Jun 13, 2020 19:19 Asia/Jakarta
  • Bendera Irak
    Bendera Irak

Ketika ancaman terhadap pasukan AS di Irak meningkat, dan hubungan antara Baghdad dan Washington semakin dingin, kedua negara sepakat untuk mengadakan pembicaraan baru, yang dimulai pada 11 Juni. Dalam ulasan ini akan dibahas terkait alasan dan tujuan baru Amerika Serikat dan Irak dalam negosiasi ini.

Ada Apa dengan Negosiasi Baru?

Pertanyaan penting adalah mengapa Irak dan Amerika Serikat memulai negosiasi baru?

Masalah renegosiasi antara Amerika Serikat dan Irak diangkat atas permintaan Amerika Serikat. Pembunuhan Letnan Jenderal Qassem Soleimani, mendiang Komandan Pasukan Quds, Korps Garda Revolusi Islam, Abu Mahdi al-Muhandis, Wakil Ketua mobilisasi rakyat al-Hashd al-Shaabi, dan sejumlah lainnya yang mendampingi oleh pemerintah teroris AS pada 3 Januari 2020, menandai dimulainya peningkatan tekanan dan ancaman terhadap pasukan AS di Irak.

Kedutaan Besar AS di Baghdad

Sebagai akibat dari tindakan teroris ini, tidak hanya serangan rudal Republik Islam Iran di pangkalan AS di Ain al-Assad, Irak, dan menghancurkan kemegahan militer Washington, tetapi kehadiran pasukan AS di Irak juga sangat terancam oleh berbagai kelompok Irak. Amerika Serikat akhirnya terpaksa menutup sejumlah pangkalan militernya di Irak dan memindahkan pasukannya ke pangkalan yang lebih besar. Sekalipun demikian, kebencian terhadap Amerika Serikat tidak berakhir dengan penutupan beberapa pangkalan, tetapi rakyat dan berbagai kelompok politik Irak menekankan penarikan pasukan AS dari negara itu. Tekanan pada militer AS di Irak telah mendorong Washington untuk melanjutkan pembicaraan dengan Baghdad.

Amerika Serikat berupaya mengalihkan tekanan terhadap pasukannya di Irak kepada pemerintah negara ini.. Irak saat ini menghadapi beberapa masalah penting. Irak secara politis menghadapi masalah struktural, yaitu struktur politik etnis dan kesukuan, dan ini khususnya terbukti dalam proses pencalonan perdana menteri baru negara itu selama enam bulan terakhir. Negara ini dari sisi ekonomi menghadapi pertumbuhan kemiskinan dan pengangguran, yang merupakan salah satu alasan utama protes Oktober terhadap pemerintah Adel Abdul-Mahdi.

Penurunan tajam harga minyak dan penurunan pendapatan ekonomi, serta penyebaran wabah Corona, yang telah menutup banyak pekerjaan, juga berkontribusi terhadap masalah ekonomi Irak yang terus meningkat. Dalam hal keamanan, meskipun protes telah berhenti, ada kemungkinan bahwa protes akan dilanjutkan, terutama saat musim panas mendekat dan cuaca memanas.

Sadar akan situasi di Irak, pemerintah AS menawarkan negosiasi baru untuk mengambil keuntungan dari situasi tersebut demi mendapatkan lebih banyak konsesi dari Baghdad dan mengurangi tekanan pada pasukannya. Karena itu, negosiasi Washington dengan Baghdad adalah "negosiasi di bawah tekanan". Amerika Serikat menandatangani perjanjian baru dengan Irak pada 2014 dengan menduduki bagian-bagian Irak yang sebelumnya diduduki oleh kelompok teroris Daesh (ISIS) dan sekarang dengan memanfaatkan ancaman bersamaan politik, ekonomi dan keamanan negara ini.

Haidar Arab al-Musawi, analis politik Irak menyakini, "Washington telah memilih untuk bernegosiasi untuk mengambil keuntungan dari situasi saat ini dan tekanan pada Irak dan pasukan nasionalnya, terutama ancaman keamanan dan krisis ekonomi serta penyebaran wabah Corona."

Tujuan Negosiasi Amerika Serikat

Pertanyaan penting lainnya adalah apa tujuan Amerika Serikat dan Irak dalam negosiasi baru? Pemerintah AS mengejar banyak tujuan dalam negosiasi.

