Jun 20, 2021 07:56 Asia/Jakarta

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Lloyd J. Austin dan Kepala Staf Gabungan Militer AS Mark Milley, dalam sebuah pernyataan kepada komite Senat AS yang tampaknya lebih untuk membenarkan kemungkinan intervensi militer di Afghanistan, mengklaim bahwa proses penarikan semua pasukan asing dari Afghanistan kurang dari tiga bulan lagi, di mana risiko perang saudara dan munculnya kembali kelompok teroris di Afghanistan menjadi lebih serius dari sebelumnya.

Dalam klaim terbaru mereka, para pejabat ini mengatakan bahwa setelah penarikan pasukan asing dari Afghanistan, ada kemungkinan bahwa dalam dua tahun, kelompok-kelompok seperti al-Qaeda dan Daesh (ISIS) akan menggunakan wilayah negara itu untuk menyerang sasaran di Barat.

Senator Lindsey Graham bertanya kepada Lloyd Austin dan Jenderal Mark Milley pada sidang komite dengar pendapat Senat itu bahwa mereka menilai kemungkinan kebangkitan al-Qaeda dan ISIS di Afghanistan sebagai rendah, sedang, atau tinggi.

Senator Lindsey Graham

"Saya menganggap ini sedang. Mungkin butuh dua tahun bagi mereka untuk mencapai level itu," ujar Austin. Sementara Jenderal Mark Milley mengatakan dia setuju dengan penilaian tersebut.

Ini adalah prediksi paling serius tentang kebangkitan ancaman terorisme internasional dari Afghanistan, yang telah diumumkan oleh pejabat AS sejak penarikan pasukan AS dari Afghanistan dimulai pada Mei.

Dengan selesainya penarikan pasukan AS dari Afghanistan, Pentagon telah mengakui bahwa kemampuan militer dan intelijennya terbatas untuk memantau dan melawan kelompok teroris di dalam Afghanistan, tetapi mengklaim akan memantau ancaman teroris dari luar Afghanistan. Pentagon berharap untuk mengerahkan pesawat pengintai dan fasilitas lainnya di satu atau lebih negara tetangga Afghanistan, tetapi sejauh ini tidak ada tindakan seperti itu yang diterapkan.

Sementara lebih dari 50 persen penarikan pasukan AS dan NATO dari Afghanistan tampaknya telah selesai. Namun kekhawatiran tentang situasi keamanan di negara itu, telah menimbulkan keraguan tentang penarikan penuh pasukan AS dari Afghanistan. Terutama eskalasi serangan Taliban dan kemajuannya baru-baru ini, serta kemungkinan kelompok itu meluncurkan serangan teroris melalui Afghanistan terhadap sasaran di Barat.

Sekalipun demikian, kehadiran pasukan AS dan NATO di Afghanistan hanya membunuh warga sipil, meningkatnya ketidakamanan dan peningkatan yang signifikan dalam produksi dan perdagangan narkoba dari Afghanistan.

Ronald Moultrie, Deputi Intelijen Menteri Pertahanan AS, baru-baru ini berbicara di depan Kongres AS, mengklaim bahwa militer AS siap untuk kembali ke Afghanistan jika pasukan Taliban terus maju dan pengorganisasian kembali al-Qaeda. Semua sikap tersebut mempertanyakan niat AS untuk menarik diri dari Afghanistan tanpa syarat.

Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden berjanji untuk menyelesaikan penarikan pasukan AS dari Afghanistan pada 11 September 2021. Dia menekankan bahwa waktunya telah tiba untuk mengakhiri perang terlama Amerika Serikat. Berdasarkan perjanjian Doha yang ditandatangani antara Amerika Serikat dan Taliban pada Februari 2020, pasukan asing harus meninggalkan Afghanistan pada 1 Mei 2021.

Taliban sebelumnya telah memperingatkan bahwa jika pasukan asing tidak meninggalkan Afghanistan dalam batas waktu yang ditentukan, kelompok itu akan menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap perjanjian Doha dan akan melanjutkan serangan terhadap mereka. Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan telah memperingatkan bahwa risiko serangan Taliban terhadap kedutaan asing di Afghanistan tidak boleh diremehkan.

Pada saat yang sama, pernyataan baru-baru ini oleh kepala Pentagon dan militer AS tentang kebangkitan ancaman teroris terhadap Barat dari Afghanistan akan memperkuat pandangan penentang penarikan AS dari Afghanistan di pemerintahan AS. Mereka yang percaya bahwa dengan penarikan pasukan AS dari Afghanistan harus menanti peristiwa 9/11 terjadi lagi. Para kritikus mengatakan penarikan militer AS dari Afghanistan akan menciptakan kekosongan keamanan di negara yang dilanda perang dan al-Qaeda akan membangun kembali dirinya di Afghanistan.

Peristiwa 9/11

“Apa ruginya kita dengan menarik pasukan kita dari Afghanistan? Kita kehilangan kebijakan yang menjamin tidak terjadinya lagi peristiwa 9/11,” kata Senator Republik Lindsey Graham.

Sekalipun demikian, kehadiran pasukan AS dan NATO di Afghanistan hanya membunuh warga sipil, meningkatnya ketidakamanan dan peningkatan yang signifikan dalam produksi dan perdagangan narkoba dari Afghanistan. Dan, tentu saja, kehadiran militer AS yang terus berlanjut hanya akan memperumit situasi keamanan dan mengintensifkan serangan Taliban.

Tags