Okt 17, 2021 17:56 Asia/Jakarta
  • Milad Nabi Mulia dan Pekan Persatuan Islam (2)

Kebesaran dan kejayaan suatu bangsa tergantung pada persatuan dan solidaritas mereka. Sejak Nabi Muhammad SAW memimpin masyarakat Islam, beliau menjadi simbol persatuan umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Rasulullah SAW menghilangkan hambatan persatuan seperti diskriminasi rasial, hegemoni dan etnosentrisme dengan berbagai cara dan membangun persatuan dalam arti umum di tengah masyarakat. Rasulullah SAW mengumpulkan suku dan kelompok di kota Madinah di bawah payungnya dengan langkah-langkah yang tepat.

Agama Islam memiliki rencana dan tujuan yang luhur untuk meningkatkan tingkat intelektual dan budaya masyarakat. Program-program ini membutuhkan organisasi yang koheren dan kode etik yang ditulis dengan baik untuk diterapkan. Jika bukan karena kehati-hatian, kebijaksanaan dan ketepatan tindakan Nabi, mungkin pemerintahan Islam tidak akan terwujud sesuai yang diinginkan.

Salah satu kendala dalam perjalanan Nabi adalah kurangnya struktur yang koheren dalam masyarakat saat itu. Setiap suku dan klan memiliki aturan dan adatnya sendiri, dan ada banyak kontradiksi dan perbedaan di antara suku-suku tersebut. Dalam keadaan seperti itu, Nabi Muhammad SAW, dengan taktik yang diperhitungkan dengan baik, mengusulkan ketentuan bahwa "Sesama Muslim adalah saudara"

Dengan menciptakan kesatuan sosial, beliau mendobrak batas-batas suku dan etnis. Rencana Nabi ini berdampak besar bagi masyarakat pada masa itu, sehingga penduduk Madinah, yaitu Ansar, berjabat tangan hangat dengan para muhajirin Mekkah.

 

 

Pada masa awal Islam, masjid memainkan peran konstruktif dalam kekuatan masyarakat Islam, persatuan, empati dan solidaritas umat. Selama pembangunan masjid, persatuan, kerukunan dan partisipasi publik mengkristal. Semua Muslim berpartisipasi dalam pembangunan dan penyediaan bahan bangunan. Bahkan Nabi Muhamamd SAW membawa batu seperti Muslim lainnya. Asir Ibn Safir maju ke depan dan berkata, "Ya Rasulullah, izinkan aku mengambil batu itu,". Beliau menjawab, "Silahkan angkat batu lain, batu ini akan aku angkat sendiri,”. Langkah Nabi ini memberikan teladan terbaik.

Masjid adalah rumah Allah, tempat beribadah, pusat pemersatu ummat Islam dan pusat perhatian berbagai masalah masyarakat Islam. Tidak diragukan lagi, tidak ada agama yang menjadikan tempat ibadah memiliki peran begitu menonjol sebagaimana masjid dan tindakan pertama Nabi adalah membangun masjid di Madinah. Masjid adalah tempat berkumpulnya umat Islam tiga sampai lima kali sehari, dan sepekan sekali pada hari Jumat menjadi tempat berkumpul terbesar umat Islam.

 

 

Ketika kita berbicara tentang persatuan umat Islam, kami tidak berpikir bahwa umat Islam tidak boleh berbeda pendapat tentang apa pun, atau  semua umat Islam harus hidup di bawah satu pemerintahan dan satu undang-undang, maupun menjadikan keragaman bahasa dan keragaman ras menjadi satu. Sebab kesatuan seperti ini bertentangan dengan sunah ilahi dan kodrat manusia sendiri.

Persatuan umat Islam maksudnya semua aliran dalam Islam, meskipun berbeda secara bahasa, ras, teritorial, dan ideologis dan masing-masing memiliki karakteristik dan perbedaan khusus, mencapai satu harmoni yang disatukan oleh kesamaan-kesamaannya di bawah naungan Tauhid dengan mengikuti jalan sang Nabi agung.

Umat ​​Islam yang mengikuti ajarab Rasulullah Saw, menjadi pelopor ilmu pengetahuan, peradaban dan kemajuan manusia selama beberapa abad. Keberadaan Nabi besar Islam telah menjadi urat nadi dan persatuan umat Islam di berbagai era. Bahkan hingga hari ini, kepribadian agung ini menjadi poros kekuatan pendorong persatuan Muslim di dunia. 

 

 

 

Nabi Muhammad SAW adalah Penutup para nabi dan yang terbaik dari mereka. Beliau adalah model kepribadian manusia yang seimbang dan sempurna. Semua manusia memiliki potensi untuk mencapai kesempurnaan. Tetapi pemupukan esensi kemanusiaan tergantung pada keselarasan seseorang dengan asal mula kesempurnaan. Semakin kuat hubungan seseorang dengan Tuhan, maka semakin besar tingkat kesempurnaannya. Sebab kehormatan dan kesempurnaan hanya di sisi Tuhan.

Nabi Islam, yang merupakan contoh dari kepribadian transenden, menyelaraskan dirinya dengan asal mula kesempurnaan dan melangkah lebih jauh, bahkan memimpin para malaikat yang paling dekat dengan Tuhan. Rasulullah SAW dengan mukjizat besar Al-Qur'an, membawa ritual hidup dan menarik yang selaras dengan sifat manusia dan memenuhi kebutuhannya di setiap zaman dan waktu.

Konsep-konsep seperti kebebasan, kemanusiaan, kasih sayang, dan hak asasi manusia, diwarnai dan dibuat bermakna oleh upaya Nabi Islam. Pesannya adalah persahabatan dan persaudaraan serta penegakan keadilan di antara manusia yang lestari selamanya. (PH)

Tags