Nov 23, 2020 10:14 Asia/Jakarta

Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu bertemu dengan sejawatnya dari Baku, Zakir Hasanov dan Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev untuk memastikan perjanjian gencatan senjata di wilayah Nagorno-Karabakh akan dilaksanakan sepenuhnya.

Pelaksanaan langkah demi langkah prakarsa Rusia untuk membangun perdamaian yang berkelanjutan antara Republik Azerbaijan dan Armenia terjadi dalam situasi ketika banyak ahli menganggap Rusia sebagai pemenang utama dari  upaya perdamaian tersebut.

Tinjauan tentang peran Rusia dalam ketegangan saat ini di Asia Tengah dan Kaukasus menunjukkan fakta bahwa Moskow melakukan langkah ini demi kepentingan nasionalnya dengan memanfaatkan pengaruh tradisionalnya di kawasan. Dengan perspektif ini, Rusia melakukan campur tangan dalam urusan negara tetangga yang semakin memperkuat kehadiran regionalnya.

Berpijak dari fakta ini dan jejak peran Rusia dalam konflik antara Republik Azerbaijan dan Armenia menunjukkan bahwa Moskow selalu memainkan peran utama selama bertahun-tahun dalam konflik di kawasan, termasuk krisis Nagorno-Karabakh. Pada tingkatan tertentu, kedua negara yang bertikai memiliki ketergantungan terhadap Moskow. Misalnya selama pelanggaran gencatan senjata yang terjadi di Nagorno-Karabakh, Rusia secara bersamaan menjual senjatanya ke Republik Azerbaijan dan Armenia.

Menjelang meletusnya konflik 27 September, Rusia telah mengirimkan sejumlah besar senjata ke kedua negara. Oleh karena itu, selama perang 45 hari antara Republik Azerbaijan dan Armenia, senjata kedua yang dipergunakan dalam perang tersebut sebagian besar dari Rusia. Meskipun demikian, Republik Azerbaijan juga menggunakan senjata dari Turki, rezim Zionis, Iran dan beberapa negara lain selama perang tersebut.

 

Konflik Nagorno-Karabakh

 

Mencermati perjanjian perdamaian sepuluh pasal, sebagian besar ahli menyebut Rusia sebagai pemenang utama perang di Nagorno-Karabakh. Alasan utama terjadinya perang antara Republik Azerbaijan dan Armenia untuk membuktikan siapa  pemilik wilayah Nagorno-Karabakh. Tetapi berdasarkan perjanjian perdamaian sepuluh pasal, Rusia tidak menyebutkan masalah tersebut. Artinya, perselisihan antara kedua negara atas kepemilikan wilayah Nagorno-Karabakh akan terus berlanjut. Dengan demikian, Rusia akan memiliki kesempatan lain untuk menyeret dua negara tetangga berperang di lain waktu.

Seorang analis oposan pemerintahan Putin, Keramat Buyukelci mengatakan, "Selama perang baru-baru ini, pemerintah Rusia telah melakukan sesuatu untuk membuat orang-orang di kedua sisi konflik menangis, tapi di sisi yang lain bahagia, karena kesalahannya," kata Keramat Buyukel, seorang ahli oposisi terhadap Vladimir Putin. 

"Ada tiga reaksi yang berbeda mengenai hasil perang antara rakyat Republik Azerbaijan. Ada yang senang, karena mereka mengira negaranya telah merebut kembali Nagorno-Karabakh. Tapi yang lain tahu bahwa Nagorno-Karabakh belum diambil kembali, namun tidak mempermasalahkannya dan bahagia. Mereka mungkin tidak senang, karena mereka tahu bahwa tujuan dari perjanjian ini bukan untuk mengusir tentara Armenia dari Nagorno-Karabakh, tetapi untuk mengundang 'Beruang' (Rusia) ke zona perang," tegasnya.

Faktanya, Republik Azerbaijan belum bisa merebut kembali Nagorno-Karabakh, dan alasan kebahagiaan waga negara ini karena kesalahpahaman mereka tentang kenyataan yang terjadi. Sementara orang Armenia meratapi hilangnya Nagorno-Karabakh.

Terlepas dari bias pernyataan ahli oposan Putin ini, para pihak yang bertikai dan banyak ahli di bidang ini cenderung keliru dalam melihat masalah yang terjadi di Nagorno-Karabakh. Pastinya, Rusia akan semakin kuat sebagai kekuatan regional dan global, terutama kawasan di Asia Tengah dan Kaukasus Selatan.(PH)

Tags