May 04, 2016 09:34 Asia/Jakarta

Festival Internasional Film Fajr adalah festival bergengsi yang digelar pada hari-hari peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran yaitu pada bulan Bahman (Februari) di Tehran, ibukota Iran. Festival ini digelar sejak tahun 1361 HS (1983) hingga sekarang dan telah memasuki periode ke-34. Dalam Festival Internasional Film Fajr ke-34, bioskop-bioskop Tehran dan 10 provinsi lainnya menjadi tuan rumah film-film baru Iran, dan berbagai film yang dibuat oleh para produser dari berbagai negara asing.

Festival Film Fajr pada 13 periode pertama menjadi ajang kompetisi dan pertunjukan berbagai film Iran yang diproduksi pertahun. Namun sejak tahun 1374 HS (1996), festival tersebut digelar secara internasional dan mengevaluasi serta mengulas film-film layar lebar dunia. Para peserta festival ini bersaing untuk mendapatkan penghargaan bergengsi, Crystal Simorgh.

Sejak tahun lalu, festival Film Fajr dibuat dua putaran yang digelar bulan Bahman yang bertepatan dengan Februari untuk kategori film nasional, dan bulan April untuk kategori internasional. Tahun ini, menampilkan karya-karya sutradara terkemuka dunia seperti Nanni Moretti, Walter Salles, Jia Zhangke dan Alexander Sokurov.

Penutupan festival Film Nasional Fajr ke-34 berlangsung tepat di hari peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran pada 22 Bahman 1394 Hs atau 11 Februari 2016 di Melad Tower, Tehran. Sebanyak 22 nominator film untuk kategori “Soda-ye Simorg” dan 11 Film untuk kategori “Negah Nou” (Perspektif Baru), dan 11 film untuk kategori “Honar va Tajribeh” (Seni dan Pengalaman).

Festival film Fajr ke-34 untuk kategori internasional juga menayangkan film dari sejumlah negara dunia. Film "Domba-domba" besutan Grimur Hakonarson dari Islandia. Selain itu, film "Gila" garapan Amin Alper dari Turki meramaikan penayangan festival film Fajr. Film "Ibuku" besutan Nanni Morreti dari Italia, film "Pembunuh" yang disutradarai Hou Hsiao-Hsien dari Taiwan dan "Aturan Pasar" besutan Steven B dari Prancis termasuk nominator dalam festival film internasional Fajr ke-34.

Ismael Feroukhi, sutradara Prancis keturunan Maroko yang meraih berbagai penghargaan internasional, untuk kedua kalinya mengunjungi Iran. Ia termasuk juri festival Film Fajr. Mengenai kualitas film yang ia saksikan, sineas Prancis ini menuturkan, "Beragam film dari berbagai negara berpartisipasi dalam festival. Saya menemukan sinema di banyak negara, termasuk Kazakistan. Dari sinema Iran, beberapa waktu lalu saya menyaksikan film 'Cinta Beberapa Meter Kubik', yang luar biasa. Film ini bercerita tentang kehidupan seorang imigran Afghanistan, yang membuat saya terpesona".

Film lain yang menjadi perhatian Ismael Feroukhi untuk kategori film dokumenter adalah film “A157”. Tentang film ini, Feroukhi mengungkapkan, "Aku menonton film A157 garapan sutradara Behrouz Nourani Pour. Aku sangat terpengaruh oleh film ini. Aku sangat menyukai sinema Iran. Ketika membuat film, orang-orang mengatakan kepadaku bahwa filmku seperti film Iran. Mereka percaya aku membuat film Iran. Padahal, aku sendiri tidak mendapat pendidikan khusus sinema. Ketika dahulu di awal membuat film, tidak ada satu pun film Iran yang pernah kutonton,".

Film A157 memotret kehidupan malang tiga orang gadis Suriah setelah ayah dan ibunya tewas dalam perang melawan teroris ISIS. Mereka terpaksa hidup di kamp pengungsi yang berada di perbatasan Turki. Narasi utama film besutan Nourani Pour ini menyoroti kehidupan tiga gadis muda dan remaja yang harus bertahan hidup setelah ditinggal kedua orang tuanya yang tewas dalam perang melawan kelompok teroris ISIS.

Tapi cerita getir mereka tidak berhenti sama di sini. Ketiga perempuan itu harus menanggung penderitaan hidup yang sangat berat setelah kepergian ayahnya. Di usia belianya, mereka harus menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya.

