Apr 18, 2021 09:38 Asia/Jakarta

"Setiap hari, banyak orang meninggal akibat kekerasan bersenjata. Kita bisa dan harus mengambil lebih banyak tindakan melawannya dan menyelamatkan nyawa," kata Presiden AS Joe Biden dalam pernyataan Jumat (16/04/2021) malam yang mengutuk penembakan mematikan di Indianapolis.

Biden mengakui bahwa "kekerasan bersenjata" adalah epidemi di Amerika Serikat dan menurutnya, kita tidak harus menerimanya.

Biden tidak lupa meminta Kongres agar mengeluarkan undang-undang untuk membatasi dan mengontrol penjualan senjata. Pernyataan itu muncul setelah penembakan di gedung FedEx di Indianapolis, negara bagian Indiana yang menewaskan delapan orang.

Kebebasan membawa senjata di AS

Kontroversi tentang kebebasan senjata di Amerika Serikat telah meningkat dalam beberapa minggu terakhir karena kekerasan terkait penembakan meningkat di seluruh Amerika Serikat. Kekerasan yang mengakibatkan hilangnya banyak nyawa dan parahnya peristiwa ini sedemikian rupa sehingga Joe Biden terpaksa bereaksi.

Baca juga: Pembelian Senjata Api di Amerika Naik Drastis

Faktanya, masalah kekerasan bersenjata di Amerika Serikat telah menjadi masalah yang kompleks, bertahan lama, dan berkembang. Menurut statistik yang diterbitkan di Amerika Serikat pada tahun 2020, hampir 20.000 orang kehilangan nyawa akibat penembakan dan 40.000 orang terluka. Sejak awal 2021 hingga sekarang, 4.127 orang kehilangan nyawa akibat penembakan. Kajian statistik menunjukkan bahwa meskipun sekitar 5 persen populasi dunia tinggal di Amerika Serikat, hampir 31 persen dari semua insiden kekerasan bersenjata terjadi di Amerika Serikat.

Kekerasan bersenjata di Amerika Serikat terkait langsung dengan masalah kebebasan untuk membeli dan membawa senjata api di negara kapitalis terbesar di dunia itu. Kebebasan untuk membawa senjata di Amerika Serikat telah secara efektif meningkatkan kekerasan bersenjata dan mengabadikan fenomena penembakan massal.

Dalam hal ini, dari waktu ke waktu, karena berbagai alasan, dari frustrasi dan perselisihan keluarga hingga masalah pekerjaan, dan bahkan di bawah pengaruh film dan permainan komputer, seseorang mengambil senjata dan melakukan pembantaian di tempat umum. Tentu saja, pembunuhan massal semacam itu terlepas dari kekerasan harian antara geng kriminal dan perdagangan narkoba, yang merupakan salah satu alasan tingginya angka pembunuhan dengan senjata api di Amerika Serikat.

Masalah yang membuat penanganan kekerasan bersenjata di Amerika Serikat menjadi sangat sulit adalah kenyataan bahwa kepemilikan senjata dijamin dalam Amandemen Kedua UUD AS. Banyak pendukung kebebasan untuk membeli dan membawa senjata di Amerika Serikat menyebut undang-undang yang membatasi kepemilikan senjata telah melanggar hak-hak fundamental mereka.

Baca juga: Senator Demokrat Minta Hubungan AS-Arab Ditata Ulang

Kubu Demokrat ingin membatasi akses warga Amerika ke senjata, tetapi Republikan menentang langkah itu, dan menyebutnya tidak konstitusional. Pada 8 Maret 2021, Presiden AS Joe Biden bersama dengan Wakil Presidennya Kamala Harris, dalam pidatonya menentang kekerasan bersenjata, mengumumkan enam keputusan presiden untuk memerangi kekerasan bersenjata di Amerika Serikat dan meminta Kongres untuk mensahkan pemberlakuan undang-undang membawa senjata.

Sekalipun demikian, Biden tidak akan mengambil tindakan besar apa pun, termasuk menghentikan penjualan senjata yang sering digunakan dalam pembunuhan massal. Senjata-senjata ini, yang umumnya merupakan senjata otomatis, mampu menembakkan peluru dalam jumlah besar secara bertubi-tubi, dan ini selalu efektif dalam meningkatkan jumlah korban dari pembunuhan massal.

Joe Biden, Presiden AS

"Presiden Joe Biden berada dalam posisi yang sulit, seperti seseorang yang berada di antara dua batu giling, karena kondisi ini merupakan masalah lama di Amerika Serikat," kata Robert Patillo ahli hukum dan pengacara aktif di bidang hak asasi manusia, merujuk pada masalah kekerasan dan senjata di Amerika Serikat.

Banyak orang di Amerika Serikat percaya bahwa kelalaian pemerintah dan Kongres AS dalam masalah membawa senjata dan mereformasi hukumnya adalah alasan utama berlanjutnya pembunuhan massal di negara ini.

Tags