Jan 20, 2021 22:43 Asia/Jakarta
  • Biden dan Antony Blinken
    Biden dan Antony Blinken

Menjelang acara pelantikan Joe Biden, presiden terpilih Amerika, petinggi pemerintahannya hari Selasa (19/1/2021) di sidang dengar pendapat Senat membahas isu Iran dan hal-hal yang berkaitan dengan isu ini.

Antony Blinken, kandidat menlu di sidang ini seraya menekankan bahwa pemerintahan Biden komitmen mencegah Iran menggapai senjata nuklir, mengklaim bahwa waktu Iran lari dari penggapaian senjata nuklir dari satu tahun menjadi tiga hingga empat bulan. Ia dalam hal ini mengakui bahwa kesepakatan nuklir JCPOA sukses membatasi aktivitas Iran dan keluarnya Amerika dari kesepakatan ini menjadi kesempatan peningkatan pengayaan uranium oleh Iran.

JCPOA

Avril Haines, kandidat Biden untuk menempati posisi direktur intelijen nasional Amerika mengatakan, Jika Iran kembali ke kesepakatan nuklir, Kita juga akan kembali. Namun di kondisi saat ini, hal seperti ini kecil kemungkinan terjadi dan masih ada jarak untuk meraih tahap ini. Ia menambahkan, "Kembali ke kesepakatan nuklir harus mencakup perundingan rudal dan aktivitas regional Iran."

Tampaknya terlepas dari beberapa spekulasi sebelumnya tentang konsekuensi efektivitas Biden di Iran, dan khususnya kesepakatan nuklir JCPOA, pejabat senior di pemerintahannya sekarang mengulangi posisi dan literatur yang hampir sama seperti sebelumnya. Beberapa orang mengklaim bahwa jarak Iran dari senjata nuklir telah menyempit dan menyerukan pembicaraan tentang masalah lain, termasuk kemampuan rudal dan kebijakan serta tindakan regional Iran.

Penting untuk dicatat bahwa pemerintahan Trump telah membuat alasan dan tuntutan serupa untuk keluar  JCPOA pada Mei 2018. Untuk mencapai tuntutan tersebut, Trump melancarkan kampanye tekanan maksimum terhadap Iran, termasuk penerapan sanksi paling berat terhadap suatu negara dalam sejarah. Meskipun banyak kebisingan tentang keberhasilannya, kampanye tersebut gagal dalam praktiknya untuk mencapai salah satu tujuan Washington di bawah 12 syarat Menteri Luar Negeri Mike Pompeo.

Menurut Paul Pillar, pakar politik AS, perang ekonomi dan represi maksimum Trump terhadap Iran tidak saja gagal, bahkan mengalami kegagalan di seluruh sisi.

Alasan kegagalan ini adalah penerapan kebijakan perlawanan maksimum oleh Iran dan perlawanannya terhadap tekanan AS yang kuat. Pada saat yang sama, karena penundaan pihak-pihak Eropa dari kelompok 4+ 1 dalam memenuhi kewajiban JCPOA, Tehran telah mengurangi kewajibannya dalam 5 tahap dalam kerangka JCPOA, dan sekarang, sesuai resolusi parlemen, Iran telah mencantumkan langkah seperti pengayaan uranium 20 persen dan meningkatkan cadangan uranium yang diperkaya ke dalam agenda kerjanya.

Persoalan yang pada kenyataannya digunakan untuk menunjukkan keseriusan Iran dalam melaksanakan ancamannya terhadap Barat, yakni Eropa dan Amerika Serikat, kini menjadi dalih bagi para pejabat pemerintah Biden untuk membuat klaim palsu terhadap Iran;  padahan Tehran menurut laporan  IAEA, tidak melakukan penyimpangan ke arah senjata nuklir.

Pada saat yang sama, para penasihat Biden, bertentangan dengan klaim mereka sebelumnya tentang kembalinya Amerika Serikat ke JCPOA, kini mengangkat berbagai masalah dan kondisi terkait hal ini. Faktanya, Biden dan para penasihatnya tidak hanya ingin memperluas konten dan batasan sementara dari aktivitas nuklir Iran, tetapi juga memaksakan negosiasi ke Tehran pada masalah lain, seperti kemampuan rudal dan kebijakan regional.

Sementara itu, Iran berulang kali menyatakan bahwa mereka hanya akan komitmen terhadap JCPOA dan tidak akan tunduk terhadap permintaan AMerika untuk merundingkan isu lain. (MF)

 

Tags