Feb 22, 2018 13:50 Asia/Jakarta

Acara penutupan Festival Film Fajr Ke-36 berlangsung pada tanggal 23 Januari dengan memperkenalkan karya-karya pilihan. Pada acara yang dihadiri para seniman dan insan sinema, hadir pula Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran membacakan pesan Presiden Republik Islam Iran Dr. Hassan Rouhani. Dalam pesan itu disebutkan, sinema merupakan salah satu sarana budaya dan artistik yang paling efektif yang sekarang digunakan manusia untuk mengenalkan dan menyampaikan warisan dan capaian peradabannya.

Disebutkan pula, namun sebuah peradaban dapat memiliki harapan untuk bertahan hidup, makmur dan dapat melahirkan kembali nilai-nilainya, jika dapat mengelola proses pertumbuhannya, menilainya sangat esensial, untuk memperhatikan titik kekuatan dan kelemahannya dari perspektif strategis, dan kemudian tidak lengah untuk menyuntikkan "harapan" dalam masyarakat.

Pada bagian lain pesan itu disebutkan, "Sinema memberi peluang untuk menyampaikan kritikan dan mendiskusikan isu penting bagi beragam kelompok masyarakat, dan ini adalah awal dari segala bentuk pemulihan dalam kehidupan politik, sosial, budaya dan ekonomi kita." Di dalam alur cerita sinematik, masyarakat menyaksikan kehidupan, identitas, mimpi, derita, kegembiraan dan harapan.

Mungkin inilah aspek daya tarik sinema dalam masyarakat. Sinema dapat menyediakan sarana pencarian massal, dengan tujuan membantu masyarakat menemukan jawaban. Ketika sinema kita mendekati peran dan tanggung jawab seperti itu,  akan mampu mengandalkan inovasi-inovasinya serta menggaungkan seruannya di dunia, ketimbang meniru.

The Lost Strait

Film The Lost Strait mencakup enam penghargaan termasuk penghargaan Simorgh Kristal untuk efek lapangan terbaik, Simorgh Kristal untuk make up terbaik, Simorgh Kristal efek suara terbaik, Simorgh Kristal untuk aktor terbaik, dan Simorgh Kristal untuk film terbaik. Sutradara film ini adalah Bahram Tavakoli dan narator ceritanya adalah Abu Qarib, seorang remaja penuh semangat yang dengan kameranya merekam seluruh peristiwa di garis depan medan perang. Dia mengisahkan petualangan suatu hari, mencoba untuk mendefinisikan peristiwa yang berat dan getir, namun penuh heroisme. The Lost Strait adalah narasi pertahanan Brigade Ammar dalam melawan pasukan rezim Ba'ath di wilayah Fakkeh dan Sharhani.

Penonton The Lost Strait tidak melihat satu musuh pun akan tetapi mereka merasakan kehadirannya. Musuh di The Lost Strait telah digambarkan dengan baik. Para pahlawan dalam film tersebut tewas dan terluka untuk menjaga selat strategis ini, namun mereka semua diabadikan sebagai pahlawan.

The Lost Strait menelusuri perbatasan antara karya anti-perang dan anti-pertahanan, dan Bahram Tavakoli menciptakan sebuah film anti-perang. Perang, dengan segala keburukannya, menceritakan dan memvisualisasikan kesedihan, kemunduran dan perpisahan, namun tidak pernah mengecam para pemuda yang terpaksa harus memperjuangkan agama dan tanah air mereka di masa lalu. Itu sebabnya film karya Tavakoli ini tidak dapat dikategorikan sebagai film anti-pertahanan.

The Lost Strait dapat disebut sebagai sebuah karya penting sinema perang dalam beberapa tahun terakhir dan diperkirakan akan menjadi parameter lahirnya karya-karya baru selama beberapa tahun mendatang.

Film " The Little Rusty Brains" mendapat empat penghargaan Simorgh Kristal termasuk Simorgh Kristal untuk efek suara terbaik, Simorgh Kristal untuk film seni dan pengalaman terbaik, Simorgh Kristal untuk skenario terbaik dan Simorgh Kristal untuk film terbaik menurut pemirsa. Film yang disutradarai oleh Houman Seyedi ini tentang sebuah wilayah pinggiran kota penuh dengan kejahatan, kriminal dan pelanggaran hukum, akan tetapi yang membuat film ini menarik adalah penonton menyaksikan film tentang kejahatan dan runtuhnya tindak kriminal dan pelakunya.

The Little Rusty Brains

Film "The Little Rusty Brains" mengisahkan tiga bersaudara: Shakour, Shahin dan Shahruz yang tinggal di wilayah pinggiran atau yang disebut Halabi Abad. Film dimulai dengan pergerakan kamera yang sangat aktif. Pada detik-detik awal, kamera bergerak sangat cepat, namun dengan kolase cerdas yang menggambarkan berbagai masalah sosial, sutradara mampu menyingkap tabir menuju dunia baru kepada audiens. Penyutradaraan film ini sangat akurat, khususnya dalam adegan yang padat dan penuh bentrokan, tampak sekali kecerdasan sutradara dalam mengendalikan semua karakter.

