Feb 12, 2020 21:27 Asia/Jakarta
  • Kelahiran Sayidah Fathimah al-Zahra as
    Kelahiran Sayidah Fathimah al-Zahra as

Jika Allah dalam ayat 42 surat Ali Imran menyebut Maryam sebagai wanita terbaik di masanya, maka Sayidah Fathimah al-Zahra as oleh Nabi Muhammad Saw dikatakan sebagai wanita terbaik di seluruh alam penciptaan (Sayidah Nisa'il Alamin), dimana belum pernah terdengar sepatah kata yang batil darinya.

Subuh tanggal 20 Jumadil Tsani, cahaya dan rahmat Allah dari Arsy tercurahkan ke tanah Mekah. Pada hari baik ini, yang merupakan hari terbaik yang dihitung-hitung setiap saat oleh Muhammad Saw dan Khadijah, dimana mereka merangkul hasil dari pohon kenabian. Dalam sekejap, surga tampaknya telah datang ke rumah Rasul Allah, dan bumi telah membanggakan langkah-langkahnya kepada orang-orang surgawi. Ya, Fathimah as, sinar cahaya paling terang dari Muhammad telah terbit. Nabi yang bahagia merangkul anak itu, mencium dahinya dan menatap wajah Fatima yang tenang dan luar biasa. Pandangan Fathimah membuat hati Nabi tenggelam dalam kebahagiaan dan kegembiraan.

Dengan kelahiran Sayidah Fathimah as, seakan-akan Allah menganugerahkan khazanah wujud kepada Nabi-Nya dan sesuai dengan ucapan al-Quran, Fathimah as bagi Nabi adalah Kautsar, kebaikan yang banyak, sehigga Allah dengan indah mendeskripsikannya kepada Nabi Saw, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah." (QS. Al-Kautsar: 1-2)

Ayat-ayat pendek ini sangat memberikan harapan kepada Nabi Saw dan beliau dengan seluruh wujudnya percaya akan janji-janji Allah. Fathimah as datang untuk menjadi para pemimpin wanita di alam semesta dan keturunannya akan memegang bendera kebenaran untuk menjaga agama tauhid, batasan akhlak dan kemanusiaan. Salam kepada Fathimah as, wanita terbaik di dunia. Salam kepada manusia paling tercinta oleh Nabi Saw. Salam kepada Fathimah as yang menjadi bukti manusia transenden dan sempurna.

Sepanjang sejarah selalu ada orang-orang yang telah menghiasi dunia dengan cahaya iman, pengabdian dan kesucian mereka, dan terus menyalakan obor hidayah. Sementara itu, tidak hanya para nabi dan wali Allah, tetapi juga para wanita mulia yang telah menerangi alam dunia dan malakut dengan kehadiran spiritual mereka. Termasuk wanita suci ini adalah Asiah, putri Muzahim yang menjadi istri Firaun, Maryam putri Imran, Khadijah putri Khuwailid, dan Fathimah putri Muhammad.

Ibu dari Nabi Maryam as adalah Hannah, seorang wanita mukmin dan menjaga martabatnya, dimana iman dan keyakinannya dalam nazar serta munajat dan doa yang rendah hati di hadapan Allah, "[Ketika Istri Imran berkata]: Ya Tuhanku! Apa yang saya miliki di dalam rahim saya, saya telah bersumpah telah menazarkannya kepada-Mu, ia bebas untuk melayani-Mu. Terimalah dariku karena Engkau Maha Mendengar dan Mengetahui!" Setelah kelahiran bayinya, Hannah menamainya Maryam yang berarti "Wanita Bertakwa," dan menyerahkan ia dan keturunannya kepada Allah agar aman dari godaan jahat setan dan karena nazarnya adalah membiarkannya bebas untuk beribadah dan melayani di Baitul Maqdis, ia diserahkan kepada Nabi Zakariya as agar berada dalam perawatan dan pengawasan ilahinya agar dapat melaksanakan urusan suci melayani di rumah Allah.

