May 03, 2017 16:02 Asia/Jakarta

Festival Internasional Film Fajr pertama digelar pada Februari 1983 dan sejak itu, setiap tahunnya, festival ini menjadi ajang pementasan dan apresiasi terhadap karya-karya film Iran dan asing. Ajang ini menjadi peristiwa proporsional untuk perukaran budaya, pementasan capaian inovatif sineas terkemuka Iran dan juga apresiasi terhadap film-film nasional dan internasional.

Festival ini sejak digelar hingga kini telah memainkan peran penting dalam kemajuan sinema Iran dan setiap tahunnya para sutradara terkemuka dan produsen film tenar menyajikan karya-karya terbaru mereka. Festival ini untuk tiga tahun selama berturut-turut, terpisah dari divisi dalam negeri sinema Iran, telah digelar secara independen pada bulan April.

Berbagai program dalam festival ini antara lain: bagian utama yang mencakup tiga kategori yaitu Sinema Saadat (turnamen internasional), Jelvegah-e Sharq (panorama sinema negara-negara Asia dan Islam) dan Jam-e Jahan Nama (festival-festival). Kategori tambahan antara lain penayangan film-film klasik, dokumentasi, filmography dan peringatan-peringatan. Setiap tahun juga digelar berbagai seminar dan workshop pelatihan serta berbagai pertemuan di samping berbagai kategori utama.

Festival Internasional Film Fajr tahun ini menjamu 350 tamu asing dari 66 negara dunia yang datang ke Iran. Para tamu festival dari 31 negara Asia, 23 negara Eropa, enam negara Afrika dan lima dari benua Amerika dan Australia. Hadir pula para tamu dari 24 negara Islam. 

Para tamu festival ini terbagi dalam beberapa status antara lain, sutradara, penulis naskah, aktor, animator, spesialis efek visual, produser, direktur berbagai festival, pembeli dan penjual film-film. Sebagian di antara mereka juga terdapat para tamu yang berusia di bawah 27 tahun dan sangat berpotensi di bidang filmografi yang separuh di antaranya berasal dari Iran dan 55 lainnya dari negara-negara Islam regional dan berbagai negara lain. Mereka diikutsertakan dalam kategori akademi.

Sebanyak 140 film pendek dan panjang dari 58 negara juga diserahkan ke panitia Festival Internasional Film Fajr ke-35. Di antaranya 35 dari Iran dan 17 dari Perancis sebagai dua negara pencatat karya terbesar dalam festival ini.

Bersamaan dengan Festival Internasional Film Fajr ke-35, juga digelar acara selama tiga hari memperingati wafatnya sutradara terkenal Iran Abbas Kiarostami. Dia pada 4 Januari 2016 meninggal dunia secara mendadak dan peristiwa menyedihkan ini membuat para sineas baik dari dalam negeri maupun mancanegara tergerak untuk menggelar sebuah acara mengenang kepergiannya. 10 bulan telah berlalu sejak kepergian Kiarostami dan digelar acara bertema "Di sini adalah rumah kawan."

Di samping pergelaran berbagai pameran karya-karya seniman fotografer, graphist dan karikaturis tentang Abbas Kiarostami serta hari-hari perpisahan dengannya, selama tiga hari pelaksanaannya, diulas pula berbagai dimensi kehidupan, karya dan posisinya di dunia sebagai seorang seniman berkaliber dalam berbagai seminar.

Pada hari pertama, ditayangkan film Take Me Home, karya film terakhir Kiarostami yang penyusunannya dirampungkan selama beberapa bulan setelah dia terbaring di rumah sakit. Selain itu, ditayangkan pula pesan-pesan video dan suara dari para sineas, kritikus sinema asing antara lain, Victor Erice (sutradara Spanyol), Godfrey Cheshshire (kritikus film Amerika Serikat), Jonathan Rosenbaum (kritikus AS), Fridrik Thor Fridrikssson (sutradara Selandia Baru), Juliette Rinoche (aktris Perancis), Gilles Jacob (mantan direktur Festival Film Cannes), Semih Kaplanoglu (produser Turki) dan Geoff Andre (kritikus Inggris).

Seminar terkait film-film produksi Abbas Kiarostami di luar negeri termasuk di Jepang dan Italia juga dihadiri oleh para rekan Kiarostami dari Jepang dan digelar pada hari kedua. Sementara workshop pelatihan produksi film Abbas Kiarostami di Iran dan di luar negeri digelar pada hari ketiga. Pada kesempatan tersebut ditayangkan juga karya-karya film mahasiswa terbaik dari Iran, Spanyol, Kolumbia dan Kuba.

