Des 19, 2021 15:01 Asia/Jakarta
  • Malam panjang di Iran (Shab-e Yalda)
    Malam panjang di Iran (Shab-e Yalda)

Kita sudah terbiasa menggali dan mengeluarkan barang-barang kuno dari timbunan tanah. Ketika berbicara mengenai barang antik, langsung terpikir di benak kita adalah barang rusak dan pecah serta kuno yang terbungkus tanah liat dan tidak lagi dapat digunakan.

Barang-barang seperti ini harus disimpan di museum dan dengan perawatan khusus sehingga tidak akan rusak. Museum penuh dengan barang antik dan kuno yang menunjukkan peradaban di masa lalu. Peradaban yang telah hilang atau peradaban yang saat ini berkuasa.

Apakah sampai sekarang kita pernah berpikir minum air dari cangkir kuno dan bersejarah, atau makan dari baskom kuno ? Apakah kita ingin menyaksikan makhluk bersejarah yang masih hidup dari dekat dengan mata kepala kita sendiri ? Kita semuanya ingin mencicipi pengalaman seperti ini, persis seperti yang ditayangkan film di televisi atau bioskop dan berbagai cerita legenda dan mitos. Hari ini kami ingin membagikan kabar gembira kepada Anda. Sebuah berita gembira bagi para pecinta sejarah dan legenda. Beritanya dalah pengalaman mengasyikkan ini dapat kalian rasakan di dunia nyata. Sebentar lagi kami akan katakan kepada Anda bagimana hal ini bisa terjadi ?

Untuk membuat pengalaman seperti ini sebagai hal yang mungkin, kita cukup untuk menyadari dan meyakini bahwa sejarah lebih dari sekedar barang pecah belah dan rusak atau tulang belulang yang digali dari dalam tanah. Ada sebagian dari sejarah yang dengan cerdik masih menjadi bagian dari kehidupan kita saat ini, dan mengikuti kita seperti bayangan. Tanpa kita menyadarinya sebagai bagian dari sejarah atau hal-hal berseajrah, ia hidup berdampingan dengan kita sampai saat ini, atau bahkan membentuk kehidupan kita. Mereka ini bagian penting dari sejarah yang seakan-akan leluhur kita menjadikannya seperti mumi bagi generasi mendatang. Setiap kali mumi bersejarah ini bangkit, ia akan mengubah pola hidup kita saat ini.

Saya mengetahui satu mumi berusia tujuh ribu tahun yang setiap tahun di awal malam musim dingin bangun dari tidurnya serta mengubah bentuk kehidupan banyak manusia. Nama mumi tersebut adalah Shab-e Yalda (malam Yalda). Yalda berasal dari bahasa Suryani yang berarti kelahiran. Dengan demikian menurut keyakinan orang Iran kuno, matahari terlahir di akhir malam musim gugur, yakni akhir bulan Azar dalam kalender mereka. Abu Rayhan al-Biruni, ulama Iran abad ke-10 dan 11 Masehi menyebut festival Yalda sebagai "Milad Akbar" dan yang dimaksud adalah kelahiran matahari.

Selama bertahun-tahun, perayaan Shab-e Yalda digelar di setiap rumah warga Iran. Ikatan emosional yang mendalam dari acara-acara keluarga di Shab-e Cheleh telah berubah menjadi sebuah kenangan abadi yang dipenuhi dengan kebahagiaan. Biasanya, anggota keluarga merayakan Shab-e Yalda bersama orang tua atau mereka yang dituakan dalam keluarga dengan suasana  bahagia.

Di Malam Yalda, kebanyakan keluarga terlepas dari agama dan aliran yang mereka yakini duduk bersama keluarga mereka di bawah cahaya dan di depan hidangan khusus dalam perayaan tersebut. Hidangan itu di banyak daerah di Iran disebut sebagai "Shab Careh" yang biasanya terdiri dari tujuh jenis buah-buahan dan tujuh jenis kacang-kacangan, bahkan terkadang jumlah jenis buah dan kacang-kacangan itu lebih dari tujuh jenis.  Selain tujuh jenis kacang-kacangan dan buah-buahan, Shab Careh juga meliputi biji-bijian seperti gandum, dan kacang-kacangan seperti kwaci dari biji semangka dan biji bunga matahari.

Beberapa hari sebelum malam Yalda, pasar dan toko buah dan kacang-kacangan di Iran sesak dengan pembeli yang menyiapkan perayaan itu. Bahkan biasanya pasar dan toko tersebut ramai hingga tengah malam. Buah-buahan khusus Shab-e Yalda adalah semangka, delima dan anggur. Namun terkadang buah-buahan tersebut dilengkapi dengan buah-buahan di musim panas lainnya seperti apel, melon, mentimun dan buah "beh" (safarjal/quince).

