Okt 11, 2021 14:58 Asia/Jakarta
  • Hafez, Abadi Sepanjang Sejarah

Iran memperingati Hari Hafez Shirazi, penyair terkenal Iran pada tanggal 20 Mehr yang bertepatan dengan 12 Oktober. Pada hari ini, di Iran pusat pendidikan dan komunitas sastra di seluruh penjuru negara ini menggelar pertemuan sastra membahas karya puisinya.

Hafez adalah penyair sekaligus arif besar Iran abad kedelapan Hijriah, atau abad keempat belas Masehi. Kebanyakan sejarawan menyebutkan namanya, Khawajeh Shams al-Din Muhammad. Tapi kemudian, dikenal dengan sebutan Hafez, karena beliau adalah penghafal al-Quran.

Hafez atau Khawajeh Shams al-Din Muhammad Hafez tidak hanya dikenal luas di Iran, tapi juga masyarakat dunia. Pengaruh magnet puisinya menarik banyak orang di berbagai negara dunia, termasuk para penyair terkemuka. Bahkan sebagian dari mereka mencurahkan waktunya untuk mempelajari bahasa Farsi demi bisa menelaah karya puisi Hafez. 

Salah seorang penyair, penulis, dan pemikir terkemuka Jerman, Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) banyak dipengaruhi pemikirannya oleh Hafez. Bahkan ia mempersembahkan karyanya berjudul "West–östlicher Divan", sajak pujian Barat-Timur. 

Pada awalnya, Goethe mengenal karya puisi Hafez melalui terjemahan Divan Hafez oleh Joseph von Hammer Purgstall. Tapi setelah mengenal secara lengkap terjemahan tersebut, ia merasa perlu memperlajari bahasa Persia demi mendukung pemahamannya tentang karya Hafez.

 

 

Goethe menyebut diwan Hafez sebagai ‘heiligen Bücher’, buku yang berharga. Karya Goethe, West–östlicher Divan terinspirasi oleh korespondensi Goethe dengan Marianne von Willemer dan terjemahan puisi Hafez oleh orientalis Joseph von Hammer. Versi yang diperluas dari karya Gothe ini dicetak pada tahun 1827.

Buku ini terdiri dari dua belas bagian yaitu: Buku Penyanyi (Moganni Nameh); Buku Hafez (Hafez Nameh); Buku Cinta (Uschk Nameh): Buku Tafakur (Tefkir Nameh); Buku Penderitaan (Rendsch Nameh); Buku Hikmah (Hikmet Nameh); Buku Timur (Timur Nameh); Buku Zuleika (Suleika Nameh); Buku Gugatan (Saki Nameh): Buku Perumpamaan (Mathal Nameh): Buku Parsi (Nama Parsi); Buku Surga (Chuld Nameh)

Karya Goethe ini dipandang sebagai simbol untuk interaksi yang baik antara Timur dan Barat. Frasa "barat-timur" tidak hanya mengacu pada pertukaran kebudayaan antara Jerman dan Timur Tengah, tetapi juga antara budaya Latin dan Persia, serta budaya Kristen dan Muslim. Kedua belas buku itu terdiri atas puisi dari berbagai jenis: perumpamaan, kiasan historis, potongan puisi yang mengundang, politik atau agama yang mencerminkan usaha untuk mencari persamaan antara Timur dan Barat oleh seorang penyair Jerman.

Johann Wolfgang von Goeth tentang HafezPemikiran Hafez juga menjadi perhatian Friedrich Engels, sebagaimana dalam salah satu pesan yang ditulisnya kepada Karl Marx. Engels menulis, "Selama kamu tidak memahami pemikiran Hafez, engkau tidak akan bisa mewujudkan pemikiranmu di dunia. Oleh karena itu, saya hari ini mulai belajar bahasa Farsi sehingga bisa lebih baik untuk mempelajari pemikiran Hafez, dan saya pun menganjurkan supaya kamu mempelajari bahasa ini,".

 

 

Pemikiran besar Hafez tidak bisa dilepaskan dari kekayaan khazanah Persia yang kaya. Latar sosial kehidupan Hafez ketika itu dipengaruhi oleh dinamika keilmuan Shiraz. Para arif dan ulama terkemuka berada di Shiraz dan mengajarkan berbagai ilmu kepada para muridnya. Hafez memanfaatkan situasi yang kondusif bagi pengembangan intelektualitas dan spiritualitasnya saat itu.

Arthur John Arberry, seorang orientalis Inggris berkeyakinan bahwa Hafez sejak kecil memiliki potensi sastra kritis yang maju. Dengan mengisi beberapa isi ghazal, format puisinya lebih artistik. Menurut Arberry, pemikiran Hafez sepenuhnya revolusioner. Meskipun terdapat dua atau beberapa isi, tapi ghazal Hafez tetap terjaga kesatuannya. Lambat laun ia menimba pengalaman dari seorang murid baru  hingga menemukan jalannya sendiri dengan membuat ghazal yang menawan.

Para peneliti menilai syair Hafez dari sisi metode dan isi mensintesiskan irfan Maulawi, kecintaan Saadi dan pemikiran filsafat Khayyam. Tapi, karakteristik syair Hafez tidak hanya itu. Ia juga menggunakan metode ghazal yang tidak pernah dipergunakan oleh para pendahulunya. Oleh karena itu, para peneliti Hafez meyakini karya puisi penyair Iran ini sangat unik dan khas.

Salah satu kekhususan karya puisi Hafez adalah penjelasan masalah politik dan sosial, serta moralitas dan hikmah amali seperti sifat jujur dan dermawan. Ia juga menciptakan karakter baru seperti "Rand" dan "Pir Maghan". Berbagai karakteristik tersebut menunjukkan ciri khusus puisi Hafez yang tidak dijumpai dalam karya-karya penyair sebelumnya.

 

 

Karakteristik paling menonjol dari syair Hafez adalah model yang ditawarkannya dengan mengedepankan independensi tiap bait dari sisi isi dan maknanya. Artinya, dalam ghazal Hafez, setiap bait dari sisi makna terpisah dari bait lainnya. Hal ini sangat berlawanan dengan tradisi ghazal sepanjang sejarah ratusan tahun sebelumnya sejak Rodaki hingga para penyair di masa Hafez sendiri.

Sebagian peneliti berkayakinan bahwa hafez adalah cermin di zamannya. Tapi hari ini kita melihat lebih dari itu. Hafez tidak hanya mewakili zamannya saja, tapi manifestasi sebuah pemikiran dan spirit bangsa Iran sepanjang sejarah yang melampaui periode setelah Hafez sendiri.

Syair Hafez mengenai kisah manusia yang menaiki tangga menuju kesempurnaan. Kisah tentang para pencinta yang menapaki jalan cinta hingga puncaknya, yaitu Tuhan. Hafez hidup, dan berbicara dengan syairnya. Keabadian Hafez karena kehangatan dan kesehatiannya dengan setiap orang yang membaca karyanya. Ia mengisahkan penderitaan diri, protes perlawanan terhadap orang-orang lalim, tapi juga menyembulkan harapan yang tidak pernah padam. Karena yang disiramkan adalah cinta.

Tags