Jun 24, 2021 18:24 Asia/Jakarta
  • Amerika Tinjauan dari Dalam, 24 Juni 2021

Dinamika Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai hasil riset lonjakan kasus bunuh diri di kalangan tentara AS.

Isu lain tentang pengurangan dukungan militer terhadap negara Arab, laporan The New York Times mengenai pelaku pembunuhan Khashoggi dilatih di AS, AS berusaha keras mencegah Marib lepas dari tangan Saudi, pernyataan Jubir Kemenlu AS mengenai JCPOA dan pertemuan antara Menhan Turki dan AS.

 

Tentara AS

 

Riset: Terus Melonjak, Puluhan Ribu Tentara AS Bunuh Diri

Sebuah riset di AS menunjukkan lebih dari 30.000 tentara negara ini mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri dalam 20 tahun terakhir.

Studi baru yang dilakukan Brown University memperlihatkan jumlah tentara Amerika yang melakukan bunuh diri sejak 2001 telah melebihi 30.000.

Menurut penelitian, peningkatan kehadiran militer AS di dunia sejak peristiwa 11 September 2001  telah menyebabkan setidaknya 30.177 kasus bunuh diri militer AS.

Salah seorang anggota peneliti, Thomas Howard mengungkapkan adanya lonjakan setelah tahun 2001.

"Padahal, jumlah korban bunuh diri di kalangan militer AS hingga 2001 hanya 7.057," kata Howard.

Studi tersebut menekankan bahwa jumlah korban bunuh diri di kalangan militer AS mungkin lebih tinggi dari angka ini karena tidak termasuk pasukan cadangan dan Garda Nasional.

Saat perang di Afghanistan hampir berakhir, kasus bunuh diri di antara pasukan AS meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Data aksi bunuh diri di kalangan militer AS telah menurun secara signifikan sejak 2007, tetapi memuncak  di tahun 2012. Tiga tahun terakhir menjadi tahun-tahun terburuk bagi militer AS dalam hal bunuh diri.

 

Pentagon

 

AS Mulai Kurangi Dukungan Militer untuk Negara Arab

Pentagon menyatakan bahwa Amerika Serikat saat ini mengurangi jumlah sistem pertahanan udaranya di Asia Barat (Timur Tengah).

"Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin telah memerintahkan penarikan sebagian pasukan dan kapasitas (dari Asia Barat), terutama aset pertahanan udara," kata juru bicara Pentagon, Jessica McNulty.

"Sebagian dari peralatan ini akan dikembalikan ke AS untuk pemeliharaan dan yang lainnya ditempatkan di daerah lain," tambahnya.

Namun, ia tidak menjelaskan apakah peralatan tersebut akan ditempatkan di wilayah Indo-Pasifik, di mana Pentagon ingin memusatkan upayanya untuk membendung pengaruh Cina.

Media Amerika, The Wall Street Journal yang pertama kali melaporkan penarikan itu, mengatakan Pentagon menarik delapan baterai anti-rudal Patriot dari negara-negara termasuk Irak, Kuwait, Yordania dan Arab Saudi serta sistem pertahanan rudal lain yang dikenal sebagai THAAD dari Arab Saudi.

Sebelum keputusan ini diambil, Parlemen Irak pada 5 Januari 2020 meloloskan sebuah resolusi yang memerintahkan penarikan pasukan AS dari negara itu.

 

Jamal Khashoggi

 

The New York Times: Pelaku Pembunuhan Khashoggi Dilatih di AS

Sebuah surat kabar Amerika mengungkapkan bahwa para pelaku pembunuhan Jamal Khashoggi menerima pelatihan paramiliter di Amerika Serikat.

The New York Times hari Selasa (22/6/2021) melaporkan bahwa pelatihan tersebut diberikan oleh perusahaan keamanan Tier 1 yang berbasis di Arkansas, yang dimiliki oleh Cerberus Capital Management, sebuah perusahaan ekuitas swasta, untuk melindungi para pemimpin pertahanan Saudi.

Media AS ini melaporkan, selama kunjungan kepala intelijen Mesir, Abbas Kamel ke Washington, sebuah organisasi hukum meminta anggota Kongres AS menyampaikan masalah kerja sama Kairo dengan tim pembunuhan Khashoggi.

Yahoo News hari Senin memberitakan bahwa pejabat Saudi yang membunuh jurnalis oposan rezim Al Saud, Jamal Khashoggi di konsulat Arab Saudi di Istanbul pada tahun 2018 telah menerima obat-obatan mematikan dari Mesir.

Situs tersebut mengkonfirmasi bahwa informasi tersebut diperoleh dari catatan interogasi rahasia yang dilakukan oleh pejabat Saudi terhadap pelaku pembunuhan.

