Jan 19, 2021 09:09 Asia/Jakarta

Uni Eropa dan Amerika Serikat selalu mengintervensi urusan dalam negeri Rusia dan menerapkan tekanan terhadap Moskow, terutama dengan mengaku mendukung oposisi serta dengan alasan hak asasi manusia. Penangkapan Alexei Navalny, tokoh oposisi Rusia, kini menjadi dalih baru mereka.

Polisi Rusia pada Minggu (17/01/2021) menangkap Navalny, yang memasuki negara itu untuk pertama kalinya sejak dugaan keracunannya musim panas lalu, di bandara Moskow. Navalny telah berada dalam daftar buronan Polisi Federal Rusia sejak 29 Desember 2020, karena pelanggaran berulang terhadap aturan pembebasan bersyarat.

Setelah penangkapan Navalny, para pejabat senior Eropa seperti Presiden Dewan Eropa Charles Michel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menuntut pembebasannya. Di Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Gregory Meeks, Ketua Komite Urusan Luar Negeri, menyerukan agar Navalny dibebaskan. Penasihat Keamanan Nasional Biden, Jake Sullivan telah membuat permintaan serupa.

Presiden Dewan Eropa Charles Michel

Sebagai tanggapan atas permintaan intervensionis pejabat Barat untuk pembebasan Navalny, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova meminta mereka untuk menghormati hukum internasional dan Rusia.

Kasus Alexei Navalny menjadi sumber ketegangan dalam hubungan Rusia-Barat, terutama dengan Uni Eropa, dan dalam hal ini Brussels telah menjatuhkan berbagai sanksi kepada Moskow. Dalam kasus kontroversial yang mendapat banyak perhatian dari Eropa dan Amerika Serikat, telah diklaim bahwa Navalny diracuni pada Agustus 2020 oleh agen Rusia dengan menggunakan sejenis gas saraf yang disebut Novichok.

Tentu saja Moskow menolak keras tuduhan tersebut. Namun, Amerika Serikat telah berusaha untuk mengeksploitasi masalah tersebut untuk mendorong Jerman keluar dari proyek pipa gas Nord Stream 2.

Menurut Anton Khlopkov, Direktur Pusat Keamanan dan Energi Rusia, Amerika Serikat memanfaatkan keracunan Navalny untuk mengusir Rusia dari pasar energi Eropa.

Alexei Navalny, seorang kritikus pemerintah Rusia dan sebagai pemimpin oposisi, selalu mendapat dukungan luas dari Uni Eropa dan Amerika Serikat. Navalny telah memainkan peran kunci dalam protes anti-pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Negara-negara Barat telah berulang kali mengklaim bahwa Rusia ikut campur dalam proses dan peristiwa politik di negara-negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir, terutama di bidang pemilu. Washington bahkan telah menjatuhkan sanksi keras terhadap Moskow dengan dalih ini.

Padahal, pihak Barat sendiri secara langsung dan terbuka mencampuri urusan dalam negeri Rusia dan mendorong masyarakat Rusia untuk menggelar demonstrasi dan protes, terutama pada masa pasca pemilu di Rusia. Pemerintah Rusia juga telah berulang kali memperingatkan konsekuensi campur tangan Barat dalam urusan internalnya.

Tindakan Barat, terutama Amerika Serikat, untuk campur tangan dalam urusan internal Rusia ditujukan untuk menciptakan ketidakstabilan, meningkatkan protes, dan pada akhirnya menciptakan kondisi bagi terbentuknya perkembangan yang menguntungkan Barat di Rusia. Salah satu langkah konkrit dalam hal ini adalah peningkatan bantuan keuangan serta dukungan penuh media kepada pihak oposisi dan menciptakan suasana negatif dalam konteks situasi internal di Rusia.

Amerika Serikat, Rusia dan Uni Eropa

Jelas, Washington ingin tokoh pro-Barat seperti Alexei Navalny berkuasa di Rusia. Sekalipun demikian, karena begitu bergantungnya oposisi terhadap Barat dan kesadaran rakyat Rusia tentang masalah ini, mereka gagal mencapai tujuannya. Bahkan sekarang, dengan penangkapan Alexei Navalny, Barat berusaha membebaskannya dan melanjutkan aktivitasnya melawan pemerintah Rusia, dan ketegangan baru telah muncul dalam hubungan Moskow-Barat.

Tags