Di antara buah-buahan yang paling penting di Malam Yalda adalah semangka. Ada sebuah pepatah kuno, jika seseorang memakan buah semangka malam Yalda, maka ia tidak akan sakit, atau kedinginan selama musim dingin.  Makan buah semangka dan delima di Shab-e Cheleh memiliki rahasia tersendiri, di mana warna merah kedua buah itu melambangkan kehangatan lembut di malam musim dingin.

Pada abad-abad terakhir, para keluarga di Iran lebih suka menghabiskan Shab-e Yalda untuk membaca dan menelaah buku dan syair-syair Hafez, seorang penyair besar Iran. Sebagian keluarga di Iran juga melewati Shab-e Cheleh dengan bercerita tentang berbagai kenangan dan pengalaman kakek dan nenek mereka.

Salah satu tradisi lain yang menghiasi Shab-e Cheleh adalah pemberian hadiah khusus kepada mereka yang baru menikah atau telah akad tetapi belum resepsi. Bagi mereka yang sudah membaca akad namun belum resepsi dan belum hidup serumah akan menerima hadiah-hadiah tertentu. Biasanya ibu mertua pengantin perempuan akan mengirim makanan-makanan khusus Shab-e Yalda yang telah dikemas dengan indah dan disertai dengan hadiah-hadiah seperti pakaian, kain dan emas kepada menantunya. Hal yang sama juga dilakukan oleh ibu mertua pengantin laki-laki, namun di sebagian daerah di Iran mertua pengantin laki-laki akan mengirimkan hadiah tersebut di malam berikutnya setelah Malam Yalda.

Tradisi tersebut dilakukan dengan cara-cara yang berbeda di seluruh daerah di Iran. Masyarakat Azerbaijan di barat daya Iran,akan memberikan hadiah kepada calon menantu perempuan atau menantu perempuan yang baru menikah dengan berbagai hadiah yang disertai dengan semangka yang dibungkus dengan syal merah. Hal itu dilakukan karena mereka meyakini bahwa syal merah akan menyebabkan kebahagiaan dan keberuntungan bagi pengantin perempuan.

Sementara, masyarakat di Iran utara menghias semua item yang diperlukan di Shab-e Yalda dengan ikan besar dan mengirimnya kepada calon pengantin perempuan. Sementara masyarakat di Shiraz, sebelah selatan Iran, mereka menyiapkan Malam Yalda dengan menggelar Sufreh yangsama sekali tidak ada kemiripan dengan Sufreh Haft Sin di perayaan Nowruz. Sufreh tersebut dilengkapi dengan cermin, salah satu cabang bunga tulip, lilin yang indah dan berwarna-warni, piring dupa, buah-buahan, dan hidangan-hidangan Malam Yalda.

Malam Yalda dengan berbagai tradisinya yang masih lestari hingga kini memberikan berbagai pelajaran penting tentang harapan dan cinta yang harus tetap hidup dalam diri setiap manusia. Seperti matahari yang terus memancarkan sinarnya dan memberikan kehangatan bagi kehidupan ini.

Kini muncul pertanyaan, kita yang hidup di abad ke-21 dengan kemajuan teknologinya, apa manfaatnya berbagai perayaan warisan budaya kuno seperti malam Yalda atau Nowruz dan apa pesan yang ingin disampaikan warisan peradaban kuno ini kepada kita?

Realitanya adalah dunia yang kita hidup saat ini telah menjerat dan menyibukkan kita. Pengaruh besar pola hidup modern sangat luas di perilaku kita. Keluar dari lingkaran ini sepertinya sangat sulit. Meski dunia sepertinya berjalan di jalur rasionalitas dan kebijaksanaan, namun ternyata manusia di jalur ini saling terpisah dan hubungan emosional mereka semakin tipis.

Teknologi maju seperti jejaring sosial dan teknologi canggih telekomunikasi membuat kehidupan manusia saling terpisah. Kontak fisik selama ini berubah menjadi kontak maya. Namun pada akhirnya hubungan maya ini tidak dapat mengganti kontak fisik sesama manusia.

Di kondisi seperti ini ritual dan festival warisan budaya kuno seperti malam Yalda, sedikit banyak memenuhi kehausan manusia modern akan hubungan emosional dan fisik. Dengan berkumpul bersama dan menghabiskan malam hingga fajar dengan keluarga serta famili, menjadikan hubungan di antara mereka semakin erat dan emosinya terpenuhi.

Fungsi lain dari perayaan dan festival seperti ini adalah menciptakan persatuan dan solidaritas budaya di antara seluruh lapisan masyarakat, seperti di Iran. Hal ini karena festival seperti ini dirayakan dengan tidak memandang etnis, agama dan mazhab. Ini sebuah festival umum yang mencakup seluruh lapisan masyarakat, baik kaya atau miskin, sipil maupun pejabat.

 

Tags