Selain itu dipamerkan pula kumpulan foto "Snow White" Abbas Kiarostami pada Festival Internasional Film Fajr, khususnya foto spesial Kiarostami di lokasi syuting untuk film terkenal "Dimana Rumah Kekasih". Adapun teaser utama untuk festival tahun ini adalah berkaitan dengan sebuah adegan dari film "Jaddeha" karya Kiarostami.

Kategori akademi atau pencarian bakat diikuti para produser muda Iran, regional dan global, merupakan salah satu di antara kategori paling menarik untuk festival tahun ini. Tujuan dari pelaksanaan kategori ini adalah identifikasi berbagai potensi selama pelaksanaan festival dalam format workship dan program-program pelatihan yang dihadiri oleh para sineas kawakan dan guru besar senima dari Iran dan luar negeri. Para peserta selama enam hari bergabung dalam seluruh aktivitas akademi ini dan seluruh aktivitas sinema mereka satu tahun terakhir akan dibahas dan dianalisa.

Bersamaan dengan pelaksanaan Festival Internasional Film Fajr ke-35, juga digelar Pasar Film Iran ke-20 selama enam hari di Pardis Charsoo, Tehran. Mengingat kesuksesan film Iran di kancah internasional, Pasar Film Iran (IFM), dibentuk sejak 1998 bersamaan dengan dimulainya Festival Internasional Film Fajr.

Majalah Times dalam sebuah edisi khusus mileniumnmya menyinggung sinema Iran dan menyebutnya sebagai "tempat yang paling dapat diandalkan untuk industri film seni dunia" dan IFM pada langkah awal dihadiri para peminat film Iran dari berbagai negara dunia. IFM menawarkan berbagai produk terbaru sinema Iran kepada para peserta Festival dan pengunjung.

Pada tahun 2004, tepatnya pelaksanaan IFM ketujuh, untuk pertama kalinya produk-produk film luar negeri juga diundang untuk memeriahkan IFM dengan tujuan pertukaran budaya di kawasan. Dengan demikian IFM secara bertahap berubah menjadi ajang berpengaruh dalam distribusi film dan program-program televisi yang telah rampung produksinya.

Mohammad Mahdi Yadegari, direktur IFM dan Festival Internasional Film Fajr ke-35 dalam hal ini mengatakan, "Untuk Pasar Film Iran ke-10, telah ditentukan 47 stan dan juga lokasi baru untuk pertemuan para tamu. 18 perusahaan asing, menjadi tamu festival ini dan sisa stan yang tersedia adalah untuk perusahaan dan peserta dari Iran."

Yadegari mengatakan, pada periode kali ini, selain para pelanggan dalam negeri seperti Lembaga Media Visual dan IRIB, untuk pertama kalinya, VOD dan IPTV serta Divisi Online IRIB, dan sejumlah operator resmi juga diundang pada event tersebut. Adapun dari sisi pembeli mancanegara, banyak maskapai penerbangan yang telah diuang dan membeli berbagai film produksi Iran. 

Sebanyak 10 film pendek, dokumentasi, dan sinema ditayangkan pada kategori Zeytunha-ye Zakhmi di Festival Internasional Film Fajr ke-35. Kategori ini adalah satu di antara kategori non-persaingan yang menayangkan karya-karya khusus terkait perang Suriah dan pemberantasan kelompok teroris Takfiri Daesh. Penayangan karya-karya pilihan produsen film Iran dan Irak, serta perspektif terhadap krisis tersebut dari sudut pandang yang berbeda, menyedot perhatian para pembeli dan peminat film pada Pasar Film Iran untuk tahun ini.

Film Babai, pada penayangan perdananya di Festival Internasional Film Fajr, menampilkan perjalanan hidup Alireza Babai yang pergi ke Suriah untuk berperang melawan kelompok teroris Takfiri Daesh dan menjaga makam suci Ahlulbait di sana. Film ini diproduksi pada tahun 2017.

Salah satu di antara film panjang yang ditayangkan pada kategori Zeytunha-ye Zakhmi adalah film berjudul August. Film ini adalah karya tiga sutradara muda Ahmad Zaeri, Mohammad Esfandiari dan Maria Mawati. Film ini mengisahkan seorang tentara Amerika Serikat bernama William yang direlokasi dari posisi sulit di penjara Abu Ghraib ke kamp sementara militer AS di gurun pasir Irak. Dia sedang berusaha melupakan masa lalu. Karya unggulan lain pada kategori ini adalah film berjudul Bad-e Siyah karya Hossein Hassan. Film ini adalah produksi kolektif tiga negara Irak, Jerman dan Qatar. Film ini diproduksi di Kurdistan, Irak, dan menggunakan bahasa Kurdi. Film ini mengisahkan perjalanan pasangan dari etnis Izadi yang akan segera menikah, namun mereka terpisah karena serangan kelompok teroris Daesh.

Tags