Jan 31, 2018 15:45 Asia/Jakarta

Festival Internasional Teater Fajr ke-36 dimulai dengan slogan "Festival Dialog Teater Iran" pada tanggal 18 Januari 2018 dan diakhiri tanggal 29 Januari dengan memperkenalkan para pemenangnya.

Festival ini diselenggarakan oleh Direktorat Departemen Seni Pertunjukan Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran, Asosiasi Seni Drama Iran dan Institut Teater Internasional (ITI), serta  mencakup berbagai kategori termasuk teater Iran, teater bangsa-bangsa, kontes teater Iran, kompetisi teater internasional, poster dan identitas visual, lomba foto dan sastra drama.

Enam provinsi Lorestan, Markazi, Yazd, Bushehr, Khuzestan dan Chahar Mahal va Bakhtiari, menjadi tuan rumah festival teater Fajr di tingkat provinsi yang digelar pada bulan Januari. Karya para peserta tamu Festival Teater Fajr yang diundang untuk dipentaskan di atas panggung berdasarkan pada latar belakang dan kemampuan sutradara, dengan mempertimbangkan beragam format pertunjukan, dramaturgi dan studi pelaksanannya, serta penekanan pada teks-teks Iran.

Festival Internasional Teater Fajr ke-36

Karya seniman internasional yang terpilih, adalah karya dalam bentuk pertunjukan di luar panggung, pilihan dari karya para seniman muda, karya dengan poros peristiwa Revolusi Islam dan Perang Pertahanan Suci.

Bagian teater bangsa-bangsa digelar dengan tujuan memberi kesempatan untuk melihat karya-karya negara lain dan membuka dasar bagi interaksi antarbudaya. Pada kategori ini, dari 147 karya internasional, 19 di antarnya dipilih. Karya-karya itu dalam bentuk seperti pertunjukan panggung, pertunjukan non-panggung, instalasi video, performance, pertunjukan lingkup interaktif, dan banyak lainnya. Negara-negara yang berpartisipasi dalam Festival Internasional Teater Fajr adalah: Jerman, Perancis, Belgia, Belanda, Brazil, Georgia, Irak, Azerbaijan, Turki, Italia, Swiss dan Yunani.

Berikut ini adalah beberapa pertunjukan festival terpenting, di antaranya; Direktur Christopher Rowing dan Catherina Catrica, penulis pertunjukan "Hamlet" dari Jerman, sangat senang melihat pertunjukan mereka di aula utama Kompleks Teater Tehran. Mereka mengatakan bahwa mereka hanya menambahkan kata "Salam" pada awal pertunjukan, yang menekankan bahwa penampilan mereka di Iran tidak berbeda dengan pertunjukan di Jerman. Menurutnya, "Saya pikir kami memberikan penampilan yang berbeda, karena penonton Iran sangat cerdas dan menunjukkan reaksi menarik pada penampilan kami."

Sebuah karya dari penulis, sutradara sekaligus pelakon Valentine D'eniens asal Belgia, merupakan di antara karya yang dipertunjukkan dalam Festival Internasional. Teater Fajr. Sang sutradara menyinggung pidato sosok terkemuka seperti Socrates, Pericles, Malcolm X dan Martin Luther King, menunjukkan bagaimana para politisi memanfaatkan kekuatan kata-kata. Dia percaya bahwa dalam hubungan politik selama 2500 tahun terakhir tidak terjadi banyak perubahan.

Valentine D'eniens mengatakan bahwa titik kolektif pidato pada pertunjukannya dapat dilihat pada bagaimana kata-kata dapat mengubah dunia. Ditambahkannya,"Karya ini sama sekali tidak politis, namun tentang dominasi pidato dan budaya." Dia menjelaskan bahwa hari ini kondisi telah berubah dan bahwa imperium Amerika sedang menghembuskan nafas terakhirnya. Terpilihnya Trump sebagai presiden, dan tren gaya hidup aristokrat merupakan bukti dari dekadensi ini. Amerika telah menginjakkan kaki di jalan yang sama dengan yang ditinggalkan imperium Romawi di akhir-akhir masa kehancurannya.

Festival Internasional Teater Fajr ke-36

Shakerkhoda Goodarzi, sutradara teater dan Katerina Evangelatos, seorang seniman Yunani, menggelar sebuah konferensi pada kategori internasional dengan tema "Studi Perbandingan Posisi Perempuan dalam Puisi Shahnameh dan Tragedi Euripides." Goodarzi, dengan pengalaman menulis naskah dan sutradara selama bertahun-tahun, memiliki pandangan kontemporer untuk merevisi karya-karya klasik. Dengan menguasai karakter mitologis, epik dan sejarah Iran, dia menjalin kerja sama kolektif dengan Katerina Evangelatos untuk mencapai gagasan eksekutif bersama sebagai produk gabungan Iran dan Yunani.

Katerina Evangelatos menempuh studi teater dan filsafat teater, dan sejak tahun 2006 telah menyutradarai banyak karya di Teater Nasional Yunani serta mengajar di banyak lembaga pendidikan terkemuka, termasuk University of Athens. Dia mempelajari tragedi Yunani dalam waktu yang lama, dan telah menggelar sejumlah pertunjukan di Opera Nasional Yunani dengan mengadaptasi karya-karya ini.

Pada konferensi tersebut, keduanya membahas karakter perempuan dalam karya pahlawan nasional negara masing-masing dan melanjutkan sebuah studi baru dalam karya dua penyair yang terkenal di tingkat internasional, Hakim Abul Qasem Ferdowsi, penyair besar Shahnameh, dan "Euripides" penulis terkenal tragedi Yunani.

Proyek "Invisible Cities" karya seorang sutradara Italia Pino Di Buduo, termasuk di antara karya yang dipentaskan pada Festival Internasional Teater Fajr ke-36, dan dipanggungkan di bekas bangunan penjara Qasr, yang sekarang menjadi taman museum. Proyek ini telah berjalan sejak tahun 1991 di kota-kota seperti London, Paris, Roma dan Budapest, dan atas undangan Festival Internasional Teater Fajr serta dengan kerja sama Kedutaan Besar Italia di Tehran, karya ini ditampilkan di kategori non-panggung.

"Invisible Cities" adalah adaptasi dari sebuah novel dengan nama yang sama dari penulis kontemporer Italia, Italo Calvino, yang mengorek hubungan antara kota dan manusia. Proyek ini memposisikan kota sebagai pentas dan sesuai suasana kota, ia merancang skenarionya untuk berhadapan dengan karakter hidup kota. Tehran sekarang juga merupakan kota yang menawarkan peluang potensial untuk jenis interaksi tersebut. Pergerakan, dinamisme dan metabolisme kehidupan kota Tehran, membuat kota ini ideal untuk proyek besar ini, dan audiens menyaksikan penampilan sukses dari pertunjukan tersebut.

Gedung Teater Tehran

Ferdowsi Hall di Tehran pada malam-malam pelaksanaan Festival Internasional Teater Fajr, menjadi tuan rumah salah satu pertunjukan yang disebut Opera Khayyam. Setelah opera Rumi, Hafez dan Saadi, Opera Khayyam adalah sebuah opera boneka yang mengisahkan salah satu penyair besar Iran dan kehidupannya. Behrooz Gharibpour sebelumnya mengambil karya para penyair besar sebagai bahan karyanya termasuk Laila dan Majnun, serta drama klasik seperti Macbeth.

Opera Khayyam karya Behrooz Gharibpour dimulai dengan format yang benar-benar avant-garde dan abstrak dalam bentuk narasi dan mekanisme klasik. Serangan pesawat Nazi dan berbagai cerita dari Perang Dunia Kedua dan militer Nazi Jerman, merupakan di antara faktor yang membuat penonton terpaku sejak awal pertunjukkan serta benak mereka dijauhkan dari Opera Khayyam. Namun dengan ledakan suara Mohammad Motamedi, seorang penyanyi dan munculnya boneka Khayyam di atas panggung, maka gelembung-gelembung perang Nazi pecah dan spirit Iran dan sejarah Iran tampil menyerap perhatian audiens.

Dalam opera ini, disebutkan berbagai peristiwa dalam kehidupan Khayyam dan diberikan penjelasan singkat tentang hal itu bagi mereka yang kurang mengetahui tentang Khayyam, kehidupan dan sejarahnya.

Festival Internasional Teater Fajr ke-36 juga menggelar acara mengenang Ahmad Damoud, Hushang Azadivar dan Jamshid Khanian. Ahmad Damod adalah seorang sutradara, aktor, peneliti, penerjemah dan dosen universitas serta telah menulis dan menerjemahkan banyak buku tentang teater dan akting. Houshang Azadivar, dalam sutradara teater dan sinema, telah menerjemahkan khazanah pertunjukan drama dunia ke dalam bahasa Farsi.

Adapun Jamshid Khanian adalah seorang penulis cerita, naskah dan peneliti di mana di samping menulis cerita dia juga secara serius menekuni penulisan naskah drama. Sebagian kisah dan naskah dramanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Polandia, dan Rusia, dan bahkan beberapa di antaranya merupakan di antara karya pilihan di tingkat internasional.

Tags