Mar 25, 2017 08:05 Asia/Jakarta

Suriah dalam setahun lalu menghadapi berbagai kondisi fluktuatif. Para teroris dengan bantuan para pendukung mereka memamerkan berbagai perilaku tidak manusiawi dan tragis di berbagai wilayah Suriah. Tidak diragukan lagi bahwa foto-foto terbaru jenazah para pengungsi Suriah khususnya anak-anak di berbagai wilayah Eropa yang dimuat media massa, merupakan di antara fakta getir yang mengungkap berbagai dimensi buruk kejahatan para teroris terhadap warga Suriah.

Namun pembebasan kota Aleppo merupakan titik balik berbagai transformasi Suriah tahun lalu. Tidak diragukan lagi harapan para teroris di Suriah pasca kekalahan mereka di Damaskus dan Homs, telah mengubah jalur perang di Suriah. Kekalahan para teroris di Aleppo adalah titik balik bagi keberhasilan militer dan pasukan rakyat Suriah di hadapan para teroris dalam beberapa bulan terakhir. Kekalahan tersebut di Aleppo mengawali rentetan kekalahan para teroris di berbagai wilayah termasuk Tadmur.

 

Oleh karena itu, kekalahan para teroris di Aleppo sama dengan hitungan mundur nasib mereka di Suriah. Pembebasan kota Aleppo berarti kekalahan program Barat dan rezim Zionis serta sejumlah rezim Arab pendukung terorisme di kawasan dan Turki. Israel bersama Barat menggulirkan politik makar di kawasan dan masalah ini telah mereka akui. Dalam hal ini, Menteri Perang Israel, Avigdor Lieberman, beberapa waktu lalu secara tegas menekankan bahwa disintegrasi Irak dan Suriah adalah kunci solusi krisis Suriah dan ini menjelaskan dengan gamblang tujuan sejati Israel di kawasan Timur Tengah.

 

Makar anti-Suriah harus dianalisa dari kerangka intervensi transregional Barat di kawasan Timur Tengah harus dilihat dari prioritas disintegrasi negara-negara regional. Aleppo adalah di antara kota penting dan kunci Suriah yang memiliki posisi khusus dalam pertimbangan para penyusun makar Suriah. Proyek disintegrasi Suriah dimulai dari pendudukan Aleppo dan perubahannya menjadi ibukota baru untuk wilayah Suriah yang dikontrol oleh para teroris. Namun perlawanan hebat militer dan pasukan relawan rakyat berhasil menggagalkan makar musuh. Yang pasti kekalahan para teroris di Aleppo mengawali episode  kemenangan di pihak Suriah serta mendongkrak semangat para pejuang menghadapi para teroris.

 

Pelemahan teroris di kawasan Timur tengah menjadi landasan kemenangan lebih banyak perjuangan melawan para teroris serta pembebasan kota Mosul di Irak dan banyak wilayah di Libya. Secara keseluruhan, kemenangan militer dan pasukan muqawama Suriah di Aleppo, membersitkan ufuk cerah dalam pemberantasan terorisme di berbagai wilayah Timur Tengah.

 

Masalah lain dalam hal ini adalah bahwa pembebasan Aleppo juga berarti peningkatan popularitas dan legitimasi Bashar Al-Assad di dalam negeri serta pembuktikan kemampuannya dalam mengelola Suriah serta kesuksesannya memberantas terorisme. Oleh karena itu, kemenangan pertempuran di Aleppo pada praktisnya telah menghapus santernya isu penggulingan Assad.

 

Pada saat yang sama, masalah disintegrasi Suriah yang gencar digemborkan kelompok oposisi bahwa mereka akan mengubah Aleppo seperti Benghazi (Libya) kedua, juga gagal. Kemenangan di Aleppo menjadi pijakan kokoh pemerintah Suriah untuk mempertahankan integritas teritorialnya serta membuyarkan seluruh rencana musuh untuk memecah-belah Suriah.

 

Pembebasan Aleppo sebagai kota terpenting kedua di Suriah dan kota terpenting di wilayah utara negara itu, terjadi di saat negara-negara pendukung teroris yaitu Barat dan sejumlah rezim di kawasan, telah mengerahkan seluruh daya untuk menyukseskan makar mereka. Rencana musuh di Suriah adalah untuk membentuk sebuah pemerintah oposisi bersenjata di kota tersebut serta ibukota kelompok penentang pemerintah pusat Damaskus. Melalui cara itu, makar Timur Tengah Baru Amerika Serikat dapat terwujud.

 

Namun pembebasan penuh kota Aleppo dari pendudukan teroris, sekali lagi membentukan makar Timur Tengah Baru besutan AS itu ke jalan buntu. Oleh karena itu, bobot kemenangan di Aleppo sama seperti kemenangan muqawama Lebanon dalam Perang 33 Hari melawan agresi rezim Zionis pada tahun 2006. Pada perang itu, Israel sebagai pion Amerika Serikat dalam menindaklanjuti program Timur Tengah Baru dan disintegrasi Lebanon, gagal mencapai tujuannya berkat perjuangan muqawama dan rakyat Lebanon. 

 

Pergerakan cepat militer Suriah di Aleppo juga menjadi titik balik lain di medan perjuangan melawan para teroris. Hal ini tidak hanya terbatas di medan pertempuran saja melainkan juga terjadi di kancah politik dan internasional. Termasuk di antara keberhasilan tersebut adalah pengokohan posisi pemerintah Suriah yang hingga kini memiliki tingkat akseptabilitas tinggi khususnya terkait penekanan bahwa masa depan politik negara ini harus ditentukan oleh rakyat Suriah.

 

Kemenangan di medan pertempuran di Suriah memberikan pengaruh besar dalam perimbangan politik terkait krisis Suriah dalam setahun terakhir. Perundingan gencatan senjata di Suriah dengan kelompok-kelompok oposisi merupakan titik balik dalam transformasi politik Suriah selama setahun terakhir, khususnya pasca kekalahan teroris di Aleppo. Penandatanganan kesepakatan gencatan senjata di Suriah merupakan peristiwa penting dalam perang yang telah berkecamuk selama enam tahun ini. Karena ini menjadi bukti supremasi militer Suriah dan pasukan sekutunya di medan tempur.

 

Pada saat yang sama, gencatan senjata itu juga dapat diartikan sebagai bentuk keputusasaan kelompok oposisi untuk menggapai kemenangan dalam pertempuran mereka melawan pemerintah Suriah. Sekarang Rusia, Iran dan Suriah telah bertekad meyukseskan solusi politik untuk krisis Suriah. Dalam hal ini, Moksow berupaya mengubah perundingan yang terorientasi Barat menjadi terorientasi Timur serta merelokasi lokasi perundingan dari Jenewa ke Kazakhstan. 

 

Putaran sebelumnya perundingan damai antara pemerintah Suriah dan kelompok oposisi kembali pada April 2016, selama dua pekan di Jenewa Swiss. Adapun perundingan baru yang disebut dengan Jenewa IV digelar akhir tahun 2016. Namun kedua perundingan tersebut gagal membuahkan hasil.

 

Di sisi lain, perundingan di Astana, Kazakhstan, adalah penindaklanjutan perundingan Jenewa dan bersifat suportif untuk proses politik dalam krisis Suriah dan manajemen mereka. Astana, ibukota Kazakhstan, dalam beberapa bulan lalu menjadi tuan rumah perundingan krisis Suriah di mana posisi semua pihak yang terlibat di dalamnya tidak dapat dibandingkan dengan posisi mereka pada pelaksanaan konferensi Jenewa di awal tahun 2016.

 

Perundingan Astana untuk membahas krisis Suriah digelar pada 23-24 Januari 2017 dengan partisipasi kelompok-kelompok oposisi dan delegasi pemerintah Suriah, serta diawasi oleh tiga negara Rusia, Turki dan Republik Islam Iran. Konferensi Astana digelar berbeda dengan beberapa perundingan serupa sebelumnya. Karena isu berlanjutnya kekuasaan Assad sudah tidak lagi menjadi topik pembahasan melainkan lebih terfokus pada gencatan senjata dan bantuan kemanusiaan.

 

Di tingkat dalam negeri, kelompok-kelompok oposisi dan pemerintah Suriah berunding di Astana ketika perkembangan di medan pertempuran menunjukkan perbedaan yang sangat jauh. Pelemahan kekuatan kelompok-kelompok teroris yang merosot dengan cepat, membuat mereka melirik strategi bengis dan tidak manusiasi seperti menutup saluran air untuk warga Suriah, yang merupakan contoh nyata kejahatan perang.

 

Di tingkat regional, posisi para pemain regional dalam krisis ini juga tidak dapat dibandingkan dengan perundingan selama beberapa tahun terakhir. Untuk pertama kalinya tercapai kesepakatan antara Rusia, Republik Islam Iran dan Turki terkait krisis Suriah. Sementara dalam perundingan sebelumnya, Turki masuk dalam barisan penentang utama pemerintah Assad di samping Arab Saudi, Amerika Serikat. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa menyusul semakin dekatnya perspektif Turki dengan kebijakan Republik Islam Iran dan Rusia terkait krisis Suriah, maka perimbangan kubu-kubu yang bersitegang dalam krisis ini juga berubah.

 

Salah satu perbedaan esensial di tingkat regional yang tampak dalam perundingan Astana adalah tidak ada negara Arab yang terlibat dalam perundingan di Kazakhstan. Ini berarti Arab Saudi dan Qatar sebagai penentang utama pemerintah Suriah, yang telah menggelontorkan banyak dana untuk mendukung para teroris, telah termarginalkan dan tidak dilibatkan dalam perundingan Astana.

 

Akan tetapi, ketidakterlibatan kedua negara tersebut juga berpotensi berdampak pada hasil-hasil yang dicapai dalam perundingan Astana, mengingat keduanya dipastikan akan berupaya menggagalkan capaian di Astana dengan menyisihkan petrodolar mereka. Di sisi lain, jika sebelumnya Amerika Serikat menjadi pemain utama dalam berbagai perundingan soal krisis Suriah, akan tetapi untuk perundingan di Astana, Iran, Rusia dan Turki bahkan mempertimbangkan undangan kepada AS.

 

Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, muncul indikasi penting reduksi krisis Suriah di tingkat internasional. Pasca pembebasan Aleppo, perspektif dan sikap para pemain internasional dan regional juga mengalami perubahan besar. Pasca pembebasan Aleppo, posisi para pemain utama regional dan transregional dalam krisis Suriah telah berubah dan perundingan Astana menunjukkan bahwa Amerika Serikat, Uni Eropa dan negara-negara Arab regional telah tersingkirkan.

Tags