Apr 03, 2021 09:40 Asia/Jakarta

Satu minggu setelah empat tentara Ukraina tewas di bagian timur negara itu oleh separatis, Amerika Serikat berjanji untuk mendukung Ukraina melawan Rusia. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada Rabu (31/03/2021) menelepon timpalannya dari Ukraina, Dmytro Kuleba, untuk menyampaikan belasungkawa atas kematian pasukannya dan menegaskan kembali dukungan Washington untuk apa yang disebutnya "integritas teritorial Ukraina".

Washington menyampaikan sikapnya setelah Ruslan Khomchak, Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina mengklaim bahwa Rusia adalah ancaman bagi keamanan negara ini dan berusaha mengerahkan angkatan bersenjata di dekat perbatasan Ukraina.

Bendera Amerika Serikat

Menurutnya, Rusia telah mengerahkan sekitar 25 peleton tentaranya di dekat perbatasan Ukraina dalam beberapa pekan terakhir, sehingga jumlah pasukan yang ditempatkan di Krimea menjadi 32.700. Menurut Khomchak, perwira militer Rusia juga memimpin 28.000 pasukan separatis yang ditempatkan di Ukraina timur.

Klaim ini, tentu saja, mendapat reaksi keras dari Rusia. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan pada hari Kamis (01/04/2021) bahwa Rusia mengambil langkah untuk memastikan keamanan perbatasannya, mengingat peningkatan aktivitas NATO. Dia menekankan bahwa Rusia sedang memindahkan pasukannya di wilayahnya dan tidak menimbulkan ancaman bagi negara lain.

Meningkatnya ketegangan di timur Ukraina telah membuat situasi di kawasan itu kritis karena bentrokan baru-baru ini antara separatis dan militer Ukraina. Ini telah membangkitkan kepekaan Washington dan Moskow.

Pemerintahan Biden, yang secara terbuka anti-Rusia, telah meningkatkan sikapnya terhadap Moskow sejak menjabat. Washington sekarang bermaksud untuk menggunakan peristiwa baru-baru ini di timur Ukraina sebagai alasan untuk mendorong Ukraina mengambil sikap lebih keras terhadap Rusia. Sementara pada saat yang sama membuka jalan bagi lebih banyak intervensi dan kehadiran di Ukraina dengan menekankan adanya ancaman serius dari Rusia.

Menurut pakar politik Dmiretti Trenin, Biden memperlebar perbedaan antara AS-Rusia yang tampak dingin dan samar di bawah Trump. Amerika Serikat akan membantu memperkuat kemampuan militer Ukraina.

Sebaliknya, Rusia telah menekankan bahwa kehadiran NATO yang semakin meningkat di dekat perbatasan baratnya dan ancaman yang diakibatkannya memerlukan tindakan yang diperlukan untuk melawan segala kemungkinan ancaman dari aliansi militer Barat. Penempatan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina juga dilakukan dengan tujuan ini.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov membantah adanya pembicaraan dengan NATO di Dewan Rusia-NATO di Ukraina, dan memperingatkan bahwa setiap upaya baru untuk mengobarkan perang di timur Ukraina, yang dikenal sebagai wilayah Donbass, mungkin saja akan berujung pada hancurnya Ukraina.

Para pejabat Ukraina mengatakan tindakan militer Rusia ditujukan untuk mendukung separatis di timur Ukraina dan memperingatkan Kiev untuk tidak mengambil tindakan militer apa pun terhadap mereka.

Sikap Menteri Luar Negeri Rusia ini dapat dianggap sebagai peringatan terkuat ke Kiev sejak pembentukan gencatan senjata di Ukraina timur berdasarkan perjanjian Minsk. Kesepakatan tersebut mencakup gencatan senjata mulai 27 Juli 2020, pencabutan senjata dari zona konflik, pertukaran tahanan dan implementasi amandemen konstitusi.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov

Namun, pelanggaran gencatan senjata berulang kali dengan menebar ranjau darat di berbagai bagian timur Ukraina, serta bentrokan baru-baru ini antara separatis dan tentara Ukraina, sekali lagi memperburuk situasi di wilayah Donbass dan meningkatkan kemungkinan bentrokan yang meluas antara kedua belah pihak.

Dalam hal ini, kemungkinan intervensi pasukan Rusia untuk mendukung separatis dan dukungan AS untuk tentara Ukraina dapat dengan cepat mengubah krisis di timur Ukraina menjadi krisis internasional.

Tags