Bendera Irak

Pertama, tujuan terpenting Amerika Serikat dalam negosiasi baru dengan Irak adalah untuk mendapatkan legitimasi berkelanjutan untuk tetapi hadir di Irak. Kehadiran militer AS di Irak telah meningkatkan protes rakyat dan kelompok-kelompok Irak, dan warga Irak menganggap kehadiran ini sebagai contoh pendudukan dan campur tangan dalam urusan dalam negeri negara ini. Dengan negosiasi baru, Amerika sekarang berusaha mendapatkan konsesi seperti memastikan kesehatan militer, keamanan kedutaan, dan keamanan perusahaan-perusahaan Amerika.

Memperoleh konsesi semacam itu dari sudut pandang Washington merupakan legitimasi dari keberlanjutan kehadiran di Irak. Karena itu, sementara beberapa sumber mengatakan bahwa pengembangan kerja sama politik dan hubungan ekonomi adalah salah satu tujuan dari negosiasi ulang AS dengan Irak, Washington sedang mengusahakan perjanjian keamanan baru dengan Baghdad dan "mengubah" kehadiran militer AS di Irak.

Kedua, Amerika Serikat berusaha untuk "menghalangi warga Syiah yang percaya pada perlawanan", dan di puncaknya adalah menghapus al-Hashd al-Shaabi dari struktur kekuasaan politik atau mengurangi kehadiran mereka. Washington sedang bekerja keras untuk mendatangkan generasi baru para pemimpin politik di Irak atau untuk memastikan bahwa Syiah adalah sekuler dan tergantung pada Amerika Serikat. Dalam negosiasi baru, Amerika sedang mempertimbangkan masalah ini, bahkan jika tidak ada berita atau laporan yang diterbitkan tentang hal itu.

Ketiga, dalam negosiasi baru, Amerika Serikat berusaha menekan Irak untuk mendefinisikan kembali hubungan dengan Republik Islam Iran. Dari sudut pandang Washington, sebelum jatuhnya rezim Baath pada 2003, Iran menghadapi tantangan dan ancaman rezim Baath, dan setelah 2003, dikhawatirkan Irak akan menjadi pangkalan Amerika, tetapi sekarang Republik Islam Iran bukan hanya tidak mendapat ancaman dari pihak Irak, tetapi justru mengejar hubungan dengan negara ini. Baghdad dan Tehran memiliki hubungan yang tumbuh dan damai. Dalam negosiasi baru dengan Irak, Amerika Serikat berusaha menekan pemerintah Irak untuk mengurangi hubungannya dengan Republik Islam Iran.

Tujuan Irak dalam Negosiasi

Pertanyaan lain adalah apa tujuan Irak dalam negosiasi baru dengan Amerika Serikat? Tim perunding Irak tampaknya mengangkat masalah kehadiran pasukan AS di tanah Irak. Karena ancaman daesh di Irak telah sangat berkurang, masalah kehadiran pasukan AS di Irak praktis tidak ada artinya. Jika tim perunding Irak bersikeras penarikan pasukan AS, Washington dapat menempatkan sanksi baru pada Irak dalam agenda dan memperburuk masalah ekonomi negara itu.

Mustafa al-Kadhimi, Perdana Menteri Irak

Dengan demikian, pemerintah Irak tampaknya mengejar setidaknya pengurangan jumlah pasukan AS di Irak untuk mengurangi ketegangan internal, terutama yang datang dari kelompok-kelompok perlawanan. Seorang pejabat Irak mengatakan bahwa menjelang perjanjian strategis, Amerika Serikat telah memasukkan pengurangan kehadiran militernya di Irak, tetapi rincian pengurangan itu tidak jelas.

Selain itu, pemerintah Irak, yang menghadapi masalah ekonomi yang semakin meningkat, berusaha mendapatkan konsesi ekonomi dalam negosiasi dengan Amerika Serikat. Dana Moneter Internasional memperkirakan bahwa Irak akan menghadapi pertumbuhan ekonomi negatif sebesar 4,7 persen tahun ini, defisit anggaran $ 39 miliar (setara dengan 22 persen dari total PDB), dan utang bruto pemerintah akan hampir dua kali lipat menjadi 143 miliar dolar (setara dengan 82% dari total PDB). Mustafa al-Kadhimi dapat memenangkan pemilihan parlemen Irak berikutnya dan kembali menduduki jabatan perdana menteri ketika dapat meringankan kesengsaraan ekonomi negara itu. Oleh karena itu, mendapatkan manfaat ekonomi adalah salah satu tujuan pemerintah Irak untuk melakukan negosiasi ulang dengan Amerika Serikat.

Tags