May 23, 2020 09:24 Asia/Jakarta
  • Hari pembebasan Khorramshahr
    Hari pembebasan Khorramshahr

Tanggal 3 Khordad 1361 HS, yang bertepatan dengan 23 Mei 1982, para pejuang Iran berhasil membebaskan kota Khorramshahr dari tangan pasukan rezim Baath, Irak. Sejak itu, penanggalan nasional mencacatnya sebagai hari pembebasan Khorramshahr.

Pada 31 Shahrivar 1359 Hs yang bertepatan dengan 22 September 1980, rezim Baath Irak yang didukung kekuatan dunia, melancarkan serangan besar-besaran ke perbatasan Iran. Salah satu target utama serangan pasukan Saddam ke wilayah Iran adalah Khorramshahr, sebuah kota pelabuhan yang terletak di Provinsi Khuzestan, Barat Daya Iran. Mengingat posisinya yang terletak di dekat Teluk Persia dan Irak, wilayah ini sangat strategis baik dari sisi ekonomi, perdagangan, maupun politik.

Saddam dan para pendukungnya di Barat dan Timur percaya bahwa pendudukan Khorramshahr akan membuka jalan untuk melumpuhkan kota-kota lain di Iran dan pada akhirnya melenyapkan Revolusi Islam Iran yang baru berdiri seumur jagung. Namun, kalkulasi Saddam yang didukung negara Barat terutama AS meleset. Mereka tidak memperhitungkan kekuatan iman dan tekad baja para pemuda Iran dalam membela negaranya.

Perlawanan dan aksi heroik bangsa Iran pada akhirnya berhasil membebaskan Khorramshahr dari pendudukan tentara Saddam. Tepat pada 24 Mei 1982, Khorramshahr kembali ke pangkuan Iran, dan hari pembebasan Khorramshahr diperingati setiap tahunnya sebagai “Hari Pertahanan dan Perlawanan”.

Rezim Saddam mengira bisa menduduki Khorramshahr hanya dalam hitungan jam mengingat besarnya pasukan Irak yang dikerahkan ditambah perlengkapan senjata mereka dan lemahnya kondisi Iran saat itu. Namun tanpa terduga, pasukan Irak harus berperang selama 34 hari menghadapi para pemuda Iran baik tentara maupun relawan yang tidak sudi mengosongkan kota itu.

Khorramshahr memang jatuh ke tangan rezim Saddam setelah menyaksikan perlawanan heroik dari para pejuang Iran. Setelah 575 hari diduduki, Khorramshahr direbut kembali melalui sebuah operasi militer yang melibatkan kerjasama antara tentara dan relawan Iran.

Terkait peristiwa ini, wartawan Associated Press menulis, ”Para pejuang Iran pada Oktober 1980 menampilkan perlawanan yang luar biasa dan tangguh, di mana setelah Khorramshahr jatuh, kota itu kemudian dikenal dengan sebutan Khounin Shahr (Kota Berdarah),”.

Masih menurut laporan ini, “Di Khorramshahr, sangat sulit untuk menemukan rumah yang tidak ada bekas tembakan peluru dan roket di dindingnya. Ini adalah bukti tentang bagaimana perlawanan pemuda Iran dari rumah ke rumah untuk mempertahankan kota tersebut. Seorang komandan senior militer Irak pada masa itu mengakui bahwa rakyat Iran yang didominasi oleh pemuda minim pengalaman, siap mengorbankan nyawa mereka demi mempertahankan Khorramshahr.”

 

 

Warga Khorramshahr tidak pernah mengira bahwa tentara Saddam akan melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah mereka. Militer Iran juga tidak punya persiapan untuk menghalau serangan itu. Sejak dimulainya agresi tentara Irak di Khorramshahr, pasukan relawan Iran bangkit membentuk front-front perlawanan dengan senjata terbatas untuk mempertahankan kota itu.

Perlawanan terhadap aggresor Irak juga dilakukan kaum perempuan Iran yang hadir di tengah kelompok-kelompok pejuang. Mereka mampu menghalau pasukan Irak di belakang gerbang kota selama 34 hari. Para pejuang Iran tetap bertahan hingga peluru terakhir mereka sebelum Khorramshahr jatuh ke tangan Saddam.

Sejarah 34 hari perlawanan di Khorramshahr merupakan salah satu lembaran emas dalam sejarah perang delapan tahun yang dipaksakan oleh rezim Saddam terhadap Iran. Banyak buku, terutama dalam bentuk memoar yang terbit untuk melukiskan perlawanan 34 hari para pemuda Khorramshahr. Tidak sedikit dari karya ini yang sudah diadaptasi menjadi film layar lebar. Perlawanan 34 hari pemuda Khorramshahr terhadap agresi tentara Saddam merupakan simbol muqawama dan pertahanan bangsa Iran.

