Jan 16, 2021 22:07 Asia/Jakarta
  • Tentara AS di Afghantan
    Tentara AS di Afghantan

Militer Amerika Serikat Jumat (15/1/2021) mengumumkan jumlah pasukan negara ini di Afghanistana kan dikurangi hingga mencapai 2500 personel meski ada penentangan dari Kongres.

Pelaksana tugas Menteri Pertahanan AS, Christopher Miller di statemennya menyatakan, jumlah pasukan Amerika di Afghanistan berdasarkan instruksi Presiden Donald Trump akan dikurangi hingga mencapai 2500 dan ini menjadi jumlah militer Amerika paling sedikit yang ditempatkan di Afghanistan sejak tahun 2001 hingga kini.

Keputusan pemerintah Trump mengurangi pasukan negara ini di Afghanistan dilaksanakan ketika menurut Menlu Mike Pompeo, level ancaman terhadap pasukan AS turun setelah kesepakan damai dengan milisi Taliban dan Washington bergerak di jalur yang benar terkait proses perdamaian Afghanistan.

Tentara AS di Afghanistan

Selain menlu AS, milisi Taliban juga menyambut pengurangan militer Amerika dan menilainya sebagai langkah penting untuk melaksanakan kesepakatan Doha.

Terkait keputusan pemerintah Amerika untuk mengurangi jumlah pasukannya di Afghanistan, ada beberapa poin yang patut diperhatikan:

Pertama, pengurangan jumlah militer AS di Afghanistan atas instruksi Donald Trump yang dalam waktu dekat akan meninggalkan Gedung Putih. Wajar jika dengan berkuasanya Joe Biden di Gedung Putih, kebijakan luar negeri Washington terkait berbagai isu akan mengalami perubahan dan isu Afghanistan tidak keluar dari wacana ini.

Poin kedua, penarikan pasukan AS dari Afghanistan dan Irak adalah tuntutan rakyat kedua negara karena berbagai aksi yang dilakukan militer Amerika di kedua negara ini.

Tentu saja, Amerika sendiri tidak segan-segan berusaha untuk mengurangi jumlah pasukan AS di Afghanistan, mengingat kehadiran dua dekade di Afghanistan dan kritik yang meningkat atas kehadiran mereka yang terus berlanjut di Afghanistan. Sementara itu, beberapa pembantu dekat dan penasihat senior Trump mencoba untuk campur tangan dalam strategi baru Pentagon di Afghanistan untuk menggantikan pasukan dua perusahaan keamanan swasta dengan pasukan AS di negara tersebut.

Poin ketiga, menurut media Barat, penarikan pasukan AS dari Afghanistan, selain akibat keretakan tim politik dan militer pemerintah AS, juga telah membuat kesal para pejabat NATO. Faktanya, sejumlah negara anggota NATO telah menyatakan penentangan mereka terhadap penarikan pasukan AS yang tidak terkoordinasi dari Afghanistan, dan Sekretaris Jenderal NATO telah menyatakan bahwa pasukan NATO akan tetap di Afghanistan selama diperlukan.

Poin keempat, media Amerika menilai pengurangan militer negara ini di Afghanistan demi melaksanakan isi kesepakatan AS dan Taliban.

Berdasarkan kesepakatan AS dan Taliban yang ditandatangani di Doha, jika ada kemajuan di perundingan antar Afghanistan dan terbukanya peluang perdamaian di negara ini, maka hingga Mei 2021 seluru pasukan asing di Afghanistan harus ditarik.

Analisis tersebut muncul ketika putaran kedua pembicaraan damai Afghanistan telah berlangsung di Doha, Qatar, selama sekitar satu minggu, dan spekulasi telah beredar di media regional bahwa pembicaraan terhenti, semua menunjukkan bahwa pembicaraan damai Afghanistan mandek.

Poin berikutnya adalah, terlepas dari harapan dan keraguan tentang pembicaraan damai Afghanistan di Doha, Qatar, dalam beberapa bulan terakhir, selain perluasan aktivitas militer Taliban di Afghanistan, kekerasan dan pembunuhan terarah telah meningkat di negara ini.

Meskipun Taliban mengklaim bahwa kelompok itu tidak memiliki peran dalam pembunuhan dan kekerasan, semua yang terbunuh dalam kerusuhan itu adalah orang biasa dan kekuatan politik aktif di Afghanistan, dan yang lebih penting, tidak ada yang disebut darah yang ditumpahkan dari salah satu pasukan asing di Afghanistan selama periode ini. Dan yang tak kalah pentingnya, penarikan pasukan AS dari Afghanistan mungkin menjadi perintah kebijakan luar negeri terakhir yang dikeluarkan Trump sebelum meninggalkan Gedung Putih.

Terlepas dari tujuan Trump memerintahkan penarikan pasukan AS dari Afghanistan, keputusan ini diambil meski mendapat tentangan dari Kongres AS.Selain itu, posisi ini telah menyebabkan keretakan antara tim politik dan militer AS.

NATO juga harus ditambahkan sebagai pihak yang menentang. Mereka meyakini bahwa Trump tanpa berkoordinasi dengan organisasi ini merilis instruksi pengurangan pasukannya di Afghanistan. Sementara media AS dalam analisanya terkait pengurangan pasukan negara ini di Afghanistan menilainya sesuai dengan kesepakatan yang diraih Washington dengan Taliban di Doha 29 Februari 2020.

Pertanyaannya sekarang, dengan berkurangnya pasukan AS di Afghanistan, apa jaminan kekerasan di Afghanistan tidak akan meningkat? Menanggapi pertanyaan ini, beberapa pakar Afghanistan yakin bahwa Taliban menggunakan "kekerasan dan negosiasi" untuk mendapatkan kekuasaan. Ibrahim Bahis, anggota Jaringan Analis Afghanistan, mengatakan: "Tujuan Taliban adalah untuk mendapatkan kekuasaan dan memiliki jenis sistem pemerintahan yang khusus. Mencapai tujuan ini melalui negosiasi atau perang masing-masing memiliki biaya, yang mereka harus bayar. "Mereka bersedia membayarnya. Faktanya, Taliban mengejar dua jalur negosiasi dan kekerasan pada saat yang sama."

Tentara AS

Secara umum harus dikatakan bahwa jika tidak ada peristiwa khusus saat transisi kekuasaan di Amerika pada 20 Januari mendatang, Trump akan menyerahkan kekuasaan kepada Joe Biden. Dengan berkuasanya Biden di Gedung Putih, kabinet presiden baru Amerika akan memutuskan kebijakan luar negeri negara ini termasuk perundingan damai Afghanistan.

Yang jelas sampai saat ini adalah tidak ada kejelasan apa yang akan diputuskan pemerintahan Biden terkait masalah ini. Yang pasti Biden di kampanye pilpres menekankan penempatan sejumlah kecil pasukan Amerika untuk menjamin tidak ada serangan al-Qaeda atau seluruh kelompok teroris lainnya ke Amerika.

Sementara itu, Antony Blinken, kandidat Biden untuk menempati posisi menlu Amerika baru-baru ini berbeda dengan kesepakatan Qatar, menekankan bahwa berminat untuk mempertahankan sejumlah pasukan Amerika di Afghanistan untuk mencegah apa yang ia klaim sebagai hidupnya kembali terorisme dan membela kepentingan serta keamanan nasional Amerika. Padahal sebelumnya Taliban dengan transparan menyatakan, hal ini akan mendorong seluruh kesepakatan dibatalkan. (MF)

 

Tags