Des 17, 2020 18:57 Asia/Jakarta
  • Hari Persatuan Hauzah dan Universitas Iran
    Hari Persatuan Hauzah dan Universitas Iran

Tanggal 27 Azar 1358 Hijriah Syamsiah atau 18 Desember 1979 di Iran ditetapkan sebagai Hari Persatuan Hauzah Ilmiah dan Universitas. 41 tahun yang lalu di hari ini, Ayatullah Dr. Mohammad Mofatteh, salah satu elemen unggul Revolusi Islam Iran, dan pendukung Imam Khomeini, gugur syahid di tangan para teroris anti-revolusi.

Dr. Mofatteh merupakan salah satu ulama Hauzah Ilmiah, dan pakar agama yang berhasil meraih gelar doktor di universitas. Ia menjadi contoh nyata persatuan Hauzah Ilmiah dan Universitas, sebagai dua tempat yang memproduksi ilmu pengetahuan, dan budaya di Iran.

Dr. Mofatteh bukan hanya simbol persatuan Hauzah Ilmiah dan Universitas di Iran, secara pemikiran ia bahkan meyakini persatuan kedua institusi penting ilmu pengetahuan dan budaya ini di tengah masyarakat Iran, dan Revolusi Islam merupakan buah dari sinergi keduanya. Dr. Mofatteh menekankan pentingnya upaya untuk melanjutkan, dan memperdalam persatuan ini demi kemenangan masyarakat Iran.

Dalam perjalanan sejarah Dunia Islam, Hauzah Ilmiah merupakan lembaga pendidikan yang berusia tua, terutama di tengah masyarakat Syiah. Hauzah Ilmiah pertama khusus Syiah didirikan pada abad ke-4 Hijriah Qamariyah di kota Najaf, Irak oleh Syeikh Thusi. Sementara universitas dapat dikatakan lembaga pendidikan baru dan modern. Universitas mulai berdiri di Iran untuk memenuhi sebagian kebutuhan mendesak sebagai dampak interaksi masyarakat Iran dengan Barat.

Selain itu universitas didirikan untuk mendidik calon ahli yang mampu mendorong pembangunan dan kemajuan negara, serta menurunkan jurang kesenjangan industri, militer dan ekonomi Iran dengan Barat. Sekalipun akar pertama berdirinya universitas di Iran kembali ke masa kepemimpinan Amirkabir, dan didirikannya Darol Fonoon, namun Universitas Tehran dianggap sebagai universitas pertama Iran yang berdiri pada tahun 1313 Hs, atau 1934.

Dr. Mofatteh

Setelah berlalu 85 tahun sejak masa itu, sejumlah banyak lulusan dihasilkan dari Universitas Tehran dan universitas-universitas lain di Iran, mendorong roda pembangunan, inovasi dan kesejahteraan negara ini. Di sisi lain, Hauzah Ilmiah sejak beradab-abad lalu sudah memikul tanggung jawab mendidik para pemuda Iran. Hauzah Ilmiah, dan lembaga-lembaga pendidikan agama, sebelum berdirinya universitas di Iran, telah menjadi tumpuan utama pendidikan pemuda Iran, meski terbatas hanya pada pendidikan agama, dan tidak memberikan pendidikan ilmu-ilmu kontemporer.

Berdirinya universitas sebagai sebuah lembaga pendidikan impor di Iran, dan visi non-agama yang mendominasi sistem pendidikan, dosen, dan mahasiswanya, lambat laun melahirkan sebuah pemikiran di tengah masyarakat bahwa  universitas dan Hauzah Ilmiah adalah dua entitas berbeda, bahkan saling bertentangan, pasalnya sebagian orang menganggap sumber keberadaan universitas adalah sains, humanisme, dan berpikir, sementara Hauzah Ilmiah berdiri di atas fondasi iman.

Pemikiran semacam ini diyakini masyarakat Iran, selama hampir dua dekade sejak berdirinya universitas pertama di negara ini, namun sejak tahun 1950 ke depan, seiring masuknya mahasiswa relijius dan mukmin ke universitas, dan pengenalan lebih besar mereka atas ilmu-ilmu modern yang diajarkan di kampus-kampus, hubungan Hauzah Ilmiah dan Universitas di Iran menjadi cair, dan muncul banyak contoh sinergi keduanya.

