Nov 26, 2020 10:22 Asia/Jakarta

Kesepakatan perdamaian sepuluh pasal antara Rusia dengan Azerbaijan dan Armenia tidak menyebutkan nama pasukan penjaga perdamaian Turki. Tetapi para pejabat Ankara dengan dukungan pemerintah Baku bersikeras akan melanjutkan kehadiran militernya di wilayah Nagorno-Karabakh.

Ketika otoritas Turki menuntut kelanjutan militernya di wilayah Nagorno-Karabakh, pemerintah Armenia menekankan kehadiran pasukan Rusia di wilayah Nagorno-Karabakh dan sangat menentang kehadiran militer Turki di wilayah konflik tersebut. Bahkan, desakan Ankara mengenai kehadiran pasukan Turki di wilayah Nagorno-Karabakh telah menimbulkan friksi dengan Moskow.

Seorang pejabat pemerintah Turki menyatakan bahwa masalah pengerahan pasukan Turki sebagai pemantau di wilayah Nagorno-Karabakh merupakan perselisihan terbesar antara Ankara dan Moskow.

Pejabat Turki yang tidak mau disebutkan namanya ini mengungkapkan, "Dari sudut pandang Rusia, kehadiran pasukan Turki di wilayah Nagorno-Karabakh sama sekali tidak diperlukan. Berdasarkan teks perjanjian baru-baru ini antara Rusia, Republik Azerbaijan dan Armenia, ditetapkan hanya pasukan penjaga perdamaian Rusia yang akan ditempatkan di wilayah Nagorno-Karabakh,".

Tidak diragukan lagi, kehadiran militer suatu negara asing akan berdampak negatif terhadap kemerdekaan sebuah negara lain. Dalam situasi saat ini, Republik Azerbaijan termasuk negara merdeka yang dapat mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan wilayahnya sendiri. Pengalaman selama 28 tahun ketegangan dan konflik dengan Armenia, negara ini berhasil memaksa mundur militer Armenia dan merebut sebagian wilayahnya.

Jelas kiranya Republik Azerbaijan tidak membutuhkan bantuan asing untuk mempertahankan kemerdekaannya, terutama bantuan Turki yang sedang mengalami kesulitan di Suriah, Irak, Mediterania Timur, dan Libya.

Dalam hal ini, Ayatullah Seyyed Hassan Ameli, Wakil Rahbar di provinsi Ardabil, yang juga pengamat politik Asia Tengah dan Kaukasus mengatakan, "Republik Islam Iran telah mencoba selama bertahun-tahun untuk meyakinkan pihak berwenang Baku tentang kegunaan peran Grup Minsk. Pihak Azeri telah mengambil langkah aktif untuk merebut tanahnya dan mulai membebaskan tanahnya. Tapi sebaliknya, ada pihak yang tidak menyukai langkah tersebut, di antaranya Turki. Pejabat negara ini menentang kesepakatan sepuluh pasal tentang perdamaian Nagorno-Karabakh, tetapi berpura-pura mendukungnya. Realitasnya, Turki membantu Republik Azerbaijan, tetapi gagal memainkan peran penting dalam perang itu".

 

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

 

Bagaimanapun, kehadiran pihak asing di wilayah Republik Azerbaijan akan merusak kemerdekaan dan keutuhan wilayah negara tersebut. Pada saat Republik Azerbaijan harus memperbaiki dan membangun kembali tanah-tanah yang rusak akibat perang dan membutuhkan perdamaian, pemerintahan Erdogan sedang mengobarkan perang dengan para tetangganya, dan mungkin akan menciptakan masalah lain bagi pemerintah Baku di masa depan.

Sementara itu, para pejabat Ankara yang mengaku memberikan bantuan tanpa pamrih kepada Republik Azerbaijan dalam perang dengan Armenia, mengapa menganggap dirinya sekutu dalam kemenangan pemerintahan Ilham Aliyev?

Friksi antara Turki dan Rusia dalam masalah Nagorno-Karabakh mengindikasikan bahwa otoritas Ankara memiliki motif tertentu dalam membantu Republik Azerbaijan, sebagaimana Moskow. Tampaknya, perselisihan antara Turki dan Rusia menunjukkan bahwa negara ini sejak awal mendukung Republik Azerbaijan dalam perang menghadapi Armenia demi memaksakan tuntutannya kepada pemerintah Baku. Bahkan, para pejabat Ankara secara implisit mengharapkan Republik Azerbaijan didorong untuk meningkatkan ketegangan dengan Rusia, dan memintanya untuk menerima pasukan Turki di wilayah Nagorno-Karabakh.(PH)

Tags