Laporan ini juga menunjukkan kemungkinan adanya kaki tangan Mesir yang bekerja sama dengan para pembunuh, terutama ketika obat-obatan dikirimkan kepada mereka di dalam bandara Kairo.

Jamal Khashoggi, seorang jurnalis yang menentang Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman dibunuh pada 2018 ketika dia pergi ke konsulat Arab Saudi di Istanbul.

Kantor Direktorat Intelijen Nasional AS telah merilis laporan non-rahasia yang menyatakan bahwa pembunuhan Saudi Jamal Khashoggi dilakukan dengan persetujuan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.

 

 

AS Berusaha Keras Cegah Marib Lepas dari Tangan Saudi

Amerika Serikat dalam perundingan terbaru terkait Yaman, terang-terangan menggunakan ancaman terhadap militer dan komite rakyat Yaman terkait pembebasan Provinsi Marib.

Surat kabar Al Akhbar, Selasa (22/6/2021) melaporkan, dalam perundingan terbaru tentang Yaman, AS bersikeras untuk menciptakan gencatan senjata di Provinsi Marib.

Pada saat yang sama Arab Saudi tidak menepati janji lisannya yang disampaikan kepada Oman untuk memisahkan masalah kemanusiaan dari perang. Masalah kemanusiaan yang dimaksud adalah pembukaan kembali bandara Sanaa, dan mengizinkan masuknya barang serta produk minyak ke Pelabuhan Al Hudaydah.

Menurut Al Akhbar, AS percaya jika Marib lepas dari tangan Saudi, maka Yaman akan menggunakan posisi strategisnya di level yang lebih luas, dan setelah Marib, target berikutnya adalah merebut wilayah-wilayah Barat yang berhadapan dengan Bab El Mandeb.

Koran Lebanon ini menambahkan, AS tidak menutup-nutupi upayanya untuk menjaga sejumlah kepentingan di kawasan, yaitu kepentingan rezim Zionis Israel di Laut Merah dan Bab El Mandeb, kepentingan AS di Laut Makran, dan Samudra Hindia, dalam hal ini Washington bersaing dengan Cina.

 

Ned Price

 

Jubir Kemenlu AS: JCPOA Diperlukan, tapi Tidak Memadai !

Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price membuat pernyataan berlebihan tentang kesepakatan nuklir dengan Iran, tanpa menyinggung langkah penarikan sepihak dan ilegal Washington keluar AS dari JCPOA.

Ned Price dalam sebuah pernyataan berlebihan hari Senin (21/6/2021) mengklaim bahwa perjanjian nuklir dengan Iran diperlukan, tetapi itu tidak cukup untuk mengatasi sengketa mengenai masalah lain dengan negara ini.

Meskipun Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menekankan masalah kepatuhan Iran terhadap semua kewajibannya di JCPOA, Amerika Serikat secara sepihak dan ilegal menarik diri dari kesepakatan nuklir pada Mei 2018 dan menjalankan kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran.

Pejabat pemerintahan Biden telah berulang kali secara eksplisit mengakui kegagalan kebijakan tekanan maksimum AS terhadap Iran, tetapi sejauh ini menolak mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk kembali ke JCPOA.

Washington mengatakan pihaknya hanya bersedia mencabut sanksi terhadap Iran jika kedua pihak kembali menjalankan komitmen penuhnya di JCPOA. Klaim Washington datang padahal Iran selama ini telah menjalankan komitmennya di JCPOA.

 

Menhan AS, Lioyd Austin

 

Menhan Turki dan AS Bahas Hubungan Bilateral

Menteri pertahanan Turki dan Amerika Serikat berbicara via telepon mengenai masalah regional, Afghanistan, hubungan bilateral dan isu-isu keamanan.

Kementerian Pertahanan Turki dalam sebuah pernyataan hari Sabtu (19/6/2021) menyebut pembicaraan antara Hulusi Akar dan mitranya dari AS Lloyd Austin, berlangsung positif dan konstruktif.

Pembicaraan itu membahas hubungan Ankara-Washington dan kehadiran misi diplomatik yang berkelanjutan di Afghanistan.

Kedua negara berselisih mengenai pembelian sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia oleh Turki. AS mengklaim radar sistem S-400 bisa menimbulkan ancaman bagi jet tempur F-35 dan dapat mengidentifikasi kerentanan jet tempur ini serta mengirim datanya ke Rusia.

Mereka juga berseteru dalam persoalan lain termasuk campur tangan Turki dalam konflik di wilayah Nagorno-Karabakh, eksplorasi minyak dan gas oleh Turki di Laut Mediterania, dan kehadiran ilegal negara itu di Suriah dengan dalih menumpas milisi Partai Pekerja Kurdistan (PKK).(PH)

 

 

Tags