Kepingan film menceritakan pergolakan mental ketika mereka mengandung dan harus berjuang untuk bertahan hidup. Sutradara film dengan sangat apik menampilkan sebagian realitas getir di Suriah. Penderitaan rakyat Suriah akibat perang dan serangan teroris diceritakan dengan sangat baik melalui narasi utama tiga gadis Suriah.

Salah satu film yang ditayangkan dalam festival film Fajr adalah film berjudul "El Clasico besutan Halkawt Mustafa, sutradara berkewarganegaraan Norwegia kelahiran Kurdistan Irak.Menurut Mustafa, film besutannya menyoroti Eropa dengan kacamata Timur Tengah.

El Clasico merupakan film yang menggambarkan masalah kemanusiaan dari perspektif seorang narator orang biasa; dua orang kerdil yang memiliki mimpi besar. Kedua orang itu adalah pencinta bola dari dua tim berbeda, Barcelona dan Real Madrid. Film sederhana tentang cinta, sepak bola dan cita-cita besar ditampilkan dengan cara yang biasa tapi unik. Film ini mendapat sambutan baik dari para penonton.

Halkawt Mustafa menuturkan kisahnya bekerja sama dengan sinemator Iran."Sejak tahun 2003 terjadi perubahan baik di Kurdistan, Irak beberapa kerja sama produksi film dicapai, dan sutradara Iran telah banyak membantu. Saya sendiri banyak dibantu orang-orang Iran dalam produksi film, sebab pengalaman mereka banyak. Tapi amat disayangkan segalanya berubah. Kehadiran kelompok perusak semacam ISIS di Irak, selain membunuh banyak orang, juga menghancurkan sinema Kurdistan Irak. Sejak ISIS memasuki Irak muncul banyak masalah, tidak ada yang memikirkan sinema. Sebab kebanyakan sibuk dengan perang dan konflik. Tapi saya masih optimis, situasi akan berubah dalam waktu dekat,".

Keberhasilan sinema Iran di tingkat global mendorong lahirnya Pasar Film Market Internasional Iran pertama (IFM) yang dimulai tahun 1998, bertepatan dengan perayaan Festival Film Internasional Fajr di bulan Februari.Bahkan majalah Times menyebut sinema Iran sebagai "Rumah Paling Handal bagi Industri Film Seni di Dunia". IFM mengambil langkah awal dalam pameran nasional, even internasional, dan program festival. Selain itu, pada saat yang sama, IFM mulai memamerkan produksi terbaru Iran untuk pelaku pasar.

Pada tahun 2004, agenda utama IFM adalah untuk menjadi tuan rumah sebuah acara pertukaran budaya penting di kawasan. Oleh karena itu, dalam edisi ketujuh dari Pasar Film Internasional, berbagai perusahaan terkait diundang dari seluruh dunia untuk menyajikan dan mendistribusikan film sinema dan produk film serta serial televisi. Akhirnya secara bertahap IFM menjadi platform untuk pertukaran budaya serta distribusi film dan program TV yang diproduksi di kawasan tersebut.

Salah satu terobosan baru di festival film internasional Fajr adalah penyelenggaraan kelas dan pelatihan sinema yang diampu oleh para sutradara, aktor dan aktris terkemuka Iran dalam bentuk sebuah program bernama "Darul Funun". Di bagian ini sebanyak 110 peserta yang datang dari berbagai negara dunia seperti Irak, Afghanistan, Tajikistan, Lebanon dan Palestina selama festival berlangsung mengikuti pelatihan sinema di Iran. Kelas sinema ini digelar untuk para mahasiswa peminat sinema Iran dari berbagai negara dunia.

Tokoh sinema terkemuka Iran seperti Asghar Farhadi, Majid Majidi, Mojtaba Raie, Majid Barzegar, Mahmoud Kelari, Pouran Derakhsandeh dan deretan nama beken lainnya tampil membagikan ilmu dan pengalamannya. Terkait hal ini, Reza Mir Karimi, sutradara Iran, sekaligus ketua festival film Fajr mengungkapkan, "Sinema Iran adalah sinema yang kuat dan di kawasan termasuk yang terbaik, dan memikul tanggung jawab untuk membantu negara-negara tetangga dan negara Timur Tengah serta Asia Tengah yang tertarik dengan sinema Iran untuk membantu mereka. Kinerja festival ini dilakukan lebih ilmiah dan spesifik. Setelah pelatihan berakhir, peserta tidak dilepas begitu saja, tapi interaksi dengan mereka tetap berlanjut. Kami terus mengasah ide dan mempertajam pengalaman mereka."

Festival film internasional ke-34 ditutup 6 Ordebesht yang bertepatan dengan 25 April 2016 dengan memperkenalkan nominator terbaik yang meraih penghargaan.

Tags