Bersamaan dengan terus menguatnya atmosfir tirani di Iran, dan semakin sejalannya mahasiswa dan Talabeh (pelajar agama di Hauzah Ilmiah) dalam mengkritik sistem politik berkuasa di Iran, hubungan kedua lembaga dengan cepat mengalami peningkatan. Kemunculan Imam Khomeini di arena politik nasional, dan pandangan positif beliau terhadap universitas, dan mahasiswa, serta penekanannya atas urgensi kerja sama, dan persatuan Talabeh dan mahasiswa, pemikiran negatif terhadap univeristas di kalangan Hauzah Ilmiah, dan masyarakat mulai terkikis.
 
Imam Khomeini

Di sisi lain, ide baru dan pemikiran politik revolusioner yang digagas seorang ulama Hauzah Ilmiah, dan Marja Taklid, menjadi benteng kokoh bagi para mahasiswa yang saat itu sangat mengecam atmosfir tirani di tengah masyarakat Iran. Imam Khomeini menyadari satu-satunya jalan untuk menyelamatkan negara, dan menyingkirkan tirani politik yang merajalela di Iran, serta menggalang perlawanan rakyat, adalah persatuan Universitas dan Hauzah Ilmiah, dan sejak pecahnya perlawanan, ia menekankan masalah ini.

Ayatullah Dr. Mofatteh adalah salah satu murid unggul Imam Khomeini yang menjadi perwujudan pemikiran beliau. Dr. Mofatteh dengan menempuh pendidikan di Hauzah Ilmiah dan universitas, menunjukkan contoh nyata persatuan kedua lembaga pendidikan itu kepada masyarakat Iran, dan selama hidupnya, ia membangun pemikiran ini. Ia percaya akademisi di kampus mampu mendidik generasi berkomitmen di tengah mahasiswa untuk masa depan Iran, dengan mempelajari ilmu Islam, menciptakan semangat kezuhudan, dan ketakwaan dalam dirinya.

Di sisi lain para Talabeh di Hauzah Ilmiah juga dapat mempelajari ilmu-ilmu modern, dan menggunakannya di kampus-kampus sehingga bisa meningkatkan kualitas dakwahnya dari sebelumnya. Dalam sebuah artikel berjudul “Persatuan Masjid dan Kampus” yang dimuat di Maktab-e Eslam pada 1340 Hs, Dr. Mofatteh menekankan urgensi persatuan Hauzah Ilmiah dan Universitas dan menulis, jika muncul pertentangan antara lapisan universitas dan Hauzah Ilmiah, maka lapisan Roshanfikr (yang tercerahkan) akan menentukan jalannya sendiri, dan kalangan agamis akan memilih jalan lain, di sinilah fase awal kekalahan dan kemunduran. Ide ini adalah salah satu poros asli diskursus Revolusi Islam, dan salah satu rahasia kemenangan dan keberhasilan Revolusi Islam. 

Imam Khomeini sepanjang perjuangannya selalu menekankan pemikiran ini, kepada para Talabeh ia selalu menegaskan untuk mempererat hubungang dengan akademisi di kampus, menyamakan pemikiran, dan tidak defensif dalam menghadapi kalangan kampus, sebaliknya Imam Khomeini meminta para akademisi dan mahasiswa di kampus untuk mendekat ke kalangan Hauzah Ilmiah, dan menyamakan pemikirannya, dan melangkah bersama.
 
Hauzah Ilmiah Qom

Beliau menilai persatuan Hauzah Ilmiah dan universitas sebagai saah satu prestasi penting Revolusi Islam Iran. Imam Khomeini berkata, saya menganggap kemenangan terbesar adalah rekonsiliasi universitas dan Hauzah Ilmiah. Teori Imam Khomeini ini bukan hanya mengamati peran efektif dua lembaga ini dalam mencapai kemenangan Revolusi Islam Iran, bahkan kelanjutan cita-cita revolusi dan kemajuan bangsa Iran di masa depan.

Di tahun-tahun pasca kemenangan Revolusi Islam, masalah persatuan Hauzah Ilmiah dan Universitas, kualitas dan kuantitas, juga perannya dalam menentukan masa depan negara, menjadi salah satu masalah penting di tengah pemikir dua lembaga pendidikan itu. Sekelompok pemikir percaya persatuan Hauzah Ilmiah dan Universitas mensyaratkan penggabungan keduanya dan tanpa ini persatuan tidak akan pernah nyata, dan berumur panjang. Pandangan mekanis ini tidak terlalu mendapat tempat di tengah masyarakat Iran.

