Sep 27, 2017 11:05 Asia/Jakarta

Suatu hari Nabi Isa as berkata kepada para pengikut setianya (Hawariyun), "Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk (menegakkan) agama Allah?" Mereka lalu menjawab, "Kami-lah penolong-penolong (agama) Allah." Dengan menyebut contoh mulia ini, al-Quran mengajak orang-orang yang beriman untuk menjadi penolong (agama) Allah.

"Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia; "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata; "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang." (As-Saff ayat 14).

Pada hari itu, Allah Swt mengetahui bahwa akan tiba suatu masa di mana sekelompok orang akan menjadi penolong Husein as dan mereka sangat teguh dalam memberikan pertolongan sehingga membuat para penghuni alam malakut dan jabarut terpana. Ketika para malaikat memprotes penciptaan manusia yang mereka yakini akan berbuat maksiat dan kerusakan di muka bumi, Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Dua peristiwa yang saling bertolak belakang terjadi pada tahun 60 Hijriyah. Yazid bin Muawiyah tampil dengan kekuatan penuh untuk menghancurkan spirit menuntut keadilan di masyarakat dan mempersiapkan jalan untuk mewujudkan tujuan-tujuan jahatnya. Sementara Imam Husein as – pemuda yang besar di bawah bimbingan Ali as – bangkit melawan Yazid dan pemikiran-pemikiran jahatnya.

Kebangkitan Imam Husein as bertujuan untuk menegakkan kebenaran, menuntut keadilan dan kebebasan serta memperjuangkan nilai-nilai moral. Oleh karena itu, kebangkitan ini memiliki dimensi global dan dikenang abadi dalam sejarah. Imam Husein menyeru orang-orang yang beriman untuk menolongnya dan mereka menyambut seruan itu dengan kalimat Labbaika Ya Husein dan mementaskan epik jihad yang begitu indah.

Imam Husein seakan telah memilih para musafir jalan cinta, irfan dan keikhlasan dari ribuan dan jutaan orang-orang Muslim, di mana Islam, al-Quran, iman, dan cinta terpatri dalam sanubari mereka. Di pagi hari Asyura, 72 ksatria harus berhadapan dengan 30 ribu pasukan Yazid. Meski jumlah mereka sedikit, para sahabat Imam Husein dengan jiwa yang besar dan kekuatan iman, siap membela sosok yang paling dicintai di sisi Allah Swt dan Rasul-Nya ini.

Kala itu, Burair bin Khazir Hamdani mulai melontarkan candaan untuk memancing tawa sahabatnya, Abdul Rahman bin Abd Rabbah Ansari, tapi Abdul Rahman justru mengingatkan sahabatnya itu jika sekarang saatnya untuk serius, bukan bercanda, sekarang waktu untuk menyambut kematian di jalan Allah, bukan kehidupan fana di dunia ini. Burair kemudian berkata kepadanya, "Kabilahku mengerti jika aku bukan orang humoris, tidak di waktu muda dan tidak di kala tua. Tapi Allah Maha Mengetahui bahwa aku sangat gembira dan senang dengan apa yang akan kita temui hari ini. Aku yakin sudah tidak ada jarak antara kita dan Hurul 'Ain; sampai pedang musuh menghujam tubuh kita."

Para sahabat Imam Husein as merupakan poros iman, di mana hati dan jiwa mereka dipenuhi oleh kecintaan kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, sudah tidak ada rasa takut dalam diri mereka. Mereka semua mencapai kesyahidan di medan jihad, tapi perjuangannya telah menyirami tunas kebebasan dan perlawanan terhadap kezaliman. Mungkin atas dasar ini pula, Rasulullah Saw bersabda, "Sungguh kesyahidan Husein senantiasa membakar hati orang-orang yang beriman, yang tidak akan pernah padam selamanya."

Menurut ungkapan Imam Khomeini ra, semangat dan gelora Karbala telah mengantarkan Revolusi Islam ke gerbang kemenangan pada tahun 1979. Beliau berkata, "Jika bukan karena Asyura, kehangatan, dan gelora ledakannya, maka tidak jelas apakah kebangkitan seperti ini – tidak pernah ada sebelumnya dan tidak tertata rapi – akan terjadi."

Sejak hari-hari pertama Revolusi Islam di Iran, para pengikut setia revolusi adalah orang-orang yang memulai gerakan dan perjuangannya dengan nama Imam Husein as. Mereka seakan belajar dari detik-detik kebangkitan Asyura dan seperti para sahabat Imam Husein, mereka berjuang dengan penuh kesetiaan dan kesabaran. Masyarakat memandang perjuangannya tidak terpisahkan dari kepahlawanan para sahabat Imam Husein, yang tidak pernah menyerah dalam menolong pemimpinnya. Pada malam Asyura, mereka mengungkapkan kesetiaannya dengan penuh cinta dan berkata, "Jika aku harus terbunuh seribu kali di jalanmu dan dihidupkan kembali, aku akan tetap membelamu."

Masyarakat yang akrab dengan budaya Asyura, mereka akan dinamis, terus bergerak maju, dan menggali potensinya. Oleh karena itu, Revolusi Islam di masyarakat telah melahirkan manusia-manusia baru yang mengukir sejarah dan mementaskan peristiwa-peristiwa yang sarat dengan semangat, cinta, keberanian, dan kegagahan Asyura. Imam Khomeini berkata, "Lembar kemenangan revolusi adalah sebuah perubahan yang muncul dalam diri masyarakat Iran."

Imam Khomeini telah menyadarkan kembali bangsa Iran yang berada di bawah despotisme Shah, penindasan, dan penjajahan selama bertahun-tahun. Kecintaan kepada Islam, al-Quran dan Ahlul Bait Nabi Saw telah membawa kemenangan bagi Revolusi Islam.

Rezim Baath Irak melancarkan agresi sepihak terhadap Iran ketika tunas Revolusi Islam belum kokoh. Kali ini, orang tua, para pemuda, dan remaja bergegas menuju medan perang dan dengan jiwa dan raga, membela Revolusi Islam dan tanah air mereka. Delapan tahun perang, Iran telah memanen para pemuda yang berani, ikhlas, dan taat.

Dengan semangat mengikuti Imam Husein as serta membela agama dan kebebasan, masyarakat Iran semakin tersadar dan mereka berbondong-bondong menuju medan perang untuk membela Revolusi Islam. Hossein Fahmideh (13 tahun) dengan keberanian yang luar biasa, telah mengingatkan orang-orang pada sosok remaja Bani Hasyim, Qasim bin Hasan as. Qasim terjun ke medan laga dengan gagah berani untuk membela pamannya dan ia meneguk cawan syahadah setelah membunuh sekelompok musuh.

Ketika itu, lima unit tank militer Irak sedang menyerang barisan pejuang Iran dan berniat mengepung mereka. Hossein Fahmideh yang berbekal beberapa buah granat di pinggang dan tangannya, melaju kencang menuju ke arah tank-tank musuh. Sebutir peluru menancap di kakinya dan membuatnya terluka. Namun, tanpa rasa ragu sedikit pun, ia menerjang dentuman peluru musuh hingga mencapai barisan tank, ia pun meledakkan dirinya untuk menghancurkan tank musuh.

Tentara musuh mengira serangan tersebut berasal dari aksi balasan pasukan Iran. Mereka ketakutan dan meninggalkan tank-tanknya untuk menyelamatkan diri. Akhirnya, kepungan tentara Irak berhasil dipatahkan dan pasukan bantuan Iran juga tiba di lokasi. Para pejuang Iran berhasil mengusir tentara Irak dari salah satu daerah di Khorramshahr.

Ketika berita gugurnya Hossein Fahmideh sampai ke Imam Khomeini, beliau berkata, "Pemimpin kita adalah remaja 13 tahun, di mana dengan hati kecilnya yang bernilai lebih besar dari ratusan lisan dan pena, dengan granat ia melemparkan dirinya di bawah tank musuh dan menghancurkan tank tersebut, dan ia pun meneguk cawan syahadah." Para pejuang Revolusi Islam Iran mengikuti garis perjuangan Imam Husein as, yang mencari keridhaan Tuhan dan tidak sabar untuk berjumpa dengan-Nya.

Doktor Sayid Jakfar Shahidi berkata, "Revolusi Asyura adalah sebuah kebangkitan besar; sebuah kebangkitan yang tampak sekilas tidak membawa hasil pada hari itu. Akan tetapi, hasilnya terus terlihat dan bahkan sampai hari ini. Kebangkitan itu tampak telah padam, namun ia tidak pernah surut. Revolusi Imam Husein terus hidup, kadang dengan kebangkitan Sulaiman bin Surad – seorang yang ikhlas – kadang dengan kebangkitan Mukhtar Tsaqafi yang bangkit menuntut balas darah Imam Husein as. Hari ini, kebangkitan Imam Husein menginspirasi orang-orang yang menderita di bawah penguasa zalim."

Tags

Komentar