Jun 07, 2018 16:07 Asia/Jakarta

Tanggal 21 Ramadhan bertepatan dengan hari kesyahidan Imam Ali bin Abi Thalib. Meskipun kesyahidan menusia mulia ini telah berlalu lebih dari 1.300 tahun yang lalu, tapi Sayidina Ali tetap bersemayam di dalam dada umat Islam, termasuk masyarakat Muslim Indonesia. Bahkan beliau memberikan pengaruh besar dalam kebudayaan Nusantara, termasuk di Jawa.

Nama Ali bin Abi Thalib tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Selain dipakai untuk nama anak laki-laki Muslim, Ali juga berperan signifikan dalam tradisi kebudayaan nusantara, termasuk di Jawa.

Pakar budaya Jawa, Ki Herman Sinung Janutama menyebut Baginda Ali sebagai "darah dan daging" kebudayaan Jawa. Budayawan Indonesia ini menilai Jawa dan Islam tidak bisa dipisahkan, dan Sayidina Ali memiliki peran besar di dalamnya.

Penulis buku "Nuswantara Negeri Keramat" ini, memandang ketokohan Ali sebagai jantung dari kebudayaan Jawa. Ki Sinung menunjukkan pandangannya dengan menyodorkan berbagai fakta seperti shalawat Mataram hingga bendera pusoko tunggol wulung yang mengambil inspirasi dari pedang zulfikar Imam Ali yang mirip dengan bendera di Cirebon. Sebelumnya, Ternate, Tidore, Gowa dan Tallo juga menggunakan bendera yang hampir sama.

Di Museum Sasana Wiratama Yogyakarta terdapat keris yang dipergunakan oleh pangeran Diponegoro dengan simbol macan Ali. Menurut Ki Sinung, ini tidak sekedar simbol, tapi pengaruh Ali dalam kebudayaan Jawa. Tidak hanya itu, tapi ada juga doa-doa yang terselip di berbagai serat dan kitab-kitab Jawa, meskipun tidak terkumpul dalam satu buku khusus.

Selengkapnya simak wawancara Jurnalis IRIB Indonesia, Purkon Hidayat, dengan Ki Herman Sinung Janutama:

Tags