Setelah berhasil menghalau gerak maju tentara Saddam, militer Iran dan pasukan relawan negara ini dalam beberapa operasi menetapkan misi pembebasan Khorramshahr sebagai prioritas mereka. Sebelum ini, aksi heroik rakyat Iran dalam mempertahankan Khorramshahr telah menjadi simbol perlawanan dan ketahanan bangsa ini, sekarang operasi pembebasan Khorramshahr juga menjadi simbol dari tekad dan kekuatan Republik Islam Iran dalam mengubah peta politik dan militer di medan perang. Tidak ada warga Iran yang tidak senang ketika mendengar kabar gembira pembebasan Khorramshahr.

Keberhasilan operasi Baitul Muqaddas selain membebaskan Khorramshahr, juga berhasil menutup kemungkinan tentara Irak menduduki wilayah Iran yang lain. Setelah peristiwa itu, posisi Iran di medan perang kian menguat dan hingga kini bangsa Iran masih tetap mempertahankan semangat untuk tidak memberi peluang musuh melakukan agresi. Imam Khomeini ketika mendengar berita pembebasan Kota Khorramshahr langsung mengatakan, "Allah yang membebaskan Khorramshahr."

Semua agenda rezim Saddam dan pendukungnya porak-poranda. Saddam bahkan mengeluarkan sesumbar bahwa ia siap menyerahkan Kota Basrah jika pasukan Iran berhasil merebut Khorramshahr. Pasalnya, Saddam dan adidaya dunia yang mendukungnya yakin Khorramshahr tidak mungkin bisa direbut kembali oleh Iran.

Dengan dimulainya operasi pasukan Iran dan relawan untuk membebaskan Khorramshar, Saddam meminta pasukannya untuk mempertahankan kota itu seperti mereka melindungi Baghdad dan Basrah. Dia mengatakan, “Khorramshahr merupakan penyangga Basrah, untuk itu kemenangan harus diraih dengan harga berapapun dan pasukan Iran harus dihancurkan.”

Para pendukung Saddam di Barat juga yakin bahwa pasukan Iran tidak akan berhasil merebut kembali Khorramshahr. Sebelum dimulainya operasi pembebasan, radio pemerintah Inggris dalam satu siarannya mengumumkan, “Jika rakyat Iran bangkit ingin membebaskan Khorramshahr, berarti mereka telah memilih buah kenari yang paling keras untuk dipecahkan.” Akan tetapi, pasukan Iran berhasil menghancurkan barisan pertahanan tentara Irak dan mereka menelan kerugian besar.

 

 

Dalam operasi Baitul Muqaddas, 40 jet tempur dan 2 helikopter berhasil ditembak jatuh, 285 tank dan kendaraan lapis baja dihancurkan, 500 kendaraan militer diledakkan 105 tank dan 95 ribu ranjau bersama ratusan kendaraan tempur dan senjata berhasil disita oleh pasukan Iran.

Sejumlah pakar militer dan analis media-media internasional dibuat tercengang dan takjub dengan operasi kilat pasukan Iran dalam membebaskan Khorramshahr. Keberhasilan bangsa Iran membebaskan Khorramshahr dari tangan Saddam telah mengubah perimbangan politik di kawasan dan menghilangkan keraguan terkait kemampuan militer Iran. Nilai penting pembebasan Khorramshahr bukan sekedar peristiwa besar bagi bangsa Iran, namun lebih dari itu menunjukkan bahwa Iran dengan prinsip-prinsip Revolusi Islam tidak akan pernah tunduk pada kehinaan dan penjajahan.

Pembebasan Khorramshahr juga membuka lembaran baru bagi perimbangan kekuatan perang antara Irak dan Iran. Terkait hal ini, koran Perancis, The Liberation menulis, “Pasca pembebasan Khorramshahr oleh orang-orang Iran, AS dan Eropa bersama sejumlah negara kawasan Teluk Persia melakukan sejumlah terobosan untuk mengakhiri perang demi mencegah tumbangnya Saddam,”.

AS yang sangat mengkhawatirkan kekalahan Saddam dalam agresi militer rezim Saddam, meningkatkan pengiriman bantuan militer kepada Irak. Dengan demikian, Washington memasuki fase intervensi langsung regional dan internasional terhadap rezim Saddam dalam agresi militer ke Iran. Tapi nasib perang tidak seperti yang mereka bayangkan.

Pejuangan rakyat dan pemerintah Iran menghadapi agresi Saddam selama delapan tahun menorehkan sejarah baru. Sebab yang dihadapi oleh Iran bukan hanya rezim Saddam, tapi negara-negara besar dunia seperti AS yang berada di belakang Irak dengan seluruh kecanggihan alutsista dan mesin perangnya. Dengan spirit pembebasan Khorramsahahr, bangsa Iran terus melanjutkan perjuangan demi membangun dan meraih cita-citanya, meski harus menghadapi segala bentuk tekanan adidaya global.

Tags

Komentar