Jun 09, 2021 18:29 Asia/Jakarta

Kementerian Pertahanan Prancis menyebutkan bahwa Arab Saudi menjadi pembeli terbesar senjata negara ini pada 2020. Riyadh telah mengimpor senjata senilai lebih dari $850 miliar dari Prancis.

Menurut laporan tahunan tentang ekspor senjata yang diserahkan ke Parlemen Prancis oleh Kemenhan pada hari Selasa, 1 Juni 2021, Arab Saudi masih menjadi pembeli utama senjata Prancis pada tahun 2020 meskipun fakta bahwa Paris secara dramatis telah memotong ekspor senjata sebesar 41 persen pada tahun lalu.

Penurunan drastis ekspor senjata, yang disinyalir sebagai akibat dari krisis Covid­­­-19 dan kurangnya kontrak besar, memungkinkan Prancis hanya mengumpulkan 4,9 miliar euro, dibandingkan dengan 8,3 miliar euro pada tahun sebelumnya. Namun, klien terbesar, menurut laporan itu, adalah Arab Saudi (€704 juta), Amerika Serikat (€434 juta) dan Maroko (€426 juta).

Ekpor senjata Prancis ke Arab Saudi telah menjadi perhatian berbagai organisasi dan kelompok hak asasi manusia karena perang berdarah yang dikobarkan Riyadh selama bertahun-tahun di Yaman.

Akhir tahun lalu, 14 organisasi kemanusiaan dan hak asasi manusia non-pemerintah menyerukan diakhirinya ketidakjelasan Prancis tentang ekspor senjata dan untuk membangun kontrol yang nyata oleh parlemen atas ekspor semacam itu.

Mereka menyatakan bahwa penjualan senjata Prancis bertanggung jawab atas pelanggaran serius tertentu terhadap hukum humaniter, khususnya di Yaman dengan konsekuensi dramatis bagi warga negara Arab ini.

Menurut the Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) dalam sebuah laporan menyebutkan bahwa AS menyumbang 37 persen dari penjualan senjata global antara 2016 dan 2020, dan Arab Saudi adalah importir senjata terbesar di dunia selama periode tersebut.

"Hampir setengah dari penjualannya (47 persen) adalah ke Timur Tengah, dengan Arab Saudi menjadi penerima utama transfer senjata AS pada 2016–2020, yaitu menyumbang 24 persen dari ekspor senjata AS," kata laporan itu pada Maret.

Agresi militer yang dipimpin Arab Saudi ke Yaman dimulai pada Maret 2015. Serangan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi telah merenggut nyawa ratusan ribu warga Yaman baik secara langsung maupun tidak langsung.

Agresi tersebut juga menyebabkan jutaan warga Yaman kehilangan tempat tinggal dan harus mengungsi. Serangan pasukan koalisi telah menghancurkan infrastruktur Yaman dan telah menimbulkan tragedi kemanusian terburuk. (RA)

Tags