, dan para pejabat Washington telah berusaha untuk menundukkan berbagai pemerintah sayap kiri di wilayah tersebut untuk mengikuti kebijakannya, tapi kembalinya Presiden Bolivia yang terguling Evo Morales ke negaranya setelah kemenangan partainya, kegagalan relatif kebijakan AS di Argentina, situasi di Kuba dan kegagalan untuk menggulingkan Maduro, telah mendorong Trump untuk mengambil sikap baru terhadap negara-negara tersebut di minggu-minggu terakhir masa kepresidenannya. Dalam hal ini, Washington mengirimkan duta besarnya untuk Venezuela ke Kolombia, negara yang berbatasan dengan Venezuela.

Donald Trump dan Nicolas Maduro

Sekarang kemenangan Biden dalam pemilihan presiden AS juga telah meningkatkan perbedaan pendapat atas kebijakan masa depan AS terhadap Venezuela. Perselisihan ini sedemikian rupa sehingga beberapa percaya bahwa kelanjutan kebijakan keras AS terhadap Venezuela akan semakin mengisolasi Washington di wilayah tersebut. Kini saatnya memulai era baru.

Para pejabat AS tampaknya berusaha untuk memperbaiki kegagalan mereka dengan negara-negara Amerika Latin dengan mengubah sikap mereka. Apakah kebijakan ini berbentuk sikap mundur oleh Washington atau kebijakan baru untuk memperkuat oposisi, hanya waktu yang akan menentukannya.

Tags