Sekelompok pemikir lain percaya maksud Imam Khomeini dari persatuan antara Hauzah Ilmiah dan Universitas bukan persatuan mekanis tapi persatuan dengan tujuan dan konvergensi dalam orientasi ilmu pengetahuan dan interaksi sosial demi solidaritas masyarakat, dan menyiapkan pembangunan serta kemajuan negara, sementara persatuan mekanis bukan hanya tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan akan menambah semakin banyak masalah. 

Oleh karena itu, selama hidupnya Revolusi Islam Iran, dua lembaga pendidikan, Universitas dan Hauzah Ilmiah di tengah kerjasama dan interaksinya, menghindari penggabungan fisik dan esensinya. Dalam hal ini peran para dosen dan mahasiswa relijius di universitas, dan Talabeh tercerahkan di Hauzah Ilmiah, sangat efektif dalam menciptakan solidaritas dan simpati di antara keduanya.

Tokoh-tokoh besar semacam Ayatullah Syahid Muthahari, Ayatullah Dr. Mofatteh, Ayatullah Dr. Behehsti, adalah contoh nyata dari teladan ini yang sungguh disayangkan gugur di tahun-tahun awal revolusi di tangan teroris yang mencemaskan generasi semacam ini akan terus tumbuh di Iran.

Dr. Daoud Firahi

Mereka adalah generasi yang meyelaraskan ilmu lama dan baru dalam pemikiran, dan perilakunya. Gugurnya tokoh-tokoh besar ini bukan hanya tidak berhasil menghentikan berlanjutnya ide dan pemikiran mereka, bahkan di bawah wacana Revolusi Islam, warisan berharga mereka tidak terputus, dan melahirkan pemikir-pemikir baru sebagai bukti persatuan Hauzah Ilmiah dan Universitas.

Tokoh terbaru yang dapat menjadi simbol nyata persatuan Hauzah Ilmiah dan Universitas dalam satu atau dua dekade terakhir adalah mendiang Dr. Daoud Firahi. Ia yang selain menempuh pendidikan Hauzah Ilmiah, juga meraih gelar doktor politik di Universitas Tehran, sekitar 20 tahun lalu mulai menjadi anggota Staf pengajar Fakultas Hukum dan Ilmu Politik, Universitas Tehran.

Ia berhasil menjadi khazanah besar dengan memanfaatkan tradisi Hauzah Ilmiah dan ajaran agama, pada saat yang sama ia menjadi mesin pengetahuan yang kuat dalam upaya mencapai kedewasaan ilmu modern, dan universitas khususnya dalam tradisi pemikiran politik Islam, dan Syiah, yang menciptakan langkah-langkah efektif. Ia berhasil membuahkan asas pemikiran dan filsafat kesesuaian agama dan demokrasi, dan memberikan jalan keluar untuk banyak masyarakat Islam dari tirani politik.

Selain menjaga keaslian dan kredibilitas khazanah budaya agama, ia mewujudkannya dalam kerangka teori baru, dan dengan menunjukkan diri sebagai figur yang berpikir bebas, kritis, dan menerima kritik, berhasil menjadi teladan ilmu pengetahuan, dan menghadiahkan ilmu Hauzah Ilmiah dan Universitas kepada masyarakat.

Tanpa menciptakan kontroversi dalam masalah persatuan Universitas dan Hauzah Ilmiah, dan tanpa mempolitisasi masalah ini, Dr. Firahi menjadi manifestasi nyata persatuan Hauzah Ilmiah dan Universitas, dan membuktikan bahwa putra-putra Khomeini di Hauzah Ilmiah dan Universitas terus melanjutkan jalannya, dan jalan para syuhada semacam Dr. Mofatteh, yang mendidik ratusan Talabeh, dan mahasiswa pembela persatuan Hauzah Ilmiah dan Universitas di Iran.

Dua bulan lalu nikmat keberadaan Dr. Firahi diambil dari rakyat Iran karena wabah Virus Corona. Semoga rahmat Ilahi selalu meliputi beliau dan orang-orang semacamnya. (HS)

Tags