Sutradara film tersebut mengatakan bahwa dia tidak berniat untuk memberikan kesan buruk, namun mencoba untuk menjelaskan tentang kegetiran dan di akhir film ini juga sangat memberikan harapan. Dia percaya bahwa kita jangan berharap pasti akan keluar bioskop setelah melihat film apapun dengan tawa, karena tangisan dan kegetiran seperti tawa dan kebahagiaan yang merupakan sebuah afeksi.

Film "Damascus Time" memenangkan tiga penghargaan dalam Festival Film Fajr ke-36 termasuk di antaranya Simorgh Kristal efek suara terbaik, Simorgh Krsital soundtrack terbaik dan Simorgh Kristal untk sutradara terbaik. "Damascus Time" adalah karya film sinema ke-19 sutradara ternama, Ebrahim Hatamikia. Kisah filmnya tentang kelomom teroris Daesh, oleh karena itu terdapat banyak aktor Arab dalam film itu. Daesh pada tahun 2014 mengumumkan pemerintahan khilafah di dunia Islam dan dihancurkan oleh Suriah, Irak dan Iran pada tahun 2017. Alur cerita "Damascus Time" menggambarkan periode kekuasaan Daesh di Suriah.

Mayoritas film Hatamikia, mengisahkan friksi keyakinan di antara para karakter dan filmnya dimulai dengan pertentangan tersebut. Tema utama film ini juga friksi tersebut, dan drama film ini memvisualisasikan pertentangan berbagai ideologi serta pembentukan dan pengelompokkan strukturnya. Sutradara film bahkan membagi Daesh dan menunjukkan perwakilan di antara masing-masing kelompok.

Damascus Time

Penyutradaraan dan penyutingan film yang luar biasa merupakan dua ciri penting "Damascus Time". Namun pada saat yang sama, para aktor non-Iran harus diperhatikan sebagai salah satu elemen kekuatan film ini, mereka yang berperan sebagai karakter antagonis, sangat menonjol dan menjadi bagian dari daya tarik film tersebut.

Perang memiliki dimensi yang berbeda dalam kehidupan manusia dan dampak dari friksi berpanjangan akan bertahan selama bertahun-tahun. Efek ini tidak ada kaitannya dengan pihak mana yang menjadi penyulut perang, karena perang pada intinya membawa kegetiran dan kepedihan.

"Sarv Zire Ab" meraih tiga penghargaan termasuk di antaranya, Simorgh Kristal untuk desain adegan terbaik, Simorgh Kristal untuk penyutingan film terbaik dan Simorgh Kristal untuk film terbaik dari pespektif nasional.

Mohammad Ali Bashe Ahangar, sutradara film tersebut, adalah sosok yang memiliki perspektif khusus terkait perang. Kisah "Sarv Zire Ab" dimulai dengan perjalanan dua orang yang menemukan jenazah. Dia ragu jangan-jangan jenazah seorang syahid keliru disampaikan kepada sebuah keluarga lain, dan oleh karena itu dia memulai perjalanan untuk menemukan jawaban. Perjalanan ini merupakan kesempatan untuk menampilkan dua orang dengan agama yang berbeda (Zoroaster dan Muslim) dan membuat penonton lebih sadar akan bagaimana kedua keluarga memandang konsep kesyahidan.

Film "Bomb" menerima dua penghargaan di antaranya Simorgh Kristal untuk desain busana terbaik, dan dan Simorgh Kristal untuk skenario terbaik (Penghargaan Khusus Juri). Peyman Moadi, sutradara film ini, mengajak pemirsa untuk menonton film dengan tampilan romantis dan berbeda pada peristiwa pemboman tahun-tahun perang. Sebuah perspektif puitis yang menawarkan konsep berbeda dari perang yang umumnya berkaitan dengan kematian. Film ini juga mewakili perspektif cerdas tentang kondisi para pelajar di masa perang.

Secara keseluruhan, karya-karya yang diajukan pada Festival Film Fajr ke-36 menunjukkan bahwa sinema telah berkembang dengan baik menjadi lebih profesional. Kehadiran film yang dirancang dengan baik dengan tema sosial, komedi, pertahanan suci dan perlawanan dalam bentuk fiksi, animasi, dan dokumenter - menghadirkan beragam karya yang memiliki harapan cerah untuk sinema masa depan.

Tapi para sutradara muda dan film-film pertama pada periode ini juga mampu meningkatkan kapasitas mereka dalam menjawab tuntutan komunitas sinema dan penonton. Dengan demikian dapat diklaim bahwa sinema masa depan Iran adalah sinema yang didasarkan pada kekuatan muda dan perspektif kreatif mereka dan tentunya akan semakin bersinar di kancah global.

Tags