Jun 17, 2021 19:49 Asia/Jakarta
  • Pertemuan Putin dan Biden
    Pertemuan Putin dan Biden

Akhirnya, Presiden AS dan Rusia bertemu pada Rabu, 16 Juni di Jenewa, Swiss bertemu dua kali selama empat setengah jam.

Pada awal pertemuan bilateral antara Vladimir Putin dan Joe Biden, kedua pihak menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Rusia memiliki kepentingan bersama dalam masalah program nuklir Iran.

Sebelumnya, Moskow berulang kali mengutuk penarikan sepihak AS dari kesepakatan nuklir JCPOA selama pemerintahan Trump dan pengenaan sanksi sepihak terhadap Iran, dan sekarang menyerukan agar sanksi Washington terhadap Tehran dicabut, dan AS  kembali ke JCPOA tanpa syarat.

Berbeda dengan Amerika Serikat, Moskow juga menekankan hak Iran untuk menggunakan teknologi dan energi nuklir secara damai, sementara Amerika Serikat berusaha untuk memberlakukan lebih banyak pembatasan pada kegiatan nuklir damai Iran.

Di akhir pertemuan pertama, Presiden Rusia dan Amerika Serikat juga mengeluarkan pernyataan bersama yang menekankan dimulainya dialog bilateral strategis lainnya tentang pengendalian senjata dalam waktu dekat. Namun, Biden menolak untuk mengadakan konferensi pers bersama dengan rekannya dari Rusia.

Terlepas dari langkah Biden, yang merupakan tanda pandangan negatif dan langkah yang tidak bersahabat Biden terhadap Putin, tapi Putin menggambarkan pembicaraannya dengan Biden sebagai  momentum "baik" pada konferensi pers setelah pertemuan tersebut. Putin menegaskan, "Selama pembicaraan dengan Biden, kami membahas stabilitas strategis, hubungan perdagangan, keamanan regional dan keamanan siber, dan menyepakati kembalinya para duta besar,". Dia juga mengumumkan bahwa Biden setuju untuk memperpanjang perjanjian senjata New START.

Mengenai sanksi sepihak AS terhadap Rusia, Putin menyatakan bahwa kerugian Washington dari sanksi sepihak yang dijatuhkan terhadap Rusia tidak kurang dari Moskow. Pernyataan Putin tersebut mengindikasikan berlanjutnya hubungan tidak bersahabat antara kedua negara, terutama pengenaan sanksi timbal balik.

Sementara itu, Biden dalam konferensi pers  dan akan terus mengangkat masalah hak asasi manusia yang mendasar, dengan mengungkapkan, "Saya katakan kepada Putin bahwa kami tidak menerima pelanggaran kedaulatan AS,".

Pertemuan antara presiden AS dan Rusia pada dasarnya lebih merupakan tawaran bagi Biden untuk mengangkat masalah dan memperingatkan Putin daripada kerangka kerja sama untuk menyelesaikan perbedaan atau kesepakatan baru.

 

 

Indikasinya bisa dibaca dari pernyataan Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan setelah pertemuan ini tidak ada alasan untuk menghapus Amerika Serikat dari daftar negara-negara yang tidak bersahabat dengan Rusia. Pada pertengahan Mei, pemerintah Rusia menyetujui daftar negara asing yang telah melakukan kekejaman terhadap Rusia. Nama Amerika Serikat dan Republik Ceko disebutkan dalam daftar ini.

Amerika Serikat dan sekutunya juga meminta persetujuan Rusia untuk memperpanjang resolusi Dewan Keamanan PBB seiring dengan semakin dekatnya tenggat waktu berakhirnya resolusi tersebut. 

Namun menurut seorang pejabat senior pemerintah AS, Putin menolak berkomitmen untuk memperpanjang operasi ke Biden. Rusia telah mempertanyakan perlunya operasi jangka panjang, dengan menilainya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah.

Mantan Presiden AS, Donald Trump menanggapi pertemuan Biden dan Putin dengan mengatakan,"Amerika Serikat belum memperoleh apa pun dari pertemuan Biden-Putin. Saya pikir itu adalah hari yang baik untuk Rusia, tetapi tidak untuk kami!"

Faktanya, hubungan AS-Rusia telah memburuk di bawah pemerintahan AS yang baru. Pemerintahan Biden, yang secara terbuka anti-Rusia, telah meningkatkan sikapnya terhadap Moskow sejak menjabat, terutama dengan dalih campur tangan Rusia dalam pemilu presiden AS dan serangan siber.

Ian Bremmer, analis politik internasional memandang hubungan AS-Rusia selama periode Biden mungkin yang terburuk sejak runtuhnya Uni Soviet.

Faktanya, pemerintah Biden telah melakukan konfrontasi aktif dengan Rusia. Dalam hal ini, selain sanksi dan dukungan politik dan militer aktif untuk Ukraina, AS juga mengobarkan perang psikologis melawan Vladimir Putin. Oleh karena itu, terlepas dari pertemuan para pemimpin kedua negara, pemerintah Washington diperkirakan akan mengintensifkan kebijakan dan tindakan anti-Rusia dalam beberapa bulan mendatang.(PH) 

Tags