Mar 10, 2021 11:37 Asia/Jakarta

Penyebaran anti-Islam di Barat, terutama di Eropa, telah menimbulkan banyak perkembangan dan reaksi dalam beberapa tahun terakhir. Langkah terbaru dalam hal ini adalah diadakannya referendum burqa di Swiss, yang mendapat reaksi negatif dari berbagai organisasi Islam.

Organisasi-organisasi Islam di Swiss telah mendeklarasikan Hari Hitam bagi umat Islam dan menyebut pelarangan burqa sebagai bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Banyak wanita Muslim Swiss juga mengutuk referendum tersebut dan menekankan bahwa mengenakan niqab atau burqa adalah keputusan pribadi, bukan simbolik untuk mengekspresikan diri mereka ke dunia luar.

"Teks undang-undang ini, selain tidak berguna, juga rasis dan diskriminatif," kata Anis El Sheikh, Juru Bicara Kelompok Wanita Muslim, yang mendukung wanita berjilbab.

Bendera Swiss

Dalam referendum pada hari Minggu (07/03/2021), rakyat Swiss mendukung undang-undang yang melarang penggunaan burqa di depan umum. Berdasarkan hasil referendum, 52% pemilih menjawab ya untuk larangan burqa dan 48% menjawab tidak. Larangan ini berarti tidak ada wanita yang dapat menutupi wajahnya sepenuhnya di depan umum.

Proposal referendum diusulkan oleh partai Populis Sayap Kanan Swiss (SVP). Partai yang satu dekade lalu bertanggung jawab atas pelarangan pembangunan menara masjid di negara tersebut.

Proposal partai tidak secara eksplisit menyebutkan burqa atau cadar, tetapi jelas bahwa targetnya adalah perempuan Muslim. Poster referendum berjudul "Hentikan Islam Radikal!" dan "Hentikan Ekstremisme!" mereka dipasang di kota-kota Swiss dengan gambar seorang wanita dengan niqab hitam.

Penentang referendum, di sisi lain, menulis di poster mereka, "Tidak untuk hukum anti-burqa yang absurd, tidak berguna dan Islamofobik".

Pemerintah Swiss menentang langkah tersebut, tetapi alasan yang diberikan bukanlah pelanggaran kebebasan fundamental dan hak asasi manusia, tetapi masalah keuntungan. Pemerintah mengatakan ini bukan masalah utama Swiss dan dapat merugikan pariwisata.

Larangan burqa di Swiss sebenarnya adalah langkah lain yang diambil oleh anti-Islam di Eropa untuk melawan berbagai simbol Islam dan meningkatkan tekanan terhadap Muslim di benua itu.

Menurut pakar politik Nosratollah Tajik, tren telah menjadi sedemikian rupa sehingga komunitas Muslim, jika mereka pernah merasa aman di Barat, sekarang tidak lagi merasakannya dan berada di bawah tekanan Islamofobia.

Sebelumnya, penggunaan burqa dilarang di beberapa negara Eropa, seperti Austria, Belanda, Belgia, Jerman, Bulgaria, dan Prancis. Prancis, tempat aktivitas anti-Islam merajalela, adalah negara Eropa pertama yang mengesahkan undang-undang yang melarang penggunaan penutup wajah di tempat-tempat umum pada 2011.

Wanita muslim Swiss

Namun, Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa menolak undang-undang tersebut pada tahun 2014 karena dianggap bertentangan dengan kebebasan beragama. Ratusan wanita muslim telah ditangkap dan didenda di Prancis dalam beberapa tahun terakhir karena melanggar hukum.

Faktanya, Muslim di negara-negara Barat sekarang menyaksikan semua jenis tindakan anti-Islam dan penganiayaan serta kekerasan terus menerus terhadap diri mereka. Langkah-langkah ini, seiring dengan merebaknya fenomena Islamofobia dan penciptaan ketakutan atas umat Islam oleh media Barat, telah menciptakan suasana negatif terhadap Islam dan penganutnya di negara-negara yang menuntut kebebasan dan hak asasi manusia.

Tags