Apr 01, 2021 08:11 Asia/Jakarta
  • Protes kebencian dan kekerasan terhadap warga AS keturunan Asia
    Protes kebencian dan kekerasan terhadap warga AS keturunan Asia

Kekerasan dan diskriminasi rasial terus menjadi masalah yang serius dan meluas dalam masyarakat Amerika, dengan banyak imigran dan orang kulit berwarna diserang secara parah. Dalam insiden terakhir, seorang wanita Asia berusia 65 tahun pada Senin (29/03/2021) diserang oleh seorang pria di siang bolong saat berjalan-jalan di Manhattan, New York, kemudian ditendang dan dipukuli.

Ini adalah yang kesekian kalinya dalam beberapa bulan terakhir ini imigran dari berbagai negara, termasuk orang Asia dan orang kulit berwarna, diserang. Lebih dari setengah lansia warga keturunan Asia di Amerika Serikat telah menjadi korban sentimen rasis selama epidemi Corona, menurut data Center for Asian American. Menyalahkan Cina atas wabah penyakit Covid-19 dalam opini publik banyak orang Amerika, yang sangat ditekankan oleh mantan Presiden Donald Trump, adalah salah satu faktor yang mengintensifkan serangan ini.

Protes warga As atas diskriminasi di negara ini

"Pada 2020, ada lebih dari 2.800 laporan kejahatan fanatis terkait dengan merebaknya virus Corona terhadap warga keturunan Asia di seluruh negara ini, dan banyak insiden serupa yang tidak diketahui," kata Karthick Ramakrishnan, direktur Stop Hate Against Asian Citizens di Amerika Serikat.

Isu diskriminasi rasial dan kekerasan terhadap imigran, meski bukan isu baru dalam masyarakat Amerika, semakin intensif selama empat tahun terakhir dengan pendekatan mantan Presiden AS Donald Trump. Fenomena ini sedemikian rupa sehingga dalam proses peradilan pun ada sikap tergesa-gesa untuk menghukum orang yang bersalah.

Dalam hal ini, pengacara keluarga George Floyd, Jeff Storms, mengkritik rakyat Amerika Serikat karena ketidakpedulian mereka terhadap kejahatan yang disengaja terhadap orang kulit hitam. Dia juga meminta warga Amerika untuk tidak cuek terhadap penindasan orang kulit hitam.

George Floyd adalah warga negara kulit hitam Amerika yang dibunuh secara brutal pada Mei 2020 di Minneapolis, Minnesota oleh seorang petugas polisi Amerika.

Meskipun pembunuhannya memicu protes sipil di banyak negara bagian AS serta masalah kekerasan dan diskriminasi rasial sekali lagi diprotes oleh sejumlah besar warga dan aktivis hak asasi manusia, sejauh ini belum ada tindakan yang diambil terhadap polisi pembunuh tersebut.

Ini terlepas dari kenyataan bahwa orang kulit berwarna dan imigran berada dalam situasi yang lebih sulit karena epidemi penyakit Covid-19 terus berlanjut. Mereka menghadapi diskriminasi yang meluas bahkan dalam proses vaksinasi Corona, akses ke obat, pengobatan dan layanan medis, dan bahkan di kuburan.

"Sekalipun rasisme sistematis telah dikritik dalam kehidupan publik Amerika, tetapi secara diam-diam dipraktikkan di pemakaman Amerika," tulis situs The Hill. Pejabat di Pemakaman Oaklans Springs baru-baru ini menolak untuk menguburkan wakil polisi kulit hitam negara bagian itu karena peraturan yang hanya mengizinkan orang kulit putih untuk dikuburkan di pemakaman tersebut.

Walikota New York Bill de Blasio mengkonfirmasi ketidaksetaraan rasial dalam vaksin Corona di kota ini seraya mengatakan bahwa persentase yang sangat rendah dari warga kulit hitam dan Latin yang menerima vaksin Corona dibandingkan dengan warga kulit putih dan Asia.

Joe Biden, Presiden Amerika Serikat

Diskriminasi adalah realitas masyarakat Amerika yang tidak dapat disangkal. Meskipun Presiden Joe Biden baru-baru ini mengakui diskriminasi dan rasisme sistemik di Amerika Serikat dan berjanji untuk mereformasi itu. Namun pengaruh pemikiran supremasi kulit putih, undang-undang diskriminatif tertulis dan tidak tertulis, penindasan tersembunyi atas imigran dan kulit hitam dan mereka kurangnya akses mereka ke fasilitas seperti pendidikan dan kesejahteraan, kurangnya tindakan hukuman terhadap pelaku diskriminasi rasial telah menyebabkan, dengan semua slogan yang ada, kelompok imigran dan orang kulit berwarna tetap berada di bawah tekanan dan pelecehan. Praktis dapat dikatakan bahwa menghilangkan diskriminasi hanya menjadi satu-satunya dasar untuk slogan politik dari partai Demokrat dan Republik dalam kampanye pemilu.

Kekerasan terhadap imigran oleh warga negara biasa semakin meningkat seiring dengan meningkatnya wabah Corona, dan tampaknya dalam krisis saat ini, hanya tindakan hukum oleh pihak berwenang yang dapat memoderasi situasi sampai batas tertentu.

Tags