Allah dalam surat Ali Imran ayat 37 mengkonfirmasikan telah menerima nazar ibu ini dan mengatakan, "Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya."

Sayidah Khadijah as ketika hamil Fathimah as, seperti ibu Maryam juga bernazar dan mengatakan, "Ya Allah! Saya memiliki seorang bayi di dalam rahimku dan saya membebaskannya demi Engkau." Artinya, saya membebaskannya dan setelah tumbuh dan besar akan melayani masjid hingga akhir hidupnya dan agama akan tetap tegak dan termasuk orang-orang yang beribadah di masjid. Ketika itu Jibril as diperintah Allah untuk turun kepada Nabi Saw dan berkata, "Tidak baik untuk membebaskan sebelum kepemilikan. Anak ini Aku pilih dan serahkan ia kepada-Ku. Ia adalah hamba-Ku dan ibu dari para imam dan Aku membebaskannya dari api neraka."

Sayidah Fathimah as adalah manifestasi keindahan dari kesucian seorang wanita sepanjang sejarah yang melintasi kemanusiaan. Pada hakikatnya, Fathimah adalah seorang manusia sempurna. Bila Allah dalam ayat 42 surat Ali Imran menyebut Maryam as sebagai wanita terbaik di masanya, maka menurut Nabi Muhammad Saw, Sayidah Fathimah yang tidak pernah berbicara yang tidak ada gunanya, sebagai wanita terbaik di seluruh alam semesta (Sayidatu Nisail Alamin). Ketika Nabi Muhammad Saw membandingkan Maryam dengan Sayidah Fathimah as berkata, "Maryam adalah penghulu wanita di masanya, tetapi Fathimah adalah penghulu wanita dua alam dari awal hingga akhir. Ketika ia beribadah di mihrabnya, para malaikat yang dekat dengan Allah menyampaikan salam kepadanya dan berkata, "Wahai Fathimah! Allah telah memilihmu dan mensucikanmu dan mengangkatmua sebagai wanita terbaik di alam." (HR. Bukhari, Shahih Muslim, Thabaqat Ibnu Sa'ad, Bihar al-Anwar dan Musnad Ahmad bin Hanbal)

اِنَّ اللّهَ اصْطَفیکِ وَ طَهَّرَکِ وَاصْطَفیکِ عَلى نِساءِ الْعالَمین

Salah satu gelar Sayidah Zahra as adalah "Muhaddatsah". Beliau disebut Muhaddatsah karena para malaikat turun kepadanya dan berbicara dengannya seperti yang mereka lakukankepada Maryam, putri Imran. Imam Shadiq as berkata, "Sepeninggal Nabi Saw, kesedihan akibat ditinggal ayah telah memenuhi hati Fathimah as. Karena itu, malaikat Jibril as datang kepadanya secara berurutan, memberi ucapan bela sungkawa kepadanya atas duka ayahnya dan mengumumkan status Nabi di sisi Allah, serta apa yang akan terjadi padanya setelah kematiannya." Ali as bertugas menulis apa yang dibicarakan Jibril as kepada Sayidah Fathimah as, sehingga menciptakan koleksi yang dikenal sebagai Mushaf Fathimah. Buku ini berada di tangan Ahlul Bait Nabi Saw, sehingga hari kemunculan Imam Mahdi af dan orang-orang tidak dapat mengaksesnya.

Imam Khomeini ra mengatakan tentang hubungan Sayidah Fathimah as dengan malaikat wahyu, "Dalam tujuh puluh lima hari (setelah kematian Nabi) hubungan Jibril dan kedatangannya sangat banyak dan saya tidak berpikir bahwa kecuali kelas pertama dari nabi besar, malaikat wahyu turun seperti ini dan Imam Ali as sebagai penulis wahyu Rasulullah menuliskannya. Tentu saja wahyu yang berarti ada hukum telah selesai dengan kepergian Rasulullah Saw, tetapi masalah kedatangan Jibril bagi seseorang bukan masalah sederhana. Jangan membayangkan bahwa Jibril datang buat siapa saja dan mungkin untuk datang kapan saja. Ini adalah keseimbangan yang penting antara ruh orang yang akan didatangi Jibril dan posisi Jibril sebagai ruh agung. Saya bahkan belum melihat tentang para Imam tentang masalah ini. Saya tahu martabat dan kebajikan ini di atas semua kebajikan yang telah disebutkan untuk Sayidah Fathimah as, lebih tinggi sekalipun mereka juga punya kebaikan besar."

Dan betapa benar ketika Nabi Muhammad Saw bersabda, "Fathimah bagian dari diriku." Yakni, bukan saja bagian tubuh, tetapi bagian ruh dan sifat Nabi Saw, sebagaimana Maryam adalah bagian dari Nabi Isa as dan Jibril turun kepadanya, padahal ia bukan seorang nabi. Dalam ayat 45 surat Ali Imran disebutkan, "(Ingatlah), ketika Malaikat berkata, "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)." Dan dalam ayat 42 dari surat ini disebutkan,  "Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)."

Pada usia sembilan tahun, Maryam mempersiapkan diri untuk puasa tahunan dan ibadah malam hari. Mengutip dari Imam Baqir as, ketika Maryam berdiri dalam shalat, cahaya wajahnya menerangi mihrabnya. Al-Quran menggambarkan dia sebagai taat dan menjalankan perintah Allah dan mengatakan, "Dia orang bertakwa dan hamba yang taat."

Ibadah dan ketekunan Sayidah Fathimah as selama hidupnya yang singkat telah ditandai dengan melakukan shalat dan doa. Fathimah as, bukan karena dia adalah putri Nabi, tetapi karena dia sangat rajin dalam kepatuhannya dan usaha kerasnya, dan dengan penghambaannya yang tulus, mencapai posisi irfan dan ketaatan kepada Allah. Fathimah as jatuh cinta pada penghambaan kepada Allah, sebagaimana ketika suatu hari Rasulullah Saw berkata kepadanya, "Putriku, pintakan sesuatu kepada Allah, karena Jibril telah menjanjikan akan dikabulkan oleh Allah." Fathimah as menjawab, "Saya tidak punya hajat selain mendapat taufik menghamba kepada Allah."

Hassan Basri yang oleh Ahli Sunnah dikenal sebagai orang yang zuhud dan ahli ibadah berbicara tentang Sayidah Fathimah as, "Sedemikian beribadahnya putri Rasulullah Saw dan beribadah sambil berdiri di mihrabnya, sehingga kakinya bengkak."

Tapi yang paling lugas menjelaskan semua ini adalah malam pernikahannya. Imam Ali as mengatakan, di malam pernikahan, saya khawatir melihat Fathimah. Saya bertanya, "Mengapa engkau kelihatan tidak senang? Fathimah menjawab, 'Wahai Ali! Saya memikirkan diri saya sendiri, tiba-tiba saya teringat kuburan dan akhir dari pekerjaan saya. Hari ini, aku pindah dari rumah ayahku ke rumahmu, dan suatu hari aku akan terbang rumah itu dengan kuburan dan kiamat. Jadi bersumpah pada Tuhan bahwa kita berdiri dalam doa dan menyembah Tuhan bersama malam ini."

Fatima mencapai maqam Shiddiqin berdasarkan ibadah dan penghambaan kepada Allah. Shiddiqin adalah seseorang yang dengan jujur menunjukkan apa yang dia pikirkan dan katakan. Fathimah adalah Siddiqah Kubra, yaitu wanita shiddiqah terbaik.

Di akhir artikel ini, pada peringatan kelahiran Sayidah Fathimah as, kami mengucapkan selamat kepada orang-orang terkasih dan mengirimkan salam, kedamaian, dan berkah yang tulus kepada wanita suci ini. Karena Nabi berkata kepada Fathimah, "Allah akan mengampuni siapa saja yang mengirim salam kepada putriku dan akan bergabung dengan saya, di mana pun saja berada